
Wedding Day....
Hari yang ditunggu-tunggu Laras akhirnya tiba juga, kalau Radit entahlah. Sejak pagi Laras sudah di makeup oleh seorang MUA bawaan dari WO yang di sewa oleh mereka.
Acara ijab kabul akan di selenggarakan pukul sembilan pagi di kediaman Bu Mayang, sedangkan acara resepsinya pukul satu nanti di "RADITYA CAFE & RESTO" Riani dan Seno juga sudah tiba di Surabaya sejak kemarin. Saat ini usia kandungan Riani sudah menginjak empat bulan.
Tepat pukul delapan, Laras sudah selesai di makeup. Saat ini ia sedang berada di dalam kamarnya menunggu kedatangan mempelai pria yang tak lain adalah Radit dengan perasaan yang dag dig dug layaknya ada yang menabuh genderang di dalam dadanya.
"Ciyee, calon pengantin lagi nervous buk?" Canda Riani mencairkan ketegangan. Laras spontan melempar bantal ke arah Riani yang langsung di tangkap oleh Riani.
"Oh ya, gue lupa!" Riani menepuk jidatnya sendiri.
"Lupa apa?" Laras terlihat kepo.
"Belum posting foto loe, dulu kan loe juga posting foto nikahan gue."
"Memangnya loe udah punya foto gue? Nikah aja belum ini."
"Tenang gaess, di depan ada foto prewedding loe segedhe gaban." Ya, Riani tadi sempat memotret foto prewedding Radit dan Shasa dengan ponselnya. "Oke, sekarang tinggal kasih caption. Apa ya?" Riani mengetuk-ngetuk dagunya.
"Gak usah aneh-aneh!" Ucap Laras memperingatkan.
"Baiklah, gue kasih caption "Radit&Laras Wedding" aja, oke!" Setelah mendapatkan persetujuan Laras, Riani langsung meng-upload foto tersebut. Tak lupa ia juga menandai Seno, Anja, Shasa dan juga kedua mempelai.
*****
Dibelahan bumi lain tepatnya di Singapura.....
Sudah sejak semalam Shasa merasakan begah pada perutnya. Semalaman ia tak bisa memejamkan mata gara-gara perutnya terasa gak enak. Dibuat miring nganan gak enak, miring ngiri juga gak enak, apalagi telentang, dadanya langsung sesak. Suster Elsa juga semalaman gak bisa tidur karena merasa was-was, takut tiba-tiba majikannya itu melahirkan tengah malam. Namun hingga pagi menjelang, kira-kira sehabis subuh tadi Shasa baru bisa terlelap. Suster Elsa pun bernafas lega, pasalnya usia kandungan Shasa baru menginjak usia delapan bulan.
Pukul tujuh pagi Shasa baru terbangun karena merasakan perutnya yang mules seperti hendak buang air besar. Ia pun berteriak memanggil suster Elsa karena tidak bisa bangun sendiri.
"Sus!"
"Sus El!" Dua kali panggilan suster Elsa sudah masuk ke dalam kamar dan langsung membantu Shasa bangun dari tempat tidur, lalu mengikuti Shasa yang berjalan menuju kamar mandi. Sejak usia kehamilan Shasa menginjak tujuh bulan, Shasa mandi dengan di bantu suster Elsa. Awalnya Shasa menolak karena malu, namun setelah dipikir-pikir lagi, ia tidak lagi bisa melakukan semua hal sendiri jadi ia menyerah.
Shasa keluar dari kamar pukul delapan. Dengan dituntun suster Elsa, Shasa mendudukkan dirinya di kursi makan. Nampak Edward sedang lahap menyantap sarapannya. Suster Elsa langsung sigap melayani majikannya itu.
"Loe gak kuliah Ed?"
"Hari ini gak ada kelas kak." Jawab Edward tanpa mengalihkan pandangannya.
"Bagus! Temenin gue di rumah."
"Eh, gak ah, gue mau ngamar aja main game."
__ADS_1
"Main game di luar kamar kan bisa. Nanti main di ruang TV habis ini."
"Tapi janji gak minta yang aneh-aneh ya."
"Iya! Lagian dedek lagi gak pengen apa-apa ya sayang ya." Shasa mengelus perut besarnya.
Akhirnya dengan berat hati, Edward menemani Shasa duduk di depan TV. Shasa sibuk menonton acara gosip pagi yang di tayangkan di TV sedangkan Edward sedang asyik bermain game.
Klunting!
Bunyi notif pesan dari ponsel Shasa mengalihkan perhatian sang empunya dari benda kotak yang sejak tadi di pandanginya. Shasa segera meraih ponselnya yang ia letakkan di sofa samping ia duduk.
