
Braakk!
Laras menutup pintu kamar hotel dengan keras, lalu terduduk di tepi ranjang seraya menangis tergugu. Radit yang baru masuk ke dalam kamar langsung duduk di samping istrinya.
"Maaf!" Hanya kata itu yang mampu Radit ucapkan. Ia sendiri bingung apa yang harus ia lakukan.
"Maaf? Hanya maaf saja? Apa Mas Radit tidak berniat menjelaskan semua ini? Bagaimana bisa wajah anak kembar Shasa bisa begitu mirip dengan suami ku? Bahkan seperti pinang di belah dua. Apa ada yang kamu sembunyikan dari aku Mas?" Laras mencecar suaminya dengan pertanyaan bertubi-tubi.
"Maaf, aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi."
"Tidak tau? Apa kamu bercanda mas?" Laras mulai meninggikan suaranya.
"Tenang dulu Ras, aku akan menjelaskan semuanya." Radit pun perlahan mulai menceritakan semuanya. Berawal dari pertengkarannya dengan Shasa di kampus waktu itu, hingga ia mabuk dan tiba-tiba saat terbangun sudah berada di kamar apartemennya. Kemudian Shasa menghilang selama satu bulan terus Shasa datang menemuinya di cafe dan mengatakan kalau dirinya sedang hamil enam minggu. Ia yang waktu itu tak percaya jika Shasa hamil dengannya, ia pun menolak untuk bertanggung jawab. Hingga Shasa kembali menghilang.
"Dan sekarang kamu masih ragu? Br3ng$3k kamu mas!"
Plaakk!
__ADS_1
Satu tamparan mendarat cantik di pipi kiri Radit, namun Radit hanya diam saja menerima kemurkaan istrinya.
"Sekarang ceraikan aku dan bertanggung jawablah pada Shasa dan kedua anak mu!" Teriak Laras tepat di depan wajah Radit suaminya.
"Aaaaarrrrgh!" Teriak Radit frustasi seraya mendorong tubuh istrinya hingga membentur nakas yang ada di samping ranjang.
Braakk!
"Aaaaakh!" Seketika itu Laras meluruh ke lantai disusul dengan lampu tidur yang ada di meja terjatuh tepat di atas perut Laras.
"Aaaaakh!" Jerit Laras untuk kedua kalinya seraya memegang perutnya yang terasa nyeri.
"Laras sayang, hey, maafkan aku. Bangun Ras!" Radit menepuk-nepuk pipi sang istri yang perlahan hilang kesadarannya. Darah segar nampak mengalir di sela kaki Laras. Radit pun seketika panik dan langsung menggendong tubuh istrinya keluar dari kamar hotel.
"Tolong!" Teriak Radit menggema di lorong hotel. Bu Mayang yang baru saja keluar dari lift langsung berlari menghampiri Radit. Bu Mayang memang tadi ingin melihat keadaan anak dan menantunya. Bu Mayang takut terjadi pertengkaran di antara mereka atau terjadi sesuatu. Dan benar saja, seketika itu Bu Mayang langsung histeris saat melihat anaknya sudah tidak sadarkan diri dalam gendongan sang suami dengan darah yang mengalir di kakinya.
"Laraaaaaass! Ya Allah anak ku."
__ADS_1
"Ayo kita bawa Laras ke rumah sakit ma." Radit segera masuk ke dalam lift diikuti oleh Bu Mayang yang langsung menekan tombol lift lantai dasar.
Saat pintu lift terbuka, sudah ada Seno yang berdiri tegak dengan menggendong baby Camelia. Tadi Seno ingin naik ke kamar hotelnya karena baby Camelia sudah mengantuk.
"Astagaaaa! Ada apa ini?" Seno ikutan panik saat melihat keadaan Laras. Tanpa memperdulikan keterkejutan Seno, Radit segera berlari menuju loby hotel untuk mencari bantuan. Bu Mayang dan Seno pun ikut berlari di belakang Radit. Salah satu scurity yang berjaga di depan langsung mencegat taksi yang kebetulan lewat. Radit segera masuk ke dalam taksi tersebut diikuti oleh Bu Mayang dan juga Seno yang langsung duduk di depan samping kemudi seraya memangku baby Camelia, karena Seno tak mungkin meninggalkan anaknya itu dengan orang lain. Taksi pun langsung melesat menuju ke rumah sakit terdekat.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ââðð