Luka Hati Luka Diri

Luka Hati Luka Diri
Episode 21


__ADS_3

Welcome to Singapore


Setelah menempuh perjalanan udara selama kurang lebih satu jam setengah dengan jarak tempuh Jakarta-Singapura sekitar 894km akhirnya Shasa tiba di bandara Changi Airport.


Shasa menyeret kopernya seraya celingak-celinguk seperti mencari seseorang. Ia merogoh ponselnya dan segera menghidupkannya guna menghubungi Edward, saudara sepupunya yang katanya tadi siap menjemputnya di bandara. Namun saat benda pipih itu baru menyentuh telinganya, sudah terdengar teriakan dari seseorang yang ia kenal betul suaranya.


"Kak!" Teriak Edward melambaikan tangan. Dengan nafas ngos-ngosan ia menghampiri kakak sepupunya itu. "Huh.. huh.." Edward berusaha mengatur nafasnya. "Maaf telat, habis kelas langsung kesini. Udah lama?"


"Baru aja, ayo!" Shasa melenggang dengan santainya meninggalkan kopernya.


"Kak woy, ini kenapa kopernya ditinggal?" Teriak Edward kesal.


"Katanya lakik, masa bawa koper gak kuat?"


Ngeeeeeekk!


"Ya, bukan gitu juga, kan bisa minta tolong baik-baik gak asal nyelonong kayak tadi." Gerutu Edward seraya menarik koper mengikuti kakak sepupunya yang sudah melenggang keluar.


"Mobilnya dimana?" Tanya Shasa celingukan.


"Makanya jangan asal nyelonong aja! Nanti di culik om-om botak baru tau rasa." Edward berjalan terlebih dahulu menuju mobilnya, Shasa pun mengekor di belakang.


Shasa segera masuk ke dalam mobil saat tiba di parkiran. Edward memasukkan koper ke dalam bagasi kemudian segera menyusul masuk ke dalam mobil. Namun ia tak langsung menjalankan mobilnya melainkan memindai kakak sepupunya yang duduk di samping kemudi.


"Wajah kakak pucat, kakak sakit? Apa kita ke dokter dulu?"


"Gak usah, cuma pusing doank! Ayo jalan!" Perintah Shasa. Edward pun segera menyalakan mesin mobilnya kemudian perlahan meninggalkan tempat parkir bandara.

__ADS_1


"Kakak sekarang gendutan, apa om dan Tante gak curiga?"


"Entahlah, semoga saja tidak."


"Sampai kapan?" Tanya Edward yang membuat Shasa mengernyit.


"Apanya?"


"Mau sampai kapan kakak menyembunyikan semua ini dari om Dika dan Tante Dona?"


"Entahlah Ed, biarkan kakak menenangkan diri dulu. Nanti kakak akan pikirkan lagi."


"Iya, mau sampai kapan? Lihat perut kakak sudar membesar? Masa iya om dan Tante gak curiga. Apalagi nanti mommy."


"Diem dulu dech! Kamu bikin kakak tambah pusing tau!" Sungut Shasa.


Braakk!


"Tan-,"


Bruukk!


"Shasa!"


"Kak!"


Jerit Tante Yasmin dan Edward bersamaan saat melihat tubuh Shasa limbung. Tante Yasmin segera berlari menghampiri Shasa begitu pun Edward yang langsung keluar dari mobilnya.

__ADS_1


"Kak, kak Shasa!"


"Shasa sayang!" Tante Yasmin menepuk pelan pipi keponakannya itu. "Ayo Ed, angkat kakak mu, masukkan ke mobil lagi. Kita langsung ke rumah sakit saja. Lihat wajah Shasa pucat begitu." Edward tanpa kata langsung membopong tubuh Shasa masuk lagi ke dalam mobil bagian belakang di ikuti mom Yasmin yang sigap langsung memangku kepala Shasa. Edward langsung melesatkan mobilnya membelah jalanan menuju rumah sakit terdekat.


Tergambar dengan jelas raut kekhawatiran di wajah Edward karena hanya dirinyalah yang tau kondisi Shasa saat ini yang tengah mengandung.


Sesampainya di rumah sakit Shasa langsung di bawa masuk ke dalam ruang UGD. Tante Yasmin nampak mondar mandir di depan ruang UGD. Sedangkan Edward tak kalah cemasnya duduk di kursi tunggu.


"Ed, coba kamu hubungi Tante kamu. Kasih tau kalau Shasa udah sampe."


"Kayaknya jangan dulu dech mom, tunggu kak Shasa sadar dulu. Nanti takutnya Tante Dona syok atau Oma ngedrop gara-gara dengar kabar kak Shasa gimana?"


"Iya juga ya, ya udah kita tunggu kakak kamu siuman dulu." Tante Yasmin kemudian mendudukkan dirinya di samping sang putra.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂

__ADS_1


__ADS_2