
Merasa cukup liburan yang ia jalani, Eby memutuskan kembali ke kampung halamannya.
Ia sadar, kemanapun ia pergi, seindah dan semeriah apapun tempat yang ia kunjungi, bila hati dan pikirannya belum berdamai maka tidak ada satu tempat pun yang bisa menghibur dan memanjakan matanya.
Itu sebabnya ia memutuskan untuk pulang saja ke kampung halamannya.
Awalnya wanita itu berniat pulang tanpa diantar oleh Harry, sebab ia tahu, pekerjaan sepupunya lumayan padat akhir-akhir ini.
"Aku pulang sendiri aja pakai bus, ya Ry?" ijin Eby kemarin malam, saat mereka berdua tengah menikmati makan malam di sebuah warung kaki lima.
"Nggak! Pokoknya aku antar!" tegas Harry, namun matanya tetap fokus dengan nasi goreng yang ada di depannya.
"Memangnya kamu mau kemana sih? Sampai nggak mau aku temenin?" Harry mendongakkan kepala, saat menyadari Eby tidak berkata apapun sejak tadi.
"Nggak kemana-mana. Cuman pengen aja ngerasain naik angkutan umum. Udah lama kan, nggak pernah naik bus antar kota," terang Eby memberi alasan.
Ia berniat menikmati perjalanan seorang diri, tanpa ada 'gangguan' dari siapapun. Namun apa boleh buat? Ia pergi bersama Harry, sebelumnya. Jadi, Harry pasti merasa punya tanggung jawab mengantarnya dengan selamat, sampai di rumah kembali. Ia tidak boleh bersikap egois dengan kekeh memaksakan keinginan, yang justru bisa melukai perasaan sepupunya itu.
"Sekarang tuh udah jarang tau, ada bus kayak gitu. Kebanyakan orang udah punya motor atau mobil. Peminat angkutan umum sedikit. Mau kamu, nunggu bus lamaaa di terminal, tau-tau busnya nggak dateng sampe sore?" Harry menakut-nakuti, berharap Eby mendengar ucapannya.
Dalam hati Eby membenarkan ucapan sepupunya. Sudah lama, saat terakhir ia menggunakan angkutan umum saat bepergian. Mungkin kini semua sudah berubah? Tidak semenyenangkan seperti dulu lagi. Ia pun tidak tahu.
"Besok sekalian kita jalan-jalan, yuk. Cari strawberry untuk oleh-oleh. Kalau kamu mau, kita bisa main ke The Bloom Garden juga. Mau ke air terjun? Aku antar." Harry membujuk Eby, seperti merayu anak kecil agar mau menuruti ucapannya.
__ADS_1
"Tapi kan kerjaanmu full, Ry."
"Bisa diatur, kamu nggak perlu pikirkan itu," sahut Harry cepat.
"Ya sudah kalau begitu." Eby akhirnya hanya bisa pasrah.
"By the way, makasih banyak ya, Ry. Kamu nampung aku selama beberapa hari di sini. Sorry udah banyak ngerepotin kamu," ucap Eby menatap serius laki-laki di depannya.
"Ngomong apaan sih! Nggak suka aku dengernya!" ketus Harry dengan raut tidak suka.
"Kita ini keluarga. Sudah sewajarnya saling mendukung, saling menjaga satu dengan yang lain. Jangan bilang makasih, ngerepotin, atau bahasa formal lainnya. Itu nggak berlaku untuk keluarga, By," tegas Harry dengan wajah serius.
Suasana tempat mereka makan yang mulai ramai, membuat mereka tidak leluasa untuk berbincang.
Eby akhirnya melanjutkan suapan ke mulutnya, hingga nasi di piringnya tandas tak tersisa, tanpa mengucap sepatah katapun. Sementara Harry yang sudah lebih dulu menghabiskan bagiannya, tengah menikmati sebatang rokok yang ia hirup dalam dan asapnya ia hembuskan perlahan.
"Udah selesai?" tanya Harry, saat Eby menumpuk beberapa tisu bekas membersihkan bibirnya dari minyak, di atas piring yang sudah kosong.
Eby mengangguk, lalu bangkit dari kursi plastik berbentuk segi empat, khas pedagang kaki lima.
Setelah membayar, mereka berjalan beriringan menuju tempat motor mereka parkir.
Warung kaki lima ini adalah salah satu tempat makan favorit Eby bersama William dulu. Wanita itu sengaja mencari tempat-tempat kenangan, untuk ia jelajahi. Menjejali hati dan pikirannya akan kenangan masa lalu, berharap rasa bosan dan muak segera datang menghampiri.
__ADS_1
Dua hari ini, ia pergi dari pagi hingga sore dengan membawa motor Harry, pergi ke pantai, tempat kerjanya dulu, tempat belanja favoritnya bersama William, semua ia datangi. Mengulang kembali kisah manis dalam ingatannya, membiarkan semua suka dan duka berlomba muncul ke permukaan.
Seperti yang Santi katakan, menikmati luka hingga sakitnya tidak bisa ia rasakan lagi.
Dari yang awalnya meneteskan air mata, hingga merasa biasa saja.
🌟🌟🌟
Benar janji Harry kemarin. Ia mengajak Eby melewati rute berbeda menuju kampung halamannya.
Meski jalan yang dilewati lebih ektrim dari sebelumnya, namun wisata yang dihadirkan menjadi nilai tukar sepadan untuk mereka.
Eby puas menikmati keindahan alam yang subur dan menyejukkan mata. Mulai dari taman bunga, kebun strawberry, serta menikmati kopi panas di pinggir danau dengan udara sejuknya. Harry juga mengajak Eby berwisata air menggunakan speed boat, mengelilingi salah satu dari tiga danau kembar yang ada di tempat itu.
"Mau ke air terjun? Mumpung cuaca lagi bagus," tawar Harry saat mereka sudah puas berkeliling.
"Jangan sekarang, deh. Aku udah capek," tolak Eby.
"Trus mau langsung pulang?" Eby mengangguk.
"Tapi kayanya kita mesti makan dulu deh, Ry. Perutku laper," ajak Eby meminta Harry mencari tempat makan yang pas untuk mereka berdua.
Eby memang patut mengandalkan Harry kalau urusan berwisata. Laki-aki itu tahu, mana warung makan yang menyediakan makanan nikmat, namun harganya tidak membuat pengunjung melarat. Maklum saja, hampir seluruh objek wisata di pulau itu pernah bahkan mungkin sering Harry kunjungi.
__ADS_1
Pekerjaan yang digeluti membuatnya bisa berlibur setiap hari. Setidaknya itu yang ada di pikiran banyak orang. Bahwa pekerjaan sebagai pemandu wisata dan sopir travel adalah pekerjaan menyenangkan yang menghasilkan banyak uang.