Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 35


__ADS_3

Ketukan pintu menghentikan gerakan tangan Eby, yang masih sibuk menyiapkan makan siang untuknya dan sang ayah.


"Siapa sih, Nek? Tumben ada tamu?" tanyanya pada sang nenek yang juga membantunya di dapur.


"Coba kamu liat dulu, siapa tau dagang emas." sahut wanita yang rambutnya sudah memutih tersebut.


Eby mencebikkan bibirnya, ingin menyangkal. Namun ia menahan diri untuk bicara, sebab tidak ingin melukai hati neneknya.


Orang tua jaman dulu, memang sering kali seperti itu. Selalu memiliki pikiran nyeleneh, yang sering berbenturan dengan pola pikir anak muda jaman sekarang.


"Hai," senyum manis Harry menyapa di depan pintu, begitu Eby membukanya.


"Lho, kamu di rumah? Kirain di kota," Eby menyambut kedatangan sepupunya dengan tanya, membuat Harry kesal.


"Diajak masuk kek dulu, disiapin minum, makan, baru ditanya-tanya." sungut laki-laki itu.


"Hehehe sorry, lupa. Masuk dulu. Aku sama nenek lagi masak untuk makan siang."


Mereka berjalan beriringan menuju dapur, di mana sang nenek juga ada di sana.


"Nih nek, tukang emasnya. Nanti nenek juga dibeliin gelang kaki katanya, biar bisa nari kayak India." Eby berkesempatan menggoda sang nenek.


"Kamu tuh, dibilangin nggak percaya. Dulu waktu nenek masih gadis, banyak yang begitu, tiba-tiba orang nggak dikenal datang, bawa emas, bawa benda berharga lainnya, dijual murah-murah. Mangkanya kalau kemana-mana itu harus selalu bawa uang, walaupun cuma sedikit, biar pas ketemu yang begitu kita bisa langsung beli. Itu namanya rejeki nomplok." omel nenek panjang lebar, merasa cucunya tidak percaya pada apa yang diucapkannya.

__ADS_1


"Maksudnya?" Harry yang baru tiba, merasa bingung dengan perdebatan dua wanita di hadapannya.


"Ini ... Nenek tadi ngira kamu itu, dagang emas nyasar yang datang ke sini nawarin barangnya." jelas Eby mengurai cerita barusan.


"Oooh, kirain apa." sahut Harry mendekati wanita tua yang sedang menggoreng ikan.


"Enak baunya nek, aku jadi laper. Udah ada yang matang belum?"


"Kalau ikannya belum, tapi itu, si Eby bikin sayur. Udah mateng katanya, tapi nggak tau enak apa enggak, bening begitu rupanya. Nggak ada bumbunya sama sekali." sahut wanita itu lagi.


"Itu namanya sayur soup, Nek. Memang begitu rupanya, tapi rasanya dijamin enak. Nenek coba aja nanti."


"Nggak. Mending nenek makan ini saja."


Begitulah, di rumah Eby selalu menunjukkan dirinya baik-baik saja, tidak ingin mendapat rasa iba, atau kasihan dari orang lain. Terlebih, dirinya tidak ingin mendengar ceramah dari orang-orang terdekat, yang seakan paling sempurna hidupnya.


"Jadi pergi nggak, By? Mumpung aku pulang, ini." tanya Harry saat mereka berdua duduk di teras, setelah selesai makan siang.


"Gimana ya, Ry. Aku bingung ... Pengen padahal merefresh otak, tapi kasihan ayah di rumah. Ibu nggak bisa libur lama-lama. Tama, Jumat sore baru bisa pulang, Minggu atau Senin balik lagi ke kost. Elin, anak itu nggak bisa diandalkan." keluh Eby dengan wajah lesu.


"Tapi kamu juga harus mencari hiburan, By. Setelah semua yang terjadi, aku yakin batin kamu merasa suntuk."


"Sok tahu kamu," Eby terkekeh, mendengar ucapan sepupunya. Ia tidak ingin Harry tahu apa yang bergejolak di hatinya. Namun Harry tetap dengan mode seriusnya.

__ADS_1


"Tau lah. Beban pikiran yang tidak mendapat pelampiasan atau jalan keluar, itu akan menjadi batu penyakit di dalam hati atau pikiran. Mungkin saat ini kamu bisa menahannya, tapi itu akan membebani kamu. Itu tidak baik untuk kesehatan mentalmu."


Eby diam mendengar penjelasan Harry.


Benarkah ini bisa menjadi bom waktu untuknya di kemudian hari?


"Kalau mau jalan-jalan, pergi aja By. Ayah nggak apa-apa kok. Toh di sini masih ada nenek, paman, bibi, siapa aja bisa nemenin ayah di rumah. Lagian, sebenarnya ayah udah bisa sendiri, nggak ditemenin pun nggak apa-apa."


"Lho, ayah nggak jadi istirahat?" Eby menoleh ke belakang kursi yang ia duduki, saat mendengar suara Lingga muncul dari balik pintu.


"Nggak. Bosen kalau tiduran terus." sahut laki-laki itu, sambil berjalan dengan pelan mendekati keduanya. Kakinya sudah bisa berfungsi, meski masih harus menjalani banyak terapi.


Lingga memilih ikut duduk bersama anak dan keponakannya.


"Ry, ajak aja Eby jalan-jalan. Kasihan dia, dari baru tiba di rumah sampai sekarang, belum sempat dia bersenang-senang."


"Iya om, tapi bujuk anak perawan om satu ini, susah banget. Padahal aku nggak minta bayaran mahal lho, sebagai tour guide-nya. Malah mau aku kasih gratis, tapi dianya jual mahal." adu Harry, membuat lingga terkekeh, sementara Eby hanya bisa menatap sinis sepupunya itu.


"Besok aja lah. Aku masih ada urusan nanti sore." ucap Eby akhirnya, setelah lama berpikir.


"Urusan apa? Belum kelar kamu sama si brengsek itu?" tanya Harry ingin tahu.


"Bukan soal itu ... Kalau itu sih, tinggal nunggu waktunya dia cairin duitku. Aku kasih dia waktu seminggu kemarin. Ini masalah lain, di rumah." Eby enggan membagi cerita, soal Elin. Biar bagaimanapun itu hal buruk dan bisa menjadi aib untuk keluarganya.

__ADS_1


Harry pun tidak memaksa untuk tahu lebih jauh. Laki-laki itu hanya menganggukkan kepala, tanpa bertanya lebih banyak lagi.


__ADS_2