
Sudah seminggu lamanya Radit dirawat di rumah sakit, dan selama itu pula Radit tak pernah datang ke rumah Bu Mayang. Laras pikir, Radit sudah menyerah menunggunya. Dan itu semakin membuatnya mantap memilih untuk bercerai dari suaminya tersebut. Kalau Radit sudah tidak mau datang lagi ke rumahnya, maka ia sendiri yang akan datang ke pengadilan agama untuk mendaftarkan gugatan cerainya kepada suaminya tersebut. Ia tidak sudi jika harus datang ke apartemen Radit ataupun ke cafenya.
*****
Pagi ini Radit sudah diperbolehkan pulang oleh dokter karena kondisi kesehatannya sudah membaik. Dengan dijemput oleh Erik, Radit meninggalkan Rumah Sakit tersebut menuju ke apartemennya. Sebenarnya tadi Radit meminta untuk diantar ke cafe saja, namun Erik menolaknya dengan keras. Sesuai dengan nasihat dokter Robert, Radit harus banyak istirahat sampai kondisinya benar-benar pulih seperti sedia kala.
"Gue udah gak papa Rik, gue udah sehat."
"Gue tau boss, tapi jangan sekarang oke! Boss baru saja keluar dari rumah sakit. Serahin kafe dan restoran sama gue dan pak Imron."
"Baiklah, Erik yang cerewetnya melebihi emak-emak."
"Sialan loe bos!"
"Apa! Berani maki gue? Gue pecat loe sekarang juga!"
"Ah elah boss, kalau si boss pecat gue, yang urus kafe siapa?"
__ADS_1
"Gue bakal urus sendiri!"
"Udah ah boss, bercandanya serem. Gue balik aja ke kafe. Selamat beristirahat boss ku yang tampan dan baik hati." Erik segera melesat keluar dari kamar Radit sebelum bosnya itu mengeluarkan taringnya.
*****
Sore harinya tanpa sepengetahuan Erik, Radit datang ke rumah Bu Mayang untuk mengunjungi istrinya. Laras yang tidak tahu jika suaminya akan mengunjunginya sore itu, ia dengan santainya duduk di sofa depan televisi seraya memainkan ponselnya.
Radit langsung membuka pintu rumah mertuanya itu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Laras yang mendengar suara pintu dibuka, mengira jika itu adalah mamanya. Jadi ia cuek saja tanpa mempedulikan siapa yang masuk ke dalam rumah.
Radit yang melihat istrinya sedang asyik dengan ponselnya pun perlahan mendekati istrinya tersebut. Setibanya di belakang kursi yang diduduki oleh sang istri, Radit hanya diam saja memperhatikan istrinya dari belakang. Perlahan tangannya terulur mengelus kepala sang istri. Merasa ada yang mengusap kepalanya, Laras pun mendongakkan kepalanya dan seketika itu ia terkejut.
Pandangan Laras dan Radit bertemu, untuk sesaat pandangan mereka terkunci sebelum akhirnya Laras menyadari kehadiran Radit suaminya. Laras segera menepis tangan Radit yang masih berada di kepalanya kemudian berdiri menatap suaminya tersebut dengan pandangan marah.
"Mau apa lagi datang kesini?" Ketus Laras.
"Aku kangen sama kamu." Jawab Radit jujur. Dua tahun lebih, hampir tiga tahun bukanlah waktu yang singkat bagi Radit. Perlahan sedikit demi sedikit perasaan itu pasti ada. Apalagi mereka tidak pernah bertemu selama sebulan lebih.
__ADS_1
"Kangen?" Laras tersenyum sinis. Meskipun ia melihat wajah suaminya yang sedikit pucat, ia tidak akan goyah dengan pendiriannya. "Sekarang pergi dari sini dan jangan pernah kembali lagi kesini! Aku tunggu surat cerai dari kamu!" Laras langsung berlari masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintunya keras.
Braakk!
Radit hanya bisa menghela nafasnya panjang. Perlahan kakinya melangkah keluar dari rumah mertuanya. Percuma saja rasanya jika ingin membujuk istrinya itu. Lebih baik ia memberi waktu lebih untuk istrinya tersebut. Mungkin jatah waktu selama sebulan lebih ini tidak cukup untuk membuat istrinya mau memaafkannya.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ââðð