
Eby meringkuk menggunakan selimut tebal di dalam tendanya. Ia sudah seperti kepompong, yang menggulung seluruh tubuh dan hanya menyisakan sedikit saja lubang udara di area wajahnya, demi mendapatkan udara untuk bernafas.
Ponsel yang tengah ia isi daya di atas meja, berulang kali bergetar, tapi sengaja ia abaikan. Ia ingin memanjakan rasa malasnya hari ini. Ia tidak ingin diganggu oleh siapapun.
"Sweety, boleh aku masuk?" Suara berat yang tidak asing di telinganya, terdengar dari luar tenda.
"Masuklah!" Eby yang malas bergerak, menjawab dari balik selimut. Ia tidak khawatir lagi berdua di satu tenda dengan Murat saat ini. Toh ini sudah subuh, dan ia juga sudah percaya jika Murat bukan laki-laki meesum yang akan melakukan hal tidak sopan terhadapnya.
"Astagaa, kamu ngapain?" Murat terkejut melihat penampakan Eby saat ini. Laki-laki itu tidak bisa menahan kekehannya, merasa lucu dengan kelakuan Eby. Ia menarik ujung selimut di kaki wanita mungil itu.
"Dingin, Murat. Aku nggak kuat. Rasanya tulangku semua pada protes karena kesakitan," keluh Eby mengeratkan selimutnya.
"Ini tidak sedingin musim salju di Eropa, kenapa kamu berlebihan sekali?" Laki-laki itu kembali mengganggu Eby yang enggan membuka mata. Kembali ditariknya selimut yang menggulung tubuh wanita itu. Kali ini dengan tenaga yang lebih kuat lagi.
"Muraaat, please jangan gangguuu. Aku baru habis dari toilet, kaki aku masih berasa sakit sangking dinginnya udara di luar," rengek Eby, dengan terpaksa membuka mata.
"Ini sudah pagi, Eby! Ayo bangun, jangan malas! Kita cari sarapan sambil lihat sunrise," ajak laki-laki itu menarik tangan Eby.
"Kamu saja, nanti aku sarapan dengan mie instan aja," tolak Eby, menarik kembali selimut yang teronggok di ujung kakinya.
"Bangun atau aku cium?" Ancam Murat berbisik di telinga Eby. Sontak saja mata wanita bertubuh mungil itu membulat. Ia bangkit dengan wajah kesal.
Atas bujukan Murat, akhirnya Eby mau bersiap untuk pergi ke luar tenda meski harus menggunakan celana jins serta kaos kaki. Tentu jaket serta topi tidak boleh ketinggalan menemani perjalanan mereka menuju salah satu kafe terkenal di daerah tersebut.
__ADS_1
Murat kembali tertawa tipis ketika menoleh ke arah Eby yang duduk di sampingnya.
"Fokus, Murat. Perhatikan jalan, jangan terus ngetawain aku!" Eby melirik sinis ke arah laki-laki yang tengah mengemudikan mobil.
"Sorry, aku nggak bermaksud menertawakan kamu. Tapi lucu aja, kamu katanya tinggal lama di Turki, suhu udara di sana kan lebih ektrim dari ini, kamu betah-betah aja. Tapi sekarang, ini hanya 16°c kamu sudah menggigil kayak orang lagi di Kutub Utara,"
"Bedalah. Pengaruh pikiran besar banget efeknya. Aku di sana untuk berjuang, sementara di sini aku liburan. Mode lemah lagi on. Lagian juga, kalau di luar kan perubahannya nggak ekstrim dari panas langsung ke dingin. Ada proses musim gugurnya dulu, penyesuaian suhu." Eby membela diri dengan jawaban asal.
"Percayaaa," sahut Murat dengan ekspresi bertolak belakang dengan ucapannya.
Eby tidak peduli dengan wajah menyebalkan Murat. Ia memilih menikmati keindahan alam yang sudah mulai nampak, meski hari belum terlalu terang.
Dengan tangan saling bertaut, dua anak manusia itu memasuki salah satu kafe yang sangat terkenal dengan panorama matahari terbitnya.
Murat sengaja memilih tempat duduk outdoor demi dapat melihat pemandangan alam yang menakjubkan, berharap bisa membuat Eby tersenyum dengan usaha yang ia lakukan.
Di depan sana, matahari baru muncul di antara dua gunung yang nampak saling berdampingan. Awan putih setinggi pinggang gunung, menutupi kaldera yang ada di bawahnya, seperti bentangan permadani yang memanjakan mata.
"Suka?" tanya Murat saat melihat wajah takjub Eby yang kentara. Mereka masih berdiri menikmati keindahan alam.
"Hmm," sahut wanita itu dengan senyum manis menghiasi bibirnya.
__ADS_1
"Bagus banget, aku berasa ada di atas awan," lanjutnya, sembari menatap Murat yang berdiri di sampingnya.
"Syukurlah kalau kamu suka." Murat mengusap rambut yang masih tertutup topi tersebut. Eby tidak menolak perlakuan laki-laki itu. Ia mulai terbiasa dan merasa nyaman dengan perlakuan atasannya.
"Permisi," seorang pelayan kafe datang menghampiri mereka.
Murat dan Eby segera duduk di kursi yang sudah mereka pesan. Tersenyum ramah pada pelayan yang menghidangkan menu sarapan untuk mereka, dan tidak lupa mengucapkan terima kasih setelah semua menu terhidang di atas meja.
Mereka berdua menikmati sarapan dengan santai. Rasa dingin yang Eby rasakan perlahan menghilang, seiring hembusan angin yang membawa pergi awan tebal di depan sana.
"Wow!" Lagi-lagi Eby terpukau dengan pemandangan di depan matanya. Ia seolah tengah menyaksikan sebuah pertunjukan mengagumkan, yang dipentaskan oleh seniman profesional.
"Hampir seperempat abad aku hidup, baru kali ini aku benar-benar menikmati yang namanya liburan. Makasih Murat, kamu memberikan aku pengalaman luar biasa dalam hidupku," ucap Eby penuh haru.
"Benarkah? Selama ini kamu nggak pernah liburan?" Murat tidak percaya dengan apa yang Eby ucapkan.
Eby menggeleng. "Aku bukan orang kaya yang bisa kemana-mana dengan sesuka hati, Murat. Tempat seperti ini, terlalu mewah untukku. Tempat liburanku hanyalah pantai dan taman yang biaya tiketnya murah kalau perlu gratis." Eby tersenyum getir menjawab pertanyaan Murat.
"Maaf, aku nggak bermaksud membuat kamu tersinggung,"
"Nggak apa-apa. Aku nggak tersinggung, kok. Memang begitu faktanya," sahut Eby lagi.
Merek tidak lagi saling berbincang. Keduanya sama-sama asyik menikmati hidangan yang memanjakan lambung , dan pemandangan alam yang memanjakan mata.
__ADS_1