
Sesampainya di kediaman Gutawa, Shasa langsung di papah mom Yasmin ke dalam salah satu kamar tamu yang ada di lantai bawah. Sengaja mom Yasmin tidak mengijinkan Shasa menempati kamar yang biasanya di tempati Shasa saat berkunjung kesini karena letaknya ada di lantai atas. Demi keselamatan Shasa dan kandungannya agar tidak capek naik turun tangga.
"Istirahat dulu, Tante siapin makan buat kamu." Mom Yasmin beranjak setelah membantu Shasa berbaring.
"Tante, hiks.. hiks.." Shasa meraih tangan mom Yasmin dan menggenggamnya erat. "Shasa mohon sama Tante, tolong jangan kasih tau mama sama papa tentang kehamilan Shasa." Isak Shasa penuh permohonan. Mom Yasmin kembali duduk di samping Shasa seraya mengelus kepalanya lembut.
"Tapi mereka harus tau tentang kondisi kamu saat ini Sha." Shasa menggeleng.
"Plis Tan, Shasa gak mau mama syok. Shasa juga takut papa marah."
"Siapa yang melakukannya Sha?" Lagi-lagi Shasa menggeleng.
"Huuuuuft! Kenapa? Apa kamu di ancam sama dia?" Shasa menggeleng lagi.
"Ayahnya tidak menginginkannya Tan. Hanya aku orang tuanya, dan aku akan menjadi ibu sekaligus ayah untuknya." Mom Yasmin ikut terisak.
__ADS_1
"B@jingan mana yang tega menolak buah hatinya sendiri Sha?" Mom Yasmin semakin terisak. "Ya sudah, sekarang kabari orang tua mu dulu biar gak khawatir. Tante siapkan makan siang dulu." Shasa mengangguk. Mom Yasmin langsung keluar dari kamar.
*****
Radit semakin di sibukkan dengan pekerjaannya. Pasalnya kini restoran yang ada di samping kafenya sudah berganti nama menjadi miliknya. Ya, dua hari yang lalu antara Radit dan pak Umar sudah menandatangani kesepakatan atau surat jual beli restauran di depan notaris. Dan sekarang restoran itu sudah resmi berganti nama atas dirinya.
Tidak ada acara pembukaan ulang restoran karena restoran sudah berjalan semestinya di bawah kendali pak Imron sang manager. Dan semua masih sama, hanya saja nama dan kepemilikannya yang sekarang berubah. Yang dulunya bernama "Family Resto" sekarang menjadi "RADITYA CAFE & RESTO".
Sangking sibuknya hingga ia sudah tidak pernah lagi memikirkan nasib percintaannya. Seolah ia sudah mati rasa dan sudah tak mengenal cinta. Bahkan Laras yang hampir setiap hari bersamanya pun tak bisa menggetarkan hatinya. Ia bukannya tak tau kalau selama ini Laras menaruh hati padanya. Hanya saja ia tak mau menyakiti hati perempuan lagi seperti halnya ia yang pernah menyakiti Shasa.
Ngomong-ngomong soal Shasa, bagaimana keadaannya sekarang? Radit meraih ponselnya kemudian membuka sosial media Shasa, namun tak ada postingan baru disana. Terakhir hanya foto Shasa bersama berondongnya dulu.
"Br3ngs3kk!" Radit menggenggam erat ponsel yang ada di tangannya.
"Apa bener malam itu kita melakukannya Sha? Kenapa aku gak ingat sama sekali? Jika benar malam itu kita melakukannya, kenapa usia kandungan mu sudah enam minggu? Bukankah itu berarti sebelum melakukannya dengan ku kamu sudah melakukannya dengan orang lain?" Radit bermonolog sendiri di dalam ruang kerjanya yang ada di restoran tersebut.
__ADS_1
"Aaaarrgh!" Teriak Radit frustasi. Ia kemudian meninggalkan ruangannya untuk berpindah ke kafe sebelah.
"Pak Imron, aku ke sebelah dulu." Pamitnya pada manager restoran.
"Siap pak!" Jawab pak Imron sopan. Meskipun ia jauh lebih tua, tetap saja Radit adalah bosnya sekarang.
*****
*****
*****
*****
*****
__ADS_1
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ââðð