Klotak!
Ponsel Shasa terjatuh ke lantai bersamaan dengan jeritan Shasa yang membuat Edward serta suster Elsa panik seketika.
"Aaaarrgh!"
"Kak!"
"Mbak Shasa!"
Shasa meringis memegangi perutnya dengan tubuh yang bergetar. Air bercampur lendir mengalir dari sela p@h@ Shasa yang semakin membuat panik suster Elsa dan Edward.
"Mom! Bik Leni!" Teriak Edward seraya mengambil ponsel Shasa yang terjatuh. Saat membuka ponsel kakak sepupunya yang memang tidak terkunci itu seketika amarahnya memuncak.
"Br3ngs3kk b@jing@n k3p@r@t!" Teriak Edward mengeram.
Mom Yasmin dan bik Leni serta pak supir tergopoh-gopoh menghampiri Shasa di ruang TV. Akhirnya dengan di bantu pak supir, mereka membawa Shasa ke rumah sakit.
Setelah mengendara dengan kecepatan tinggi, mobil yang di kemudikan supir keluarga Gutawa itu akhirnya tiba di rumah sakit. Shasa langsung di bawa masuk ke dalam ruang bersalin dengan bantuan beberapa perawat laki-laki karena perawat perempuan tidak kuat mengangkatnya ke atas brankar.
"Mari pak langsung masuk saja, Bu Shasa butuh dukungan bapak." Ucap dokter Andrew pada Edward, membuat orang-orang yang ada disana melongo.
"Tap-tapi saya bukan suaminya dok." Tolak Edward tergagap yang membuat dokter Andrew mengernyit.
"Saya saja dok. Saya Mom-nya." Sela mom Yasmin langsung masuk ke dalam ruang bersalin di ikuti oleh dokter Andrew yang masih garuk-garuk kepala.
*****
Radit terlihat keluar dari kamar mandi yang ada di kamar laras. Entah sudah yang keberapa kalinya ia keluar masuk kamar mandi untuk buang air besar namun tak bisa keluar. Sejak semalam perutnya terasa begah dan pagi tadi terasa melilit. Radit pikir itu hanya efek dari nervousnya saja.
Radit tiba di rumah Bu Mayang sejak pukul setengah sembilan tadi bersama mama Shela, Erik dan juga kristian. Sengaja ia hanya membawa keluarga inti dan sahabatnya saja. Agar acara lebih khidmad karena hanya di hadiri oleh keluarga saja.
Tepat pukul sembilan pagi, acara ijab kabul di mulai karena mempelai prianya juga sudah datang. Radit menjabat tangan pak penghulu karena wali nikah Laras di wakilkan kepada wali hakim.
__ADS_1
"Mas Radit sudah siap?" Tanya pak penghulu pada Radit.
"Sebentar pak." Radit melepas jabatan tangannya kemudian berlari masuk ke dalam kamar mandi karena perutnya kembali mules. Yang membuat semua orang keheranan.
Sesaat kemudian Radit keluar dari kamar Laras dan langsung duduk di depan penghulu.
"Gimana mas Radit, sudah bisa di mulai?"
"Sudah pak!" Jawab Radit mantap namun di dalam dadanya sedang bergemuruh hebat seperti akan meledak. Radit kembali menjabat tangan pak penghulu.
"Baik kita mulai."
"BISMILLAHIRROHMANIRROHIM, SAUDARA RADITYA ERLANGGA BIN ALMARHUM ERLANGGA, SAYA NIKAHKAN DAN SAYA KAWINKAN SAUDARA DENGAN SAUDARI LARASATI PRASETYA BINTI ALMARHUM PRASETYA DENGAN MAS KAWIN UANG SERATUS JUTA RUPIAH DI BAYAR TUNAI!"
"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA, LARASATI PRASETYA BINTI ALMARHUM PRASETNYA DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT TUNAI!" Radit menjawab dengan lantang dan dengan satu kali tarikan nafas.
"Bagaimana saksi?"
"SAH?"
"Saaaaaaahhhh!"
*****
Oweeeeeeeekk...........
Bersamaan dengan kata sah yang terucap, dibelahan bumi lainnya lahirlah sepasang anak kembar yang berjenis kelamin laki-laki.
*****
*****
*****
*****
*****
Wooooaahh episode ini seribu kata lebih gaess ðĪ emak gak bisa motong jadi dua episode takut fill-nya gak dapet, jadi emak tulis dalam satu episode ð
Plis jangan ada yang menghujat Laras, karena disini Laras juga sebagai korban ðĪ korban keegoisan Radit ðĪŽðĪŽ
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ââðð
__ADS_1