
Semilir angin berhembus menerbangkan helaian rambut Sasha yang sedang berada di atas ayunan di taman depan rumah kediaman Gutawa. Sore itu Shasa sedang memperhatikan keaktifan kedua anaknya dari atas ayunan. Sudah ada suster Elsa yang menjaga kedua anaknya tersebut.
Nampak Gerry sedang menendang-nendang bola, sedangkan Jerry sedang asyik menaiki mobil-mobilan hadiah ulang tahunnya yang kedua dari Oma dan Opa mereka yang ada di Jakarta yang tak lain adalah mama Dona dan juga Papa Andika.
Shasa terlihat mengotak-atik ponselnya. Ia dengan iseng mengupload foto yang diambilnya tadi pagi tanpa sepengetahuan orang yang ada di dalam foto tersebut. Dengan memberi caption, "Mereka memanggilnya Daddy ðĪ" Shasa menekan tombol send di layar ponselnya.
Boooomm!
Sudah bisa dipastikan jagat Maya akan kembali digemparkan dengan postingan Shasa tersebut. Tanpa disadarinya, bibirnya menyunggingkan seulas senyum saat memperhatikan punggung tegap lelaki yang ada di foto tersebut.
"Biarkan aku memantapkan hati ku dulu." Ucapnya seraya mengelus foto tersebut.
"Aku akan tetap sabar menunggu hari itu tiba." Ucap seseorang yang tiba-tiba sudah ada di dekat Shasa. Membuat Shasa terkejut dan seketika ponsel yang ada di dalam genggamannya meluncur. Beruntung orang tersebut segera menangkap ponsel Shasa.
"Dok-dokter Andrew? Se-sejak kapan dokter ada disini?" Tanya Shasa dengan suara gagapnya. Ya, orang tersebut adalah dokter Andrew. Dokter Andrew yang jam prakteknya hingga jam empat sore langsung pulang. Saat melewati kediaman Gutawa, matanya tak sengaja melihat Shasa yang sedang berada di atas ayunan. Sedangkan baby twins sedang bermain bersama perawatnya. Akhirnya ia memutuskan untuk turun dan menyapa balita kembar tersebut. Namun ia terlebih dahulu mendekati Shasa di ayunan karena melihat Shasa yang senyum-senyum sendiri. Niat hatinya ingin mengejutkan Shasa, namun apa yang ia dapatkan? Ia malah mendapatkan surprise bahwa saat itu Shasa sedang memandangi fotonya yang diambil dari belakang.
"Sejak ada yang bilang, 'Biarkan aku memantapkan hati ku dulu' seraya mengelus-elus foto yang ada di ponsel. Entah itu foto siapa?" Dokter Andrew menahan senyum gelinya. Shasa yang merasa terciduk hanya bisa garuk-garuk kepala saja.
"Maaf, iseng aja tadi." Shasa menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kenapa dari belakang? Kenapa nggak dari depan saja? Sayang kan punya wajah seganteng ini tapi motretnya dari belakang." Dokter Andrew sudah tidak bisa lagi menahan senyumnya membuat Shasa semakin malu.
"Sudah lihat komentar ku?" Tanya dokter Andrew mengangkat dagu Sasa dengan tangan kirinya karena tangan kanannya sedang memegang ponsel milik Shasa. Shasa pun menggeleng. Dokter Andrew menyodorkan ponsel Shasa agar Shasa bisa melihat komen dokter Andrew pada postingannya barusan. Shasa pun segera meraih ponsel tersebut dan langsung membuka postingannya. Dan benar saja sudah banyak ribuan like dan ratusan komentar pada postingan tersebut. Salah satunya komentar dari, @andrew_leo: Aku akan tetap sabar menunggu hari itu tiba ð
*****
Di tempat