Luka Hati Luka Diri

Luka Hati Luka Diri
Episode 64


__ADS_3

"Boss!" Erik menyembulkan kepalanya di pintu ruangan Radit. "Gak makan siang dulu?"


"Jam berapa? Ssssttt!" Desis Radit merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya saat melihat jam di pergelangan tangannya. Erik pun langsung merangsek masuk saat melihat bossnya itu kesakitan seraya memegangi kepalanya.


"Boss kenapa?" Erik seketika panik.


"Pusing!" Jawab Radit singkat. "Jam berapa ini?" Radit mendekatkan tangannya ke wajahnya untuk melihat jam yang nampak mengabur dalam pandangannya. Radit memukul-mukul pelan kepalanya guna mengurai rasa sakit dan juga pandangannya yang sedikit mengabur.


"Jam setengah satu boss." Erik bantu menjawab.


"Suruh antarkan makanan dari sebelah ke ruangan ku." Radit memijit kepalanya pelan.


"Apa gak sebaiknya kita ke rumah sakit saja boss. Muka boss pucat begitu."


"Sudah sana keluar! Jangan bawel kayak emak-emak." Erik langsung berbalik kemudian melangkah meninggalkan bosnya tersebut. Namun saat ia baru memegang handle pintu, terdengar suara benda terjatuh.


Bruukk!


Erik pun langsung balik badan kembali dan mendapati Radit yang sudah tersungkur ke atas lantai. Erik langsung berlari menghampiri bosnya tersebut. Tadinya Radit hanya ingin pergi ke toilet, namun karena rasa pusing yang teramat sangat di kepalanya membuatnya tak sadarkan diri.


"Boss! Hey, bangun!" Erik mengguncang tubuh Radit namun tak kunjung bangun. Ia yang panik langsung keluar dari ruangan tersebut untuk mencari bantuan.


Akhirnya siang itu Radit dilarikan ke rumah sakit oleh Erik sahabatnya. Erik nampak mondar-mandir di depan ruang UGD sendirian. Ia sebenarnya ingin menghubungi Laras istri Radit. Namun ia yang tahu kondisi rumah tangga bossnya itu sedang tidak baik-baik saja, akhirnya ia pun mengurungkan niatnya tersebut. Mau menghubungi Mama Shela juga takut nantinya Mama Shela syok saat mendengar anaknya masuk rumah sakit. Jadi ia memilih untuk tidak menghubungi siapapun, cukup dirinya sendiri yang mengetahui kondisi Radit saat ini.


Pintu ruang UGD akhirnya terbuka setelah hampir satu jam lamanya tertutup rapat. Nampak seorang dokter pria paruh baya berkepala botak keluar dari ruang UGD tersebut. Erik pun langsung menghampirinya guna menanyakan kondisi Radit saat ini.


"Bagaimana keadaan sahabat saya dok?"


"Pasien sudah sadarkan diri, kita tunggu hasil labnya sekitar dua jam ke depan. Sementara pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan. Saya permisi dulu pak, mari!" Dokter yang bername-tag Robert tersebut langsung undur diri dari hadapan Erik. Erik yang belum mengetahui kondisi Radit saat ini pun semakin panik. Pasalnya, jika sudah berhubungan dengan lab, pasti ada sesuatu yang serius.

__ADS_1


*****


"Sudah baikan boss?" Erik duduk di kursi samping Radit. Saat Ini Radit sudah dipindahkan ke dalam ruang perawatan.


"Apa kata dokter?" Tanya Radit lemah. Erik menggeleng.


"Tunggu hasil lab dua jam ke depan."


"Jangan hubungi siapapun!" Radit memperingatkan Erik. Erik hanya mengangguk nurut.


"Tapi Laras juga berhak tahu, dia masih istrimu boss!" Radit menggeleng.


"Aku tidak ingin membuatnya khawatir! Dan mama jangan sampai tahu!" Erik mengangguk, kalau yang ini ia setuju. Erik tahu bagaimana kondisi Mama Shela setelah kepergian Papa Angga.


"Kembalilah ke kafe!"


"Aku bukan anak kecil yang perlu ditemani!"


"Oke! Aku akan pulang, tapi nanti setelah tahu hasil lab si bos." Radit hanya mendengus mendengar penuturan Erik.


Dua jam kemudian, nampak seorang perawat memasuki ruang perawatan Radit.


"Permisi pak Erik, dokter Robert menunggu anda di ruangannya."


"Suruh dokter Robert ke sini saja sus, aku ingin mendengar sendiri apa yang akan dikatakan oleh dokter Robert." Radit menyahut ucapan perawat tersebut.


"Baik pak, saya permisi dulu." Perawat tersebut langsung meninggalkan ruang perawatan Radit.


Tak berselang lama, perawat tersebut kembali dengan seorang dokter yang tadi menangani Radit, yaitu dokter Robert.

__ADS_1


"Selamat sore Pak Radit, Pak Erik." Sapa dokter Robert saat memasuki ruang perawatan Radit.


"Sore dok!" Balas Erik ramah.


"Langsung bacakan saja hasil labnya dok." Ucap Radit tanpa basa-basi.


"Huuuft baiklah, apapun yang saya sampaikan nanti, saya harap bapak harus tetap semangat untuk sembuh." Radit diam saja mencerna ucapan dokter Robert. "Sesuai dengan hasil lab, bapak mengidap k@nk3r otak stadium dua."


Deg!


"K@nk3r otak?" Beo Erik syok. "Ap-apa itu berbahaya dok?" Tanya Erik tergagap karena syok. Sedangkan Radit hanya diam saja setelah mengetahui penyakitnya.


"Tenang pak, masih banyak cara untuk sembuh. Dan yang paling penting adalah semangat dari Pak Radit sendiri." Dokter mencoba menenangkan Erik dengan memberikan pengertian.


"Maka dari itu, bapak harus semangat untuk sembuh. Kami akan membantu sebisa kami dan akan memberikan perawatan terbaik untuk pak Radit." Dokter Robert beralih menatap Radit yang sejak tadi hanya diam saja. Entah apa yang ada di dalam pikiran Radit saat ini.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂

__ADS_1


__ADS_2