
Hari-hari pun berlalu, Radit dan mama Shela sudah kembali ke Bandung karena kondisinya sudah membaik dan sudah diizinkan pulang oleh dokter. Radit pun sudah menjelaskan kepada Mamanya tentang kenapa ia bisa berada di Jakarta dan sampai masuk rumah sakit.
Setelah pertemuannya waktu itu dengan mama Shela di rumah sakit, Shasa tidak pernah lagi datang ke rumah sakit. Bahkan ia tau kalau Radit dan mama Shela sudah pulang dari suaminya. Shasa belum memiliki hati seluas itu untuk melupakan masalalu. Biarlah ia dikatakan pendendam, ia tidak peduli! Yang pasti hatinya masih sakit jika mengingat ucapan Radit di kafe waktu ia memberitahukan tentang kehamilannya kepada laki-laki br3n9$3k itu.
*****
Tak terasa sudah satu tahun lebih usia pernikahan Sasha dan dokter Andrew. Gerry dan Jerry saat ini sudah berusia empat tahun setengah dan sudah bersekolah di sekolahan elite yang ada di kota Jakarta. Dan Oma Sekar juga sudah meninggal dua bulan yang lalu.
"Hoooeekk..!" Shasa buru-buru bangun dari tidurnya saat merasakan perutnya seperti diaduk-aduk. Ia langsung melesat masuk ke dalam kamar mandi seraya membekap mulutnya kemudian menumpahkan isi dalam perutnya.
"Hoooeekk.. hoooeekk.." Dokter Andrew yang mendengar suara orang muntah-muntah perlahan mengerjapkan matanya. Nampak kegelapan yang pertama kali menyapa pandangannya, karena suasana kamar yang dalam keadaan gelap gulita. Dokter Andre memang tidak bisa tidur jika lampunya menyala terang. Dir@b@ny@ tempat tidur di sampingnya namun kosong. Ia pun tersentak dan segera bangun untuk menyalakan saklar lampu. Dan benar saja, istrinya itu tidak ada di atas tempat tidur. Dilihatnya jam yang menggantung di dinding kamar masih menunjukkan pukul lima pagi.
"Hoooeekk..!"
"Honey!" Dokter Andrew langsung melesat ke arah kamar mandi dan mendapati istrinya sedang muntah-muntah di wastafel kamar mandi. "Hey, kamu kenapa?" Dokter Andrew memijat pelan tengkuk istrinya.
__ADS_1
"Entahlah." Jawab Shasa lemas setelah membasuh mulut dan wajahnya.
"Sudah?" Dokter Andrew langsung menggendong tubuh sang istri setelah mendapat anggukan dari istrinya. Shasa pun tak protes karena memang badannya terasa lemas. Dokter Andrew membaringkan tubuh istrinya ke atas tempat tidur Kemudian menyelimutinya. "Sebentar aku ambilkan air hangat." Shasa hanya mengangguk. Dokter Andrew langsung melesat keluar dari kamar menuju ke dapur.
Sesaat kemudian dokter Andrew sudah kembali lagi ke kamar dengan membawa segelas air putih hangat.
"Ayo minum dulu." Dokter Andrew membantu sang istri duduk terlebih dahulu baru setelah itu menyodorkan gelasnya langsung ke depan mulut istrinya. Shasa pun langsung membuka mulutnya lalu meminum air hangat tersebut. "Sudah baikan?" Shasa mengangguk. Dokter Andrew meletakkan gelas ke atas nakas kemudian duduk di samping istrinya "Apa yang kamu rasakan honey?"
"Tadi tiba-tiba perut ku rasanya seperti diaduk-aduk, terus aku pengen muntah." Jelas Shasa. Dokter Andrew mengulum senyumnya. Pasalnya, ia yakin seratus persen kalau istrinya saat ini sedang mengandung anaknya. Ya, tanpa sepengetahuan istrinya, dokter Andrew sudah menukar pil KB sang istri dengan vitamin penyubur kandungan dua bulan yang lalu sepeninggalnya oma Sekar.
"Kenapa gak sekarang aja? Kamu kan juga dokter, masak nggak bisa meriksa istri sendiri? Atau berikan aku obat masuk angin saja." Pinta Shasa.
"Eits, nggak boleh minum obat sembarangan." Sergah dokter Andrew. Shasa mengernyitkan alisnya.
"Memangnya kenapa? Cuma masuk angin doang sayang, jangan khawatir."
__ADS_1
"Sudah, nurut kata suami."
"Baiklah." Akhirnya Shasa hanya bisa pasrah menuruti perkataan suaminya.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ââðđðđ