Luka Di Ujung Asa

Luka Di Ujung Asa
Bab 71


__ADS_3

Mohon maaf ya teman-temanku tercinta, beberapa hari ke depan aku up tidak menentu dan hanya sedikit.


Ada kesibukan di dunia nyata, yang cukup menyita waktu.


Terima kasih sudah selalu setia membaca, jangan lupa kirim kopi biar mataku terus terbuka.


Sehat selalu untuk kita semu ya ...


😘😘😘😘


^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^^⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠_⁠^


Murat melajukan kendaraan roda empatnya dengan santai. Senyum tipis menghiasi wajah berjambang itu, saat sekelebat bayangan perempuan kembali hadir di matanya.


Ternyata, setelah puluhan purnama terlewati dalam sepi, akhirnya ia kembali merasakan debaran berbeda dalam dadanya. Apakah waktu benar-benar sudah menyembuhkan luka hatinya? Apakah sudah tidak ada lagi rasa enggan untuk memulai kisah baru?


Ia teringat dengan obrolannya bersama Ahmed beberapa jam yang lalu. Benar kata sahabatnya itu, ia harus menerima semua yang sudah terjadi, dan belajar jujur terhadap diri sendiri.


"Mau sampai kapan kamu akan seperti ini?" tanya Ahmed, setelah mereka diam beberapa waktu.


Pertemuan pertama setelah berpisah cukup lama, membuat rasa canggung dua sahabat itu begitu kentara. Terlebih saat ini, keadaannya jauh berbeda. Ahmed dengan kebahagiaannya, sementara dirinya masih betah dengan kesendirian.


"Aku baik-baik saja, Ahmed. Jangan khawatirkan aku,"

__ADS_1


"Lalu kapan kau akan kembali?" tanya Ahmed lagi.


Murat menggeleng, "Aku belum tau. Aku merasa nyaman di sini. Tidak ada kenangan yang membuat aku merasa sesak. Tidak perlu terlihat baik-baik saja, meski hati meras terluka."


"Kamu masih mencintainya?"


Murat kembali menggeleng.


"Rasa itu sudah hilang saat dia meninggalkanku. Tapi rasa sakit dan malu masih tetap ada," sahut Murat.


Ahmed menghela nafas.


"Belajarlah memaafkan, dan coba buka hati kamu untuk orang lain. Di sini banyak perempuan cantik. Apa tidak ada yang bisa menarik perhatianmu?"


Murat menatap sahabatnya. Ada senyum misterius yang tersungging di sana.


"Aku belum tahu," sahut Murat.


"Kalau kamu memang sudah merasakan perasaan itu, akui saja. Cobalah jujur pada diri sendiri. Lagi pula, untuk apa kamu menghukum dirimu dengan terus seperti ini?" Nasihat sang sahabat,


"Siapa yang berhasil menarik perhatianmu?" tanya Ahmed waktu itu.


"Ada, salah satu staf di hotel," sahutnya.

__ADS_1


"Oh wow! Ceritakan padaku, secantik apa dia? Apakah kalian sudah pernah berkencan?" tanya Ahmed antusias.


Murat menggeleng. Jangankan berkencan, berbincang santai saja mereka tidak pernah. Murat yang terlalu kaku dan belum yakin akan perasaannya, memilih memerhatikan sosok Eby diam-diam.


"Kenapa? Kalau suka, harusnya kamu kejar! Jangan sampai kehilangan kesempatan," saran pria berkulit putih itu.


Murat tertawa kecil,"Bagaimana aku bisa mengejarnya? Aku sendiri belum yakin dengan perasaanku. Mungkin, ini hanya sesaat. Dia itu jauh dari kriteria perempuan idamanku," ucap Murat sembari menggelengkan kepalanya.


"Oh, ayolah. Sekarang bukan perempuan yang sesuai kriteria secara fisik yang kita butuhkan, tapi perempuan yang bisa membuat kita merasa nyaman,"ujar Ahmed menasihati Murat.


"Entahlah,"


"Dekati saja dulu, siapa tahu dia memang jodoh yang selama ini Tuhan sembunyikan. Ajak dia berkencan, ambil hatinya, belikan makanan kesukaannya,"


"Kami bahkan tidak pernah berbincang selayaknya orang yang saling kenal." Potong Murat, menghentikan saran-saran yang ingin Ahmed berikan.


"Yang benar saja!" seru Ahmed terkejut, lalu tertawa terbahak-bahak.


Sibuk dengan pikiran yang liar kemana-mana, Murat tidak sadar jika jalan menuju hotel tempatnya tinggal selama ini sudah terlewat.


"Sial!" rutuknya kesal.


"Kemana akal sehatku, sampai-sampai jalan pulang saja aku lupa," omelnya lagi entah pada siapa.

__ADS_1


Ia harus melewati lampu merah terlebih dahulu, sebelum menemukan jalan memotong haluan. Dan tepat di samping kirinya, adalah hotel tempat sang sahabat menginap.


Murat memutuskan untuk mampir sebentar. Waktu masih belum terlalu malam, jadi ia merasa tidak apa-apa jika mengganggu pasangan calon pengantin itu, saat ini. Ia masih merasa kurang puas berbagi cerita dengan sahabatnya itu.


__ADS_2