
Subuh menjelang, Radit yang merasakan pergerakan dalam pelukannya pun semakin mengeratkan pelukannya.
"Mau kemana?" Tanya Radit tanpa membuka matanya.
"Mau ke kamar mandi sebentar." Radit pun melepaskan pelukannya, membiarkan sang istri pergi ke kamar mandi.
Setelah beberapa menit berlalu, Laras kembali merebahkan tubuhnya di samping sang suami. Radit segera memeluk erat istrinya itu. Ia menyerukan kepalanya ke leher sang istri yang membuat tubuh Laras meremang. Laras pun membalas pelukan Radit tak kalah erat.
Radit mulai mencumbu istrinya itu, sesekali ia memberi gigitan kecil di leher jenjang istrinya dan meninggalkan jejak-jejak kepemilikannya disana. Laras hanya bisa menikmati cumbuan suaminya itu dengan memejamkan matanya.
"Boleh kan?" Radit meminta izin saat akan membuka kancing piyama istrinya. Laras hanya mengangguk pelan. Setelah mendapatkan izin dari sang istri, Radit segera melancarkan aksinya. Di cumbunya tubuh istrinya itu dari atas hingga turun ke bawah. Menciptakan gelenyar-gelenyar aneh pada syaraf, seperti aliran listrik bertegangan tinggi.
"Aaaaaahh!" Satu d3s@h@n lolos dari bibir Laras saat Radit bermain di kedua bukit kembarnya. Tangan Radit juga tak tinggal diam. Ia segera melepas semua yang tersisa di tubuh istrinya bagian bawah. Bermain-main disana sebentar. Merasa cukup dan milik istrinya yang sudah basah, Radit segera melucuti boxernya.
Dua anak manusia itu pun menikmati malam pertamanya di subuh buta yang udaranya terasa menusuk ke dalam tulang-tulang sendi, di tambah udara AC yang berhembus. Namun tak mampu mengalahkan panasnya aktivitas yang terjadi di atas ranjang tersebut.
__ADS_1
Hampir satu jam lamanya tubuh Radit serasa menegang, sepertinya ia hampir sampai. Sedangkan Laras sudah dua kali mendapatkan puncaknya. Radit semakin mempercepat gerakannya hingga lenguhan panjang keluar dari bibirnya.
"Sha, aaaaaaarrrgh!"
Deg!
Sha?
Sayang atau Shasa?
Dada Laras serasa dihimpit oleh bebatuan besar. Sesak! Air mata tak terasa mengalir begitu saja dari kedua matanya. Tubuh Radit ambruk di sampingnya. Laras segera meraih selimut untuk menutup tubuh polos mereka. Laras membalikkan tubuhnya membelakangi suaminya yang sepertinya sudah tertidur lelap. Laras tergugu menggigit selimut agar suara tangisannya tak terdengar oleh Radit.
*****
Oweeeeeekk.. oweeeeeekk..
__ADS_1
Mama Dona dan papa Andika serta suster Elsa yang berjaga di rumah sakit malam itu terlonjak dari tidurnya. Rasanya baru sebentar mereka terlelap sudah di bangunkan lagi dengan tangisan bayi. Semalaman baby twins rewel entah kenapa? Mungkin ia merasakan ikatan batin yang kuat dengan kedua orang tuanya. Suster Elsa langsung terduduk kemudian mencoba menenangkan salah satu dari kedua bayi tersebut. Mama Dona juga beranjak menghampiri box bayi dan membantu menenangkan bayi yang satunya.
"Sini ma, biar aku susuin Jerry." Shasa menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang di bantu oleh papa Dika. "Sus El tolong buatkan susu untuk Gerry." Suster Elsa menyerahkan Gerry kepada mama Dona setelah Jerry berada di pangkuan momnya, kemudian segera ke pantry rumah sakit untuk mencuci botol susunya sekaligus membuatkan susu untuk baby twins.
Selang beberapa menit, suster Elsa kembali dengan dua botol susu yang terisi penuh, kemudian menyerahkannya kepada mama Dona dan juga Shasa. Jerry juga nampak belum puas setelah menyusu pada momnya. Mungkin karena air susu Shasa yang belum lancar membuat Jerry merasa belum kenyang.
*****
*****
*****
*****
*****
__ADS_1
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ââðð