
"Don!" Terdengar sapaan dari belakang saat mama Dona akan memegang handel pintu. Sontak mama Dona dan Shasa menoleh dan mendapati Tante Rosi yang berjalan ke arahnya sambil mendorong stroller bayi, dimana ada baby Radha yang sedang terlelap. "Sudah sampai?"
"Dari mana Ros?" Tanya mama Dona.
"Dari taman tadi, cari matahari pagi. Ayo masuk!" Shasa dan mama Dona segera mengekor di belakang Tante Rosi. Tante Rosi mengangkat baby Radha dari stroller kemudian memindahkannya ke dalam box bayi.
"Apa kabar Ros?"
"Seperti yang kamu lihat, aku baik dan sangat bahagia karena ada cucu yang menemani hari-hari ku sekarang. Pasti Shasa sudah cerita ke kamu kan?" Mama Dona mengangguk.
"Cantik!" Ucap mama Dona memperhatikan baby Radha. Ingin sekali mama Dona menggendongnya, tapi takut mengganggu baby Radha yang sedang terlelap.
"Pengen kan?" Tante Rosi meledek mama Dona, namun mama Dona mengangguk. "Suruh Shasa cepet-cepet nikah biar bisa kasih cucu. Udah lulus kuliah kan."
"Iya Tan, tinggal wisuda." Jawab Shasa meringis.
"Nah bagus, cepetan nikah Sha. Mama mu udah pengen nimang cucu ini."
"Calonnya belum ada Tan." Jawab Shasa malu-malu.
__ADS_1
"Lah, katanya udah tunangan?"
"Udah putus tan!" Jawab Shasa sendu.
"Udah gak usah bahas lagi buaya kampret itu." Geram mama Dona. "Udah berapa lama Anja koma Ros?"
"Udah dua Minggu lebih Don."
"Kasihan, anak sebaik Anja tapi nasibnya kurang beruntung." Tante Rosi mengangguk membenarkan ucapan mama Dona. "Siapa yang jaga kalau malam?"
"Nara lah, siapa lagi. Tapi kalau dia capek ada suster Farah yang aku sewa khusus buat jaga Anja dan ngurus Radha kalau aku bawa ke rumah sakit begini." Tante Rosi menunjuk suster Farah yang duduk di dekat box bayi. Suster Farah tersenyum menanggapi.
"Udah ada mbak Tini yang bantu di rumah."
Mama Dona dan Tante Rosi nampak mengobrol asyik di sofa, sedangkan Shasa memilih duduk di samping Anja. Di genggamnya erat tangan lemah Anja seolah memberinya kekuatan, kemudian berbicara dengan lirih di dekat telinga Anja.
"Semangat Nja, kamu harus punya keinginan yang kuat untuk bangun. Jangan menyerah, Radha butuh kamu Nja. Apa kamu tak kasihan padanya. Lihat, anak mu sangat cantik seperti kamu. Aku harap kamu akan bangun sebelum aku pergi. Ya, aku akan pergi jauh Nja, agar aku bisa melupakan kenangan buruk yang ada di sini. Maaf kalau aku pernah punya salah sama kamu. Aku harap jika nanti kita di pertemukan kembali, kamu tak melupakan ku." Shasa mengusap air matanya yang membasahi pipinya.
"Aku hamil Nja, sebentar lagi aku juga akan jadi ibu seperti kamu." Bisik Shasa seraya mengelus perutnya perlahan. Dan lagi-lagi tanpa sengaja suster Farah melihat adegan tersebut. Namun ia memilih diam saja dan gak mau ikut campur urusan orang karena itu bukan tugasnya.
__ADS_1
"Kamu gak perlu tau siapa bapaknya. Karena bapaknya tidak menginginkannya, dan anak ku juga tidak butuh pengakuan dari bapaknya. Aku yakin bisa membesarkannya sendiri, aku akan jadi ibu yang kuat buat anak ku nanti. Aku janji! Dan kamu juga harus janji, kita akan sama-sama menjadi mama yang kuat untuk anak kita. Nanti kalau anak ku laki-laki, gimana kalau kita jodohkan mereka? Hihihi..."
"Sha! Kamu lagi ngetawain apa?" Mama Dona keheranan. Rupanya Shasa tanpa sadar kelepasan.
"Enggak kok ma, Shasa cuma cerita saat-saat kebersamaan kami dulu. Siapa tahu Anja mendengarnya kemudian meresponnya dan mau bangun dari tidurnya." Bohong Shasa.
"Owh, bagus itu. Lanjutkan Sha." Perintah Tante Rosi. Shasa pun melanjutkan ceritanya. Tanpa Shasa sadari, sudut mata Anja mengeluarkan setitik air mata.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ââðð