Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 79


__ADS_3

Cukup lama mereka berdua duduk di luar tenda, berbincang banyak hal tentang kehidupan Eby. Hingga api unggun yang menjadi penghangat tubuh keduanya, kini hanya menyisakan bara yang semakin mengecil.


Semua makanan pun sudah berpindah ke lambung mereka masing-masing, tidak ada sisa sama sekali. Mungkin karena suhu udara yang dingin, sehingga semua terasa enak untuk dinikmati.


Eby menggosok telapak tangannya yang mulai kesemutan. Ia sudah tidak bisa lagi mengandalkan api di depannya untuk memberi kehangatan.


"Kamu kedinginan?" tanya Murat sembari memerhatikan gerakan tangan Eby.


"Iya," sahut Eby dengan meringis. "Apinya udah mati, jadi berasa banget udara dinginnya," lanjut wanita itu lagi sembari memeluk tubuhnya sendiri.


"Masuk ke tenda, sana. Langsung istirahat. Ada penghangatnya kan di dalam?" titah Murat.


Eby mengangguk, membenarkan ucapan Murat. Namun tubuhnya masih terkunci, tidak bergerak sama sekali. Entah kenapa ada rasa enggan menghampiri hatinya, untuk meninggalkan Murat sendirian di tempat itu.


"Kamu sendiri? Masih mau di sini" tanya wanita itu.


"Aku juga mau ke tenda. Nggak mungkin duduk di sini sendirian kan?" sahut Murat terkekeh.


Beberapa menit berlalu, Eby masih diam, begitu pun Murat yang menunggu wanita di sampingnya untuk bangkit lebih dulu.

__ADS_1


"Hei, kenapa masih bengong? Katanya dingin. Masuk sana!" Sekali lagi Murat meminta Eby untuk kembali ke tenda.


Dengan berat hati wanita itu bangkit. Diikuti oleh Murat yang juga melakukan hal yang sama.


"Aku masuk dulu ya," ucap Eby berpamitan.


"Iya. Selamat beristirahat ya," sahut Murat, sembari menatap Eby dengan lembut.


"Makasih," ucap wanita itu lagi. Ia membalas tatapan Murat dengan tatapan yang sama. Ada rasa berbeda yang Eby rasakan saat ini. Ada gelenyar aneh yang meriap menghampiri hatinya.


"Makasih untuk apa?" tanya Murat.


Mereka berdua sudah sama-sama berdiri dengan jarak yang hanya sejengkal.


Murat salah tingkah mendapat senyuman manis Eby. Ia mengusap tengkuknya yang tiba-tiba meremang.


"Iya, sama-sama," sahut laki-laki itu akhirnya.


Eby melangkah pelan meninggalkan Murat. Sesekali ia menoleh ke belakang, dan tersipu saat pandangannya kembali beradu dengan mata kelam atasannya itu.

__ADS_1


"By!" Murat berjalan dengan langkah lebar menghampiri Eby yang sudah bersiap masuk ke dalam tenda.


Wanita itu mengurungkan niatnya dan menoleh kembali.


Tanpa aba-aba Murat langsung meraih tubuh mungil Eby, dan membawa ke dalam pelukannya. Murat menatap wajah sendu milik Eby dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan. Mengusap lembut bibir tipis wanita itu, dan perlahan mendekatkan bibir tebal miliknya. Keduanya saling bertaut, lidah mereka saling membelit, tak peduli saat ini mereka masih berada di luar tenda. Hingga sebuah tepukan kecil di pundaknya, mengejutkan Murat.


"Maaf tuan, apa saya sudah boleh membereskan semuanya?" Seorang staf laki-laki berdiri di sampingnya, membuat Murat terperanjat.


"Oh ****!" umpat Murat saat menyadari ia masih berdiri di tempatnya semula. Rupanya apa yang terjadi beberapa saat lalu hanya permainan imajinasinya. Ia tidak benar-benar mendekati Eby, apa lagi berbagi saliva dengan wanita itu. Matanya menatap nanar pada tenda milik Eby yang sudah tertutup rapat.


Staf glamping yang berdiri di sampingnya menunduk, dengan kedu tangan saling bertaut. Mungkin pemuda itu takut karena mengira Murat tengah mengumpatnya.


"Maaf kalau saya mengganggu kenyamanan Anda, Tuan." Dengan ragu staf itu berucap.


"Oh, tidak, tidak apa-apa. Silahkan dilanjutkan," Murat bergeser sedikit, menggerakkan tangan mempersilahkan staf tersebut melanjutkan tugas. Ia pun melangkah menuju tenda miliknya yang bersebelahan dengan milik Eby. Kali ini ia benar-benar menggerakkan kakinya, bukan hanya sekadar imajinasi.


Murat merutuki pikiran kotornya, yang begitu liar menginginkan Eby. Dan merasa malu akan hal itu. Ia membolak balikkan tubuhnya mencari posisi tidur terbaik, tapi nihil. Matanya tidak mau terpejam sama sekali. Pikirannya terus berpusat pada Eby.


"Huuh," dengusnya, mengusap wajah dengan kasar. Merasa gelisah dan tidak tahu harus melakukan apa.

__ADS_1


Di tenda berbeda, hal yang sama juga Eby rasakan. Ia merasa geli sendiri menyadari perasaan yang menyapanya kini. Ada sesuatu yang tidak dapat ia sangkal saat ini. Perasaan yang muncul tanpa permisi, membuat hatinya dilema.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tidak mungkin aku menjilat ludahku sendiri, bukan?" lirihnya menatap langit-langit tenda dengan tatapan kosong.


__ADS_2