Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 20


__ADS_3

"Bu, Tama sama Elin mana?" tanya Eby saat menyadari kedua adiknya tidak terlihat sejak tadi.


Kedua orang tuanya saling pandang, sebelum Karina menjawab sekenanya.


"Oh yaa, ibu telepon adik-adik kamu dulu ya. Tama tadi pamit mau ke rumah temannya, Elin juga kayanya sama." Karin bergegas masuk ke dalam kamar, untuk mengambil ponsel.


"Elin masih suka pergi tanpa ijin, Bu?" selidik Eby.


"Susah ibu kasih tau anak itu. Kalau dinasehati seringan ngambek." ucap Karin sembari mencari kontak putrinya.


"Aku istirahat dulu ya, Bu." pamit Eby, tidak ingin menanyakan lebih jauh sikap sang adik bungsu.


"Tunggu sebentar, By. Ibu belum pasang sprei di kamar kamu."


"Aku pasang sendiri aja, Bu. Yah, ayah mau ke kamar?" sahutnya lalu bertanya pada sang ayah dalam sekali waktu.


"Ayah di sini aja, Nak. Kamu istirahatlah."


Eby berlalu menuju kamarnya. Kamar yang sudah lama tidak ia tempati, dan pastinya sangat ia rindukan.


Ia menyalakan lampu, melihat seluruh kamar dari ambang pintu. Senyum terlukis di bibirnya, saat melihat semua benda tidak ada yang berubah tempat sedikit pun.


Setelah selesai memasang sprei, dan membersihkan diri, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tidak perlu menunggu lama, matanya sudah terpejam dengan nafas teratur.


🌟🌟🌟


Samar terdengar keributan dari luar kamar, membuat Eby terjaga.


Suara adik laki-lakinya yang seperti tengah emosi. Eby mencoba mendengar lebih baik lagi, ia memasang telinganya tanpa melakukan gerakan sedikit pun.


"Sialan laki-laki itu Bu, dia nggak angkat panggilan ku."


"Tama, pelankan suaramu, kakakmu sedang tidur. Jangan sampai dia mendengar semua ini." suara ibunya terdengar rendah, namun masih dapat ditangkap oleh telinga Eby dengan baik.

__ADS_1


"Mbak Eby harus tau sekarang, ibu. Itu lebih baik, daripada ia semakin terjebak dengan permainan busuk bajingan itu!"


"Tapi dia baru datang, Nak. Dia masih lelah, pelan-pelan kita kasih taunya."


"Ibumu benar, Tama. Jangan rusak kebahagiaannya. Setidaknya tunggu beberapa hari lagi. Biarkan dia menikmati liburannya terlebih dahulu. Kasihan kakakmu," suara Lingga lirih, menasihati putranya.


Ia merasa terluka dan terhina, namun apa daya, keadaannya saat ini membuat dia tidak bisa melakukan apapun untuk membela Eby.


Andai ia sehat, ingin sekali ia mencari laki-laki yang sudah mempermainkan hati anaknya itu.


"Andai ayah bisa, ayah yang akan datang menemui William, memberi pelajaran yang tidak bisa ia lupakan seumur hidupnya.


Apa salah Eby? Kenapa dia begitu tega membuat hal nista begini di belakang putri ayah?" suara Lingga bergetar, sarat emosi.


"Ayah, sudah ... Jangan itu dijadikan beban pikiran. Anak kita pasti akan baik-baik saja. Syukur sekarang kita tau busuknya dia, sebelum semua terlambat saat dia sudah sah menjadi suami Eby."


Ada apa ini? Jantung Eby berdebar kencang, saat mendengar dengan jelas apa yang keluarganya bicarakan.


Ia harus mencari tahu apa yang terjadi. Tapi bagaimana caranya?


"By,"


"Lagi pada ngobrolin apa sih? Kok pada tegang gini?" Eby berpura-pura tidak tahu.


"Eeh nggak ... Nggak ngobrolin apa-apa." sahut Karina dengan cepat.


"Mba Eby," Tama mendekat dan memeluk kakaknya.


"Kangen banget aku, mbak ... Baru mau aku susul mba ke sana, kalau tahun ini nggak pulang." lanjutnya setelah pelukan mereka terlepas.


