Luka Hati Luka Diri

Luka Hati Luka Diri
Episode 74


__ADS_3

JAKARTA


Tepat pukul sebelas siang pesawat yang ditumpangi Radit tiba di bandara internasional Soekarno-Hatta Jakarta. Dengan mengendarai taksi, Radit langsung meluncur menuju ke kediaman Pratama.


Taksi yang ditumpangi Radit berhenti tepat di depan gerbang kediaman Pratama. Radit segera turun dari taksi tersebut setelah membayar argonya. Dilangkahkannya kakinya menuju ke pintu gerbang.


"Pak, permisi!" Ucap Radit dengan suara yang agak keras. Pak Har, supir Oma Sekar yang melihat ada orang di pintu gerbang pun segera mendekat.


"Iya mas, cari siapa?"


"Shasa nya ada pak?"


"Owh non Shasa, ada mas. Mari silahkan masuk." Pak Har langsung membukakan pintu gerbang karena ia tidak tahu siapa tamunya tersebut. Takutnya itu adalah tamu penting majikannya. Dulu saat Radit datang pertama kali ke sana saat itu pak Har masih berada di dalam mobil, hingga ia tak mengenali Radit. Radit pun langsung melenggang masuk ke dalam.


Radit mengetuk pintu rumah kediaman Pratama saat tiba di depan pintu. Tak berselang lama pintu rumah pun dibuka dari dalam oleh seorang perempuan kisaran umur awal dua puluhan yang tak lain adalah Lely, salah satu pembantu Oma Sekar.


"Cari siapa tuan?"


"Shasa nya ada?"


"Owh non Shasa, ada tuan. Mari masuk, silakan duduk dulu saya panggilkan sebentar." Lely bergegas masuk ke dalam untuk memanggil Shasa yang saat itu sedang berada di ruang tv bersama kedua anaknya.


"Non maaf, di depan ada yang nyariin."


"Siapa Lel?" Shasa mengernyitkan alisnya bingung karena ia tak merasa memiliki janji dengan seseorang.


"Gak tau non, laki-laki."


"Laki-laki? Siapa?" Shasa semakin penasaran.


"Saya permisi dulu non." Lely segera berlalu dari ruang televisi. Shasa yang diliputi penasaran pun langsung melenggang menuju ruang tamu diikuti oleh kedua anaknya.


Deg!


Jantung Shasa serasa diremas kuat saat melihat siapa yang saat ini berada di hadapannya. Radit yang saat itu sedang duduk di kursi ruang tamu langsung beranjak dari duduknya ketika melihat Shasa dan kedua anaknya.


"Sha!"

__ADS_1


Shasa berdiri terpaku di tempatnya seraya m3r3m@$ kedua sisi baju yang dikenakannya.


"Shasa!" Perlahan Radit melangkah mendekati Shasa dan kedua anaknya.


"Mau apa kamu datang kesini!"


"Plis Sha, maafkan aku." Tubuh Radit meluruh ke lantai. Dengan bertumpu pada lututnya, Radit menangis memohon maaf kepada Shasa. Shasa selangkah mundur ke belakang. Badannya sedikit bergetar karena berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah.


"Maafkan aku Sha, maafkan aku."


"Hahaha.... maaf? Maaf untuk apa TUAN RADITYA ERLANGGA YANG TERHORMAT? Bukankah selama ini kamu merasa tidak bersalah? Lantas, kenapa sekarang kamu minta maaf kepada saya?"


"Maaf Sha, maafkan aku." Hanya kata maaf yang mampu terucap dari bibir Radit. Sedang kedua balita kembar yang berdiri di dekat mommynya hanya melongo menyaksikan apa yang terjadi di depan mata mereka.


"Izinkan aku memeluk mereka Sha, sekali saja. Bukankah mereka anak ku?"


"Hahaha....." Lagi-lagi Shasa tertawa. "Anak? Siapa yang kau anggap anak? Mereka?" Shasa menunjuk kedua anaknya. "Berani-beraninya kamu menyebut mereka adalah anak mu. Apa kamu lupa, dulu kamu menolaknya dan tidak mau mengakuinya, hah?" Shasa berteriak meluapkan sesak yang bersarang di dadanya.


"Maafkan aku Sha, maafkan aku. Kamu boleh menghukum ku apa saja.Tapi tolong, jangan pisahkan aku dengan anak ku." Mohon Radit benar-benar bersujud di depan kaki Shasa. Shasa pun mundur selangkah lagi.


"Pergi kamu dari sini dan jangan pernah kembali lagi kesini!" Teriak Shasa lantang menggema di setiap sudut ruangan.


"Ada apa ini? Ra-Radit, ngapain kamu ada disini!" Mama Dona mendelik ke arah Radit yang saat itu sudah kembali menegakkan kepalanya saat mendengar suara Mama Dona.


Braakk!


Papa Dika langsung membanting pintu mobilnya dan langsung berlari masuk ke dalam rumah saat mendengar teriakan di dalam rumahnya. Entah kenapa Papa Dika tadi ingin makan siang bersama kedua cucunya di rumah.


"Ada apa ini?" Papa Dika langsung melangkah mendekati Radit saat melihat siapa yang saat itu sedang berlutut di dekat anaknya.


"Br3n9$3k!" Papa Dika langsung mencengkram kerah kemeja Radit hingga Radit berdiri dari sujudnya.


Buuugh!


Satu bogem mentah mendarat tepat di rahang Radit hingga Radit tersungkur ke lantai dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.


"Pergi dari sini dan jangan pernah lagi mengganggu kebahagiaan anak dan cucu ku!" Teriak Papa Dika menggema.

__ADS_1


"Ma, bawa kedua cucuku masuk ke dalam." Mama Dona langsung menuntun kedua cucunya menaiki tangga untuk masuk ke dalam kamar mereka.


"Maafkan saya Om, maaf! Izinkan saya sekali saja memeluk mereka." Radit merangkak mendekat ke arah Papa Dika dan berlutut di hadapan papa Dika.


"Jangan harap! Sekarang pergi dari sini! Shasa! Masuk ke kamar! Jangan pernah menemui b@jin9@n ini lagi!" Papa Dika menunjuk Radit. Shasa langsung berlari menaiki tangga menuju kamarnya.


"Pergi kamu dari sini!" Papa Dika sekali lagi meraih kerah kemeja Radit kemudian menyeretnya keluar dari rumah.


Bruugh!


Papa Dika mendorong Radit hingga tersungkur kembali ke halaman rumah.


"Pak Har!" Teriak Papa Dika yang membuat Pak Har tergopoh-gopoh menghampirinya.


"I-iya tuan!" Ucap pak Har takut-takut.


"Perhatikan baik-baik wajahnya! Jangan pernah sekali-kali membukakan pintu pagar untuknya!"


"Ba-baik tuan!"


Braakk!


Papa Dika langsung masuk ke dalam rumah kembali seraya membanting pintu rumahnya keras.


*****


*****


*****


*****


*****


Wes emboh Dit, jangan protes sama emak kalo nasib mu emak bikin begindong ðŸĪ­ Emak juga takut di serbu deterjen kalau bikin hidup mu enak-enakan ðŸĪ­ðŸ˜‚😂


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕☕ðŸŒđðŸŒđ


__ADS_2