
Eby melajukan motornya menuju kost sang sahabat. Hari sudah sore, jalanan sedikit macet, namun tidak mengurangi semangatnya bertemu Santi.
Ibu muda satu putri itu baru saja menghubunginya meminta wanita itu untuk datang.
Setelah berkutat dengan macet selama lebih dari tiga puluh menit, Eby akhirnya sampai di kostan sang sahabat.
Seorang bayi gembul dengan bandana pink, menyambut kedatangannya. Eby sejenak lupa dengan kegelisahan yang menyapa, saat anak sahabatnya itu begitu girang, meloncat-loncat dari gendongan bundanya saat melihat dia membuka helm.
"Girang banget Aka liat onty nya," ucap Santi memerhatikan sang buah hati yang tertawa riang menunjukkan gigi-gigi kecilnya.
"Iya donk ... Kan Aka anak cantiknya onty, ya sayang ya," sahut Eby sibuk menggoda bayi bernama Biyanca itu dari belakang.
Mereka masuk ke dalam kamar kost yang disewa Santi dan sang suami.
"Mas Darma mana, San?" tanya Eby saat menyadari suami sahabatnya itu tidak ada di sana.
"Lagi keluar, paling bentar lagi dateng," sahut Santi.
"Mau makan sekarang?" tanya Santi lagi, setelah memberi Eby beristirahat sejenak.
"Tungguin mas Darma dulu lah, masa tuan rumahnya ditinggal?" tolak Eby. Meski ia sudah merasa lapar, namun rasanya kurang etis jika mendahului menyantap hidangan tanpa menunggu pemiliknya.
"Mas Darma udah makan tadi, mangkanya aku telepon kamu, gegara liat dia makan kayaknya enak bangeet," sahut Santi lagi.
"Ooh, ok deh. Kebetulan aku udah laper juga," ucap wanita itu tersenyum kuda.
"Ish, dasar. Kayak sama siapa aja, pake jaim segala," sungut Santi.
Eby datang karena undangan sang sahabat, yang memintanya membantu menghabiskan makanan kesukaan mereka, yaitu bubur mengguh.
__ADS_1
Eby yang tidak memiliki kegiatan apapun, dan juga merasa bosan berdiam diri sejak pagi, akhirnya datang memenuhi undangan sang sahabat.
Bubur khas Bali Utara itu, memang tidak pernah gagal membuat Eby ketagihan. Cita rasa yang kaya rempah, kaya sayuran, juga rasa pedas serta manis dari kecap yang sengaja ia tuangkan di atasnya, membuat Eby terlihat seperti orang kelaparan selama berminggu-minggu. Apalagi Santi dengan telaten melayani sahabatnya. Mengambilkan kerupuk, menyiapkan air putih, membuat Eby yang saat ini hidup sendiri merasa sangat bahagia.
"Mau lagi, By?" tanya Santi saat melihat piring Eby sudah bersih.
"Udah, kenyang banget aku. Nggak sanggup nampung lagi," ucap wanita itu sambil mengelus perut. Ia sampai menyandarkan punggungnya ke tembok, guna melegakan ususnya mencerna makanan dengan lebih baik.
Sang sahabat terkekeh geli. Eby terlihat rakus jika sudah bertemu dengan makanan kesukaan, namun sangat sulit makan jika tidak sesuai dengan seleranya. Itu adalah sifat Eby sejak mereka masih duduk di bangku SMA.
Biyanca yang di letakkan di atas kereta bayi, mulai merengek bosan. Santi dengan sigap mengangkat buah hatinya lalu menggendong bayi itu.
"Ngantuk nggak sih, dia itu San?" tanya Eby memerhatikan mata Biyanca yang berair.
"Mhm. Biasa kalau udah mandi, trus maem, habis itu pasti langsung tepar dia," ucap Santi masih menimang anaknya.
Eby memerhatikan dengan perasaan iri. Ia berpikir kapan dirinya akan menjalani hidup penuh warna seperti Santi?
Sekitar sepuluh menit, Eby berada di luar, tepatnya di tempat parkir. Setelah itu ia kembali ke dalam kamar milik Santi, dengan raut wajah tak bisa ditebak.
"Siapa, By?" tanya Santi penasaran.
"Temen, " sahut Eby lesu.
"Ada apa? Kok mukamu kusut gitu?"
Eby mendesah, sesaat melirik sang sahabat yang masih setia menepuk punggung bayinya.
"Aku nggak habis pikir aja, San. Kok gampang banget ya orang memutuskan menikah dengan seseorang dengan latar belakang budaya dan agama yang beda? Apa mereka nggak kasihan sama keluarganya?" ucap Eby dengan tatapan menerawang.
__ADS_1
Ia mengingat Ratih yang baru saja meneleponnya. Sahabatnya saat di Turki itu, memberi kabar jika dia sudah berada di bandara dan sudah dijemput oleh keluarganya.
"Namanya juga jodoh, By. Kita nggak pernah tau kemana garis takdir menyeret kita. Kamu ngomong gini, karena kamu belum mengalaminya. Coba nanti kamu ketemu orang yang pas, meski berbeda pasti akan kamu perjuangkan nantinya," sahut Santi.
"Nggak lah! Aku nggak ada niat untuk ke arah sana lagi, San" sanggah Eby lantang.
"Jangan ngomong sembarangan! Bisa jadi perasaanmu itu berubah. Jangan sampai kamu jilat ludahmu sendiri." Nasihat Santi menatap sang sahabat yang duduk lesehan kembali di tempat sebelumnya.
"Bener, San. Aku nggak ada niat untuk menjalin hubungan lagi, rasanya malas aja. Eh! Aku baru ingat, kemarin aku sempet mimpiin William," ucap Eby yang langsung mendapat respon terkejut dari Santi.
"Hah! Mimpi apa?" tanya Santi, membenarkan posisi duduknya.
Eby nampak berpikir, bingung mau memulai cerita dari mana.
"Aku lupa persisnya, yang aku ingat cuman saat dia minta aku kembali. Tapi aku nolak, trus dia seret aku. Tatapan matanya nakutin, tau San. Baju yang dia pake lusuuuh banget. Trus matanya cekung, pokoknya beda banget sama dia yang dulu," cerita Eby.
Santi nampak berpikir, wajah ibu satu anak itu terlihat serius.
"Apaa jangan-jangan selama ini William masih mikirin kamu, ya By?"
"Ntahlah. Tapi aku nggak peduli lagi, San. Aku udah nggak mau tau lagi soal dia,"
"Tapi kalau misal dia datang minta kamu kembali, gimana By?"
"Tentu lah aku nggak mau! Enak aja! Aku udh nyaman dengan kesendirianku ini, San. Tenang, tanpa ada gangguan," ucap Eby menutupi ras kesepiannya selama ini.
Santi mendekati sang sahabat. Mengusap bahu Eby dengan lembut.
"Jangan terlalu keras sama diri kamu sendiri, By. Jangan selalu berpura-pura ok, tapi pada kenyataannya kamu tidak sedang baik-baik saja," nasihat Santi.
__ADS_1
Eby tidak tau harus menjawab apa. Ingin membantah, namun yang bicara adalah Santi. Sahabat masa SMA yang mengenalnya bukan hanya setahun dua tahun lamanya. Bahkan Eby merasa, Santi jauh lebih mengenalnya dibanding dirinya sendiri.