"Iih ngapain? Kamu kan masih kuliah? Lagian di sana nggak ada kerjaan untuk anak kuliahan kayak kamu,"


"Yeee siapa bilang? Aku sering nonton vlog mahasiswa yang dapet beasiswa di sana. Aku juga tau kalau banyak mahasiswa yang ambil kerja part time di sana."

__ADS_1


"Masa sih? Waah mba ketahuan bohong donk ...." Eby menutup wajahnya berpura-pura malu, membuat kedua orang tuanya tertawa.


"Kamu nggak boleh ke luar negeri, Ma. Nanti kalau kamu pergi, siapa yang urus ayah sama ibu? Kamu kan anak laki-laki satu-satunya," sahut Lingga menanggapi.


Mereka melanjutkan obrolan, sambil Eby membongkar isi koper oleh-olehnya.


Tidak berselang lama, Karina memutuskan meninggalkan kedua anaknya, pergi ke dapur menyiapkan air hangat untuk mandi sang suami.


Lingga pun pergi ke kamar untuk beristirahat.


"Elin ke mana sih, Ma? Dia sering pergi-pergi lama begini?" tanya Eby, saat hanya merek berdua yang ada di ruang tamu.


Sejak tadi ia ingin menanyakan adik perempuannya itu, yang bahkan tidak tertarik dengan kabar kepulangannya.


"Nggak tau lah mba, aku males ngurusin dia. Liar bangeet! Nggak bisa diatur." ujar Tama dengan wajah menahan kesal.


"Kok gitu? Kamu bilangin donk, kamu kan laki-laki, Ma. Kamu harus tegas. Dia tanggung jawab kamu. Jangan biarin dia semaunya sendiri. Apalagi dia anak perempuan. Kalau ada apa-apa sama dia gimana?"


Tama hanya diam mendengar omelan sang kakak. Ia asyik memilah buah tangan yang akan Eby bagi-bagikan untuk saudara-saudaranya. Dalam hati ia menyadari apa yang diucapkan Eby, benar adanya.


Elin, sang adik memang seharusnya menjadi tanggung jawab dia, sebab sang ayah dalam keadaan kurang sehat. Namun, ia juga tidak bisa berbuat banyak, sebab selama ini kedua orang tuanya acap kali membela Elin, jika ia tengah memarahi anak bungsu itu.


"Ada apa?" Eby menepuk bahu sang adik, karena Tama hanya diam saat ia memarahinya.


"Aku serba salah Mba. Ayah sama ibu terlalu manjain dia. Kalau aku menegurnya terlalu keras, ibu pasti balik memarahiku. Minta aku untuk ngomong baik-baik sama dia. Gimana aku bisa ngomong baik, Mba? Kalau setiap ucapanku selalu dia bantah?" adu Tama akhirnya.


"Apalagi melihat keadaan ayah saat ini, aku nggak mau beliau jadi tambah stress. Jadinya yaa, aku memilih untuk diam,


Elin susah dibilangin, Mba. Sering pergi sama temen-temennya. Bahkan saat ayah di rumah sakit, dia lebih suka nginep di rumah temennya. Alasannya, takut di rumah hanya berdua sama aku. Padahal kan dia bisa ajak temennya datang ke sini. Lagian aku mau apain dia, coba? Bahkan dia bisa nginep di rumah nenek kalau dia mau." keluh Tama.


Rumah nenek mereka memang sangat dekat. Bahkan tidak sampai menghabiskan waktu lima menit untuk mencapainya. Namun Elin memilih rumah temannya daripada tinggal di tempat sang nenek kala itu.


"Ayah sama ibu tau kelakuannya begitu?"

__ADS_1


"Soal dia nginep, aku nggak bilang Mba. Takut ayah kepikiran. Tapi kayaknya ibu tau. Entah lah," Tama mengangkat bahunya.


Eby diam menyimak. Ada banyak masalah yang dia temukan di hari pertamanya berada di rumah. Dia harus bisa menyelesaikan satu persatu, tanpa membuat kedua orang tuanya khawatir.


__ADS_2