
Suara derap langkah kaki menggema di selasar rumah sakit. Tanpa menghiraukan nafasnya yang tersengal, mama Shela berlari sekuat tenaga agar segera sampai di ruang ICCU. Begitupun Erik. Setelah ia menurunkan Mama Shela di depan pintu masuk rumah sakit, Erik langsung mencari tempat parkir dan langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit setelah berhasil memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.
Ceklek!
"Radit!" Jerit mama Shela saat memasuki ruang ICCU. Dokter Marchel dan beberapa orang perawat serempak menoleh ke arah pintu masuk. Perlahan mama Shela melangkah menghampiri brankar anaknya dengan kaki yang terasa lemas seperti tak bertulang. Disusul Erik yang juga langsung masuk ke dalam ruang tersebut.
"Radit, ini mama nak. Hiks.. hiks.." Mama Shela menggenggam erat tangan anaknya.
"Shasa!" Lirih Radit dengan suara lemahnya nyaris tak terdengar.
"Sejak tadi pak Radit selalu memanggil-manggil nama Shasa, Gerry dan Jerry Bu. Mungkin Pak Radit ingin bertemu dengan mereka bertiga." Ujar dokter Marchel.
"Radit, ini mama sayang. Selama ini kamu sudah berjuang nak. Jika kamu sudah merasa lelah, mama ikhlas nak, mama ikhlas. Hiks.. hiks.." Erik yang berada di samping mama Shela tak kuasa menahan air matanya. Ia pun menangis tanpa suara, mencoba memberikan ketenangan serta kekuatan kepada Mama Shela dengan mengusap punggungnya lembut.
Ceklek!
Suara pintu yang terdengar kembali dibuka membuat semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut serempak menoleh. Nampak dokter Andrew yang pertama kali masuk ke dalam ruangan seraya menggandeng istrinya yang raut wajahnya sulit di jelaskan. Di ikuti oleh mama Dona dan papa Dika yang masing-masing menggandeng si kembar.
"Shasa!" Mama Shela semakin tak kuasa menahan tangisnya. Ia merasa bahagia karena Shasa dan kedua cucunya akhirnya mau bertemu dengan anaknya. "Shasa datang Dit! Lihat, kedua anak mu sudah besar dan sudah bersekolah." Ucap mama shela melihat dari seragam sekolah yang dikenakan oleh si kembar.
"Shasa!" Lirih Radit. Merasa namanya dipanggil, Shasa mengeratkan genggaman tangannya pada tangan suaminya kemudian menatap sang suami seolah meminta persetujuan atau lebih tepatnya ia berusaha menguatkan hatinya. Shasa perlahan menghampiri Radit setelah mendapat anggukan dari suaminya.
"Ya! Ini aku!" Jawab Shasa dengan suara bergetar menahan tangis.
__ADS_1
"Maafkan aku!" Suara Radit semakin lemah dan nyaris tak terdengar.
"Ya! Aku sudah memaafkan mu!"
"Boleh aku memeluk kedua anak ku?"
"Ya!" Sekuat apa pun ia mencoba menahan air matanya, namun akhirnya lolos juga. "Gerry, Jerry, kemari nak." Shasa melambaikan tangannya kepada kedua anak kembarnya. Gerry dan Jerry pun segera menghampiri mommynya dengan takut-takut karena sejak tadi menyaksikan semua orang sedang menangis.
"Ini papa kalian!" Shasa mencoba menjelaskan kepada kedua anaknya, entah anaknya itu bisa mencerna ucapannya atau tidak.
"Papa?" Beo Gerry dan Jerry bersamaan.
"Ya, ini papa kalian!" Ucap Shasa sekali lagi.
"Ya, anggap saja kalian punya dua ayah." Sahut dokter Andrew. "Kalian punya Daddy dan juga papa." Lanjut dokter Andrew.
"Gerry, Jerry, ini papa nak." Lirih Radit. Gerry dan Jerry saling pandang, kemudian mereka berdua menoleh ke arah mommynya dan juga daddy-nya. Melihat mommy dan daddy-nya mengangguk, Gerry dan Jerry perlahan mendekat ke arah papanya. Tangan lemah Radit terangkat seolah ingin merengkuh kedua anaknya. Dokter Andrew yang paham segera mengangkat tubuh kedua anaknya bergantian dan mendudukkan mereka di sisi kanan dan kiri Radit. Dengan tangan lemahnya Radit langsung merengkuh kedua anaknya ke dalam pelukannya kemudian menghujani kepala kedua anaknya dengan ciuman bertubi-tubi.
"Maafkan papa nak, maafkan papa!" Air mata Radit mengucur deras di kedua matanya. "Shasa!" Panggil Radit.
"Ya!" Jawab Shasa.
"Terimakasih!"
__ADS_1
Tiiiiiiiiiiiiiittttttt...............
Kedua tangan Radit terkulai lemah setelah mengucapkan kata terima kasih kepada Shasa bersamaan dengan bunyi mesin EKG yang terdengar nyaring menusuk gendang telinga semua orang yang ada di dalam ruang ICCU tersebut.
"RADIT!" Jerit mama Shela menggema di dalam ruangan sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
...~END~...
*****
*****
*****
*****
*****
Tapi Bo'ong ðĪðð
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ââðđðđ
__ADS_1