
Mobil ambulan yang membawa jenazah Radit tiba di kediaman Erlangga pukul setengah satu. Erik dan mama Dona yang ikut naik mobil ambulans segera turun. Sedangkan mobil yang dikendarai oleh Pak Yanto masih belum terlihat, mungkin terjebak macet. Maklum saja jika mobil ambulans tiba terlebih dahulu, karena jika suara sirine dinyalakan sudah pasti semua mobil yang ada di jalan langsung memberikan ruang pada mobil ambulans tersebut.
Rumah kediaman Erlangga nampak penuh dengan para pelayat yang ikut berbelasungkawa atas meninggalnya Raditya Erlangga. Jenazah Radit di baringkan di ruang tengah yang lebih luas setelah kursi-kursinya dipindahkan.
Pukul dua siang Nara dan Bima tiba di kediaman Erlangga. Tak berselang lama rombongan dari Surabaya juga tiba di kediaman Erlangga. Laras yang baru saja turun dari taksi langsung berlari masuk ke dalam rumah hingga membuatnya menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana.
Nara yang melihat Bu Mayang yang sudah dianggap sebagai mertuanya turun dari taksi segera menghampirinya.
"Bu,"
"Eh, Ra, ada disini juga?"
"Iya Bu, baru aja tiba." Nara meraih tangan Bu Mayang kemudian menciumnya. "Mari Bu, kita masuk. Ayo Sen." Nara beralih menatap Seno yang menggendong anaknya yang sedang tertidur.
*****
"Mama Shela mana Rik?" Bukannya menanyakan Radit mantan suaminya, Laras malah menanyakan mantan mertuanya.
"Ada di kamar!" Jawab Erik singkat. Laras yang sudah tahu letak kamar mama Shela langsung melesat ke kamar mantan mertuanya.
__ADS_1
Tok.. tok.. tok..
"Ma, ini Laras!" Teriak Laras dari depan pintu. Setelah mendapat sahutan dari dalam, Laras langsung memutar handle pintu kemudian masuk ke dalam kamar. Yang mana di dalam kamar itu sudah ada mama Dona. "Ma!" Laras melangkah mendekati ranjang tempat mama Shela berbaring. Mama Shela yang melihat mantan menantunya langsung terduduk kemudian merentangkan kedua tangannya. Laras pun segera menghambur kepelukan mantan mertuanya itu.
"Maafkan Radit sayang, maafkan Radit." Mama Shela tergugu dalam pelukan mantan menantunya, begitupun Laras. Kedua mantan menantu dan mertua itu tergugu dalam tangisnya.
Laras mengurai pelukannya kemudian beralih menatap Mama Dona yang sejak tadi hanya diam saja.
"Tante!" Laras meraih tangan Mama Dona kemudian menciumnya. "Shasa gak ikut Tan?"
"Shasa baru saja melahirkan." Mama Dona berusaha mengulas senyum.
"Sudahlah, lupakan masa lalu. Shasa sekarang sudah bahagia dengan suaminya dan anak-anaknya. Kamu juga berhak bahagia sayang." Mama Dona memeluk Laras. Laras yang tak menyangka Mama Dona sebaik itu semakin membuatnya tergugu.
"Terimakasih Tan, terimakasih! Aku pasti bahagia!" Laras semakin mengeratkan pelukannya.
*****
Pukul setengah empat sore jenazah Radit di berangkatkan menuju ke TPU setempat. Semua orang ikut mengantarkan kepergian Radit ke tempat peristirahatan terakhirnya.
__ADS_1
Dua jam lamanya prosesi pemakaman akhirnya selesai. Para pelayat meninggalkan pemakaman satu persatu. Nara dan Bima juga langsung berpamitan kepada mama Shela dan beberapa orang yang masih berada di makam. Yaitu, Erik, pak Yanto, Papa Dika dan mama Dona, Laras, Bu Mayang dan Seno. Camelia yang tadi tertidur ditinggal di rumah bersama teh Nur, asisten rumah tangga Mama Shela. Dan jangan lupakan Kris, yang baru saja tiba dan langsung menyusul ke pemakaman. Saat Kris tiba di rumah duka, rumah sudah sepi karena saat itu jenazah Radit sudah diberangkatkan. Akhirnya Kris langsung menyusul ke pemakaman setelah bertanya letak makam kepada teh Nur.
"Jangan lupa mampir!" Ucap Nara saat berjabat tangan dengan Seno. "Apa perlu besok gue kirim sopir untuk jemput kalian?"
"Gak usahlah, besok kita naik taksi aja biar nggak bolak-balik. Kasihan supir loe." Tolak seno.
"Oke, gue cabut!" Nara dan Bima melangkah meninggalkan pemakaman setelah mendapat anggukan dari Seno. Disusul dengan Papa Dika dan mama Dona yang juga ikut berpamitan. Sedangkan Laras, Bu Mayang dan juga Seno rencananya akan menginap semalam di rumah mama Shela.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ââðđðđ