Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 42


__ADS_3

Eby nampak terlelap di kursi belakang. Di sampingnya berjejer beberapa tas belanja dari salah satu pusat perbelanjaan yang lokasinya tidak jauh dari pasar malam, tempat mereka makan beberapa saat lalu.


Sesekali Tama melirik ke belakang. Pemuda itu merasa kasihan, namun tidak tahu harus berbuat apa untuk sang kakak.


"Kenapa liatin kakakmu seperti itu?" tanya Harry, saat melihat kegelisahan Tama.


"Aku kok khawatir, yang mas. Mba Eby orangnya introvert soalnya. Sekarang dia mendadak jadi ceria dan banyak omong, aku takut dia depresi, mas."


Harry tersenyum tipis.


"Pikiranmu kejauhan, Ma. Nggak mungkin kakakmu sampai begitu," sanggah Harry.


"Tapi sikapnya itu, beda banget mas. Beberapa waktu belakangan, dia itu lebih banyak diam, dan melamun. Mengurung diri di kamar, aku bahkan sering menyusulnya di pantai malam-malam. Takut dia kenapa-kenapa, soalnya."

__ADS_1


"Wajarlah, kan dia sedang patah hati. Pasti ingin suasana sunyi, tenang, agar bisa menata hatinya. Atau agar bisa bebas menangis. Dan mungkin sekarang, waktunya dia meratap sudah habis. Orang patah hati kan ada fase-fasenya. Fase dia menangis, menyangkal, marah, lelah, pasrah, dan akhirnya menerima. Mungkin Eby termasuk orang yang cepat dalam menjalani proses itu," terang Harry.


"Iya kali ya, mas?" sahut Tama, yang tidak terlalu faham prihal asmara dan patah hati.


Ia kembali melirik Eby, yang posisi tubuhnya masih belum berubah. Wanita itu masih betah mengurai mimpi yang entah apa. Bahkan kemacetan tidak mampu menganggu tidurnya.


Jam menunjuk angka setengah dua belas malam, ketika mobil milik Harry tiba di garasi kostan. Eby baru membuka mata, saat sepupunya itu mematikan mesin mobil.


"Udah sampe ya?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.


Tama yang juga merasa lelah, tidak banyak bicara. Pemuda itu hanya membantu sang kakak mengangkat barang bawaan, tanpa mengatakan apapun.


"Ma, kamu tidur di sini aja ya, sama mba," ucap Eby saat mereka sudah berada di dalam kamar.

__ADS_1


"Tidur sama aku aja, Ma. Masa udah besar minta dikelon?" ejek Harry. Laki-laki itu terlihat masih segar, meski waktu sudah menuju tengah malam.


"Nggak enak sama temenmu, masa numpang nggak kira-kira?"


"Nggak pa-pa, udah yuk!" Harry menarik tangan Tama yang juga terlihat ragu. Mereka meninggalkan Eby sendiri di dalam kamar.


Eby menghempaskan tubuhnya setelah mengunci pintu. Matanya sudah tidak mengantuk lagi, sebab baru saja terjaga. Ia merasa aneh, untuk pertama kalinya ia tidur dengan nyenyak, meski dalam kondisi yang kurang nyaman.


Apakah mencoba berdamai dan merelakan, mampu memberi pengaruh dengan tidurnya?


Iya, diperjalanan saat kembali dari kostan Santi, Eby terus merenung mengenang apa yang sudah terjadi dalam hidupnya. Ia lantas mengingat sang sahabat, yang terlihat bahagia, meski hidup dalam kesederhanaan. Segala bentuk kenangan melintas, menari di kepalanya. Bagaimana hidupnya dulu hingga kini, bagaimana kehidupan Santi yang dulu dan sekarang. Semua memori yang terulang, membawanya pada satu kesadaran, bahwa takdir Tuhan tidak akan dapat ia hindari. Langkahnya hingga sampai di titik ini, adalah karena garis yang sudah Tuhan tetapkan untuknya. Sehebat apa dia mampu menghindar?


Pemahaman itu yang membuatnya mencoba merelakan dengan sepenuh hati. Meratap terlalu lama juga tidak akan membuat semua kembali seperti sedia kala. Jadi untuk apa?

__ADS_1


Itulah kenapa Eby akhirnya memutuskan untuk membuka mata dan pikiran, melihat dari sudut berbeda, meyakinkan diri bahwa dunianya masih utuh saat ini. Bumi tak akan runtuh hanya karena dia patah hati. Dan waktu terus melaju, tak sudi menunggu ia berdamai dengan pilu.



__ADS_2