Luka Hati Luka Diri

Luka Hati Luka Diri
Episode 78


__ADS_3

Pukul dua belas siang Mama Shela tiba di rumah sakit, bertepatan dengan Shasa yang baru saja menginjakkan kakinya di pintu masuk rumah sakit tersebut.


"Sha!" Teriak mama Shela yang baru saja turun dari mobil. Merasa ada yang memanggilnya, Shasa pun menoleh dan mendapati Mama Shela yang berjalan dengan tergesa-gesa ke arahnya.


"Sayang!" Mama Shela langsung memeluk Shasa. "Sebenarnya ada apa nak?" Tanya Mama Shela dengan raut wajah khawatir.


"Kita masuk dulu ma, nanti aku jelaskan." Shasa pun mengandeng tangan Mama Shela dengan tangan kirinya, karena tangannya yang sebelah kanan menenteng kotak bekal yang ia bawa dari rumah untuk makan siang suaminya.


"Honey!" Panggil dokter Andrew saat melihat istrinya berjalan di selasar rumah sakit. Shasa langsung menyunggingkan senyumnya saat melihat suaminya berjalan ke arahnya.


Cup!


Tanpa sungkan dokter Andrew mengecup kening istrinya di depan Mama Shela.


"Ini aku bawain makan siang buat kamu." Shasa menyodorkan kotak bekal yang dibawanya kepada suaminya. Dokter Andrew pun segera menerimanya dengan senang hati karena memang hari ini ia tak sempat untuk pulang makan siang di rumah.


"Terimakasih honey." Sekali lagi dokter Andrew mengecup kening istrinya, membuat Mama Shela menatap keduanya dengan raut wajah sendu. Seandainya saja Radit, anaknya yang ada di posisi itu pasti Mama Shela akan sangat bahagia. Namun begitu mama Shela juga merasa bahagia karena Shasa yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri, mendapatkan suami yang jauh lebih baik dari anaknya tersebut.

__ADS_1


"Oh ya, kenalin ini Mama Shela mamanya Radit."


"Siang Tante." Sapa dokter Andrew seraya mengulurkan tangannya.


"Siang dok!" Mama Shela menyambut uluran tangan dokter Andrew.


"Panggil Andrew saja Tan."


"Masih ingat sama Tante?" Dokter Andrew mengangguk.


"Mari saya antar ke ruangan Radit tant." Dokter Andrew kembali menyerahkan kotak bekal kepada istrinya.


Jantung Mama Shela serasa dir3m@$ dengan kuat. Dadanya berdebar-debar hingga membuat tubuhnya sedikit bergetar.


"Se-sebenarnya apa yang terjadi?" Mama Shela bertanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Mari Tan, nanti biar dokter yang menangani Radit saja yang menjelaskan." Mama Shela segera mengekor di belakang dokter Andrew menuju ruang perawatan anaknya. Sedangkan Shasa melangkahkan kakinya menuju ke ruangan suaminya.

__ADS_1


Sekitar tiga puluh menit, akhirnya dokter Andrew kembali ke ruangannya dan mendapati istrinya itu yang nampak tertidur lelap di sofa yang ada di dalam ruangannya.


"Astaga honey." Dokter Andrew segera menghampiri istrinya dan membetulkan posisi tidur sang istri yang semula duduk menjadi berbaring. Agar saat bangun tidur nanti tubuh istrinya itu tidak merasa pegal atau kesakitan.


Sebenarnya tadi dokter Andrew ingin langsung meninggalkan Mama Shela setelah tiba di ruangan Radit. Namun ia tak tega, akhirnya dokter Andrew pun menemani Mama Shela menemui dokter yang menangani Radit. Dan setelah Mama Shela kembali ke ruangan anaknya, dokter Andrew pun langsung pamit undur diri untuk kembali ke ruangannya.


Satu kecupan mendarat di dahi sang istri sebelum akhirnya ia duduk di kursinya, kemudian membuka kotak bekal yang tadi dibawakan oleh istrinya. Dengan senyum mengembang, dokter Andrew langsung melahap makanan tersebut. Meskipun itu bukan hasil karya istrinya karena istrinya itu tidak bisa memasak, tetap saja ia merasa senang karena istrinya begitu perhatian kepadanya. Ya begitulah, biasanya jika dokter Andrew memiliki waktu senggang, ia akan menyempatkan untuk pulang makan siang di rumah bersama anak-anak. Tapi jika ia tidak sempat untuk pulang, maka istrinya lah yang akan mengantarkan makan siang ke rumah sakit.


*****


*****


*****


*****


*****

__ADS_1


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕☕ðŸŒđðŸŒđ


__ADS_2