
Selepas Dzuhur jenazah papa Angga tiba di rumah duka. Di rumah itu sudah terlihat ramai oleh sanak saudara, tetangga dan juga beberapa kolega bisnis papa Angga. Tak terkecuali papa Andika yang tadi langsung berangkat ke Bandung bersama mama Dona, sesaat setelah mendengar kabar kematian papa Angga. Meskipun ia kecewa dengan keluarga Erlangga tapi itu tidak menutup mata hatinya bahwa ia dan papa Angga sudah bersahabat sejak kecil.
Peti yang berisi jenazah papa Angga di letakkan di ruang tengah. Suara isak tangis mama Shela masih terdengar sesenggukan. Mama Dona perlahan mendekati mama Shela kemudian memeluknya.
"Sudah Shel, ikhlaskan mas Angga biar tenang disana." Mama Dona mengusap punggung mama Shela pelan kemudian mereka duduk di samping peti jenazah.
Radit nampak duduk menunduk di pojokan. Ia sengaja duduk menjauh karena ingin memberi waktu buat papa Andika agar bisa lebih dekat dengan jenazah papa Angga. Dan Radit juga tau diri untuk tak menunjukkan muka lagi di hadapan papa Andika.
Pukul tiga sore jenazah papa Angga di berangkatkan ke pemakaman, tempat peristirahatan terakhirnya. Prosesi pemakaman berjalan dengan khidmat selama kurang lebih dua jam lamanya.
Semua orang yang hadir di acara pemakaman tersebut satu persatu meninggalkan pemakaman setelah acara pemakaman selesai. Begitupun mama Shela yang di papah oleh teh Nur, langsung kembali ke rumah karena kondisinya memprihatinkan. Tertinggal Radit yang masih setia menunduk di samping pusara papanya hingga hari mulai petang baru beranjak meninggalkan pemakaman.
*****
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan darat selama lebih dari sepuluh jam karena beberapa kali harus istirahat dan makan, mobil yang di kendarai oleh Erik dan Seno secara bergantian itu akhirnya tiba di Bandung tepatnya di kediaman Erlangga tepat pukul setengah satu dini hari.
Pak Yanto yang saat itu hampir tertidur kembali terbangun saat mendengar bunyi klakson mobil yang di tekan beberapa kali. Ia segera keluar dari kamar yang letaknya ada di samping rumah yang selama ini menjadi tempatnya beristirahat. Dan benar saja, ada sebuah mobil yang berhenti di depan pagar. Pak Yanto langsung berlari menuju pagar untuk membukanya.
Mobil langsung masuk ke halaman kediaman Erlangga yang nampak sunyi sepi itu setelah pak Yanto membukakan pagar. Pak Yanto segera berlari masuk ke dalam rumah membangunkan teh Nur yang malam ini di minta menginap oleh Radit. Teh Nur segera melesat menuju kamar Radit untuk membangunkannya. Sedangkan pak Yanto kembali ke depan untuk mempersilahkan teman-teman Radit masuk. Hanya Erik yang di kenali oleh pak Yanto, karena Erik lah yang selama ini dekat dengan keluarga Erlangga. Dan juga Erik berasal dari Bandung.
Radit nampak menuruni tangga dengan mata yang memerah. Entah itu karena nangis atau karena baru bangun tidur. Laras segera berhambur memeluk kekasihnya itu.
"Maafkan aku, hiks.. hiks.. kalau saja aku gak datang waktu itu om Angga gak mungkin anfal dan berujung seperti ini." Isak Laras di pelukan Radit.
"Hey bro, turut berduka ya." Seno memeluk Radit bergantian dengan Erik. Sedangkan Riani hanya menyalami Radit.
"Ibu turut berduka Dit." Bu Mayang memeluk Radit.
__ADS_1
"Terimakasih Bu."
"Teh Nur, tolong antarkan ke kamar biar mereka istirahat dulu. Mama juga udah istirahat, jadi besok saja ketemu mamanya." Teh Nur langsung membimbing mereka menuju ke kamar tamu. Karena di rumah itu hanya terdapat dua kamar tamu, maka Erik terpaksa harus tidur bersama Radit. Karena Seno sudah pasti tidur dengan istrinya, sedangkan Laras juga tidur dengan Bu Mayang ibunya.
*****
*****
*****
*****
*****
__ADS_1
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ââðð