Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 38


__ADS_3

Harry membawakan nasi kuning ke kamar Eby, ketika wanita itu baru saja selesai membersihkan diri.


"Nih, makan dulu. Ini nasi kuning terenak di sekitar sini."


"Makasih, Ry." ucap Eby menerima bungkusan yang diberikan sepupunya.


"Ry, nanti aku pinjem motormu ya, mau ke rumah si Santi." Eby bicara ambil melangkah menuju dapur kecil tempat Harry menyimpan peralatan makan.


"Ngapain pake motor? Aku yang antar!"


"Nggak usah, kamu kerja aja. Kasihan kamu, nemenin aku sampe cuti segala." Eby menyodorkan nasi bagian Harry, yang sudah ia ganti tempatnya menggunakan piring.


"Ck, nggak apalah sekali-sekali aku libur. Masa harus kerjaaaa terus?"


"Kalau kamu anterin aku, itu sama aja kayak kamu kerja, edanya, kamu nggak dapet duit."


"Nggak pa-pa," sahut Harry acuh, sambil tangannya sibuk menyuap nasi ke mulutnya.


"Aku yang apa-apa. Kasihan duitnya. Mumpung masih ada kesempatan untuk kerja, dan masih mampu bekerja, jangan disia-siakan. Apalagi kamu masih muda,"


Eby bicara dengan Harry, seperti dia sedang menasihati Tama-sang adik.


"Baiklah, terserah kamu saja. Tapi, memangnya Santi sekarang tinggal di mana? Memangnya kamu tau tempatnya?" Sesaat Harry menatap Eby.


"Tau kok, nggak jauh dari sini. Tapi nanti aku mau ke supermarket dulu, mau belanja bahan masakan. Kita mau bikin bubur cina." Dengan wajah berbinar Eby menceritakan rencananya bersama sang sahabat.


Harry akhirnya mengangguk pasrah. Dia tahu, Eby dan Santi berteman akrab sejak dulu. Bisa dibilang, Santi adalah sosok yang paling Eby percaya untuk mendengar keluh kesahnya, ketika masih sekolah bahkan hingga mereka masing-masing bekerja.

__ADS_1


"Baiklah, have fun, ya ...." Harry mengacak sedikit rambut Eby, sebelum bangkit menuju dapur.


Nasi miliknya sudah tandas tanpa sisa, berbeda dengan Eby yang masih melanjutkan suapannya.


"Jam berapa kamu mau ke sana, By?"


"Paling jam sembilanan. Kenapa?"


"Nggak, nanya aja. Kamu beneran nggak mau aku anter?"


"Nggak! Kamu kerja aja."


Harry tidak bisa mendesak Eby lagi. Akhirnya ia memutuskan membersihkan diri dan bersiap untuk bekerja.


"By, nanti kunci kamarnya kamu bawa aja ya. Aku bawa kunci cadangannya. Hati-hati nanti, jangan ngebut. Nih STNK-nya."


Eby yang tengah duduk di balkon, menoleh saat Harry memanggil namanya. Ia menerima surat motor milik sang sepupu.


Harry hanya mengangguk, lalu meninggalkan Eby tanpa berkata apapun lagi.


Setelah Harry pergi, Eby kembali menikmati suasana pagi di balkon itu.


Matahari yang perlahan menampakkan diri, menghadirkan warna kuning kemerahan di ujung langit biru. Bercak awan putih yang mulai menipis, semakin membuat pemandangan di atas sana terlihat bersih.


Indah, namun sayangnya tidak dapat menghadirkan kegembiraan di hati Eby. Wanita itu seolah mati rasa beberapa hari ini. Apa yang dilihatnya, tidak mampu menembus jiwanya yang masih gersang.


Sendiri adalah waktu terbaik bagi Eby. Berdiam diri, tanpa menciptakan satu gerak pun, membiarkan pikirannya kosong dan merasakan kehampaan dalam hatinya.

__ADS_1


Jika dibiarkan, mungkin Eby akan betah duduk termenung seperti itu berjam-jam. Membiarkan pikirannya liar ke mana-mana, mengumpulkan banyak kata andai dan jika, serta mewujudkan harapan dalam khayalannya, yang tidak menjadi kenyataan. Namun, bukankah itu tidak baik untuk dirinya?


Bersyukur dering ponsel di dalam kamar, mengembalikan dia ke dunia nyata.


Eby bangkit dengan malas, masuk ke dalam kamar untuk melihat siapa yang menghubunginya.


"Iya, San." sapanya saat panggilan sudah terhubung.


"By, jadi ke sini kan? Nggak usah belanja bahan, suami aku udah beliin tadi di pasar. Kamu tinggal datang aja ke sini ya," Suara Santi terdengar ceria di seberang sana.


"Iya, San. Aku otw sekarang kalau gitu."


"Cepetan ...!"


"Iya!"


Sambungan telepon terputus. Eby bergegas mengganti pakaian, lalu pergi menuju kontrakan sang sahabat.


🌟🌟🌟


Aktifitas di jalan raya yang mulai ramai, sedikit menyulitkan Eby, yang sudah cukup lama tidak mengendarai sepeda motor.


"Huh, ini jalan yang mengecil, apa motor yang makin banyak sih? Perasaan dulu lewat sini, nggak semacet ini." Eby menggerutu, sembari menggerak-gerakkan tangannya seperti peregangan saat berolah raga.


Pegal memegang stang motor terlalu lama, dan tegang karena ini pertama kalinya ia melewati keramaian kota seorang diri, setelah tiga tahun merantau di negeri orang, membuat tangannya kesemutan.


Wajahnya yang putih kini perlahan memerah, karena matahari yang mulai meninggi. Sialnya, Eby lupa memakai masker, hingga wajahnya tidak ber-pelindung sedikit pun, sebab helm milik Harry tanpa kaca.

__ADS_1


Ujian kesabaran seseorang memang datang dari banyak hal. Salah satunya di jalan raya seperti yang saat ini Eby alami.



__ADS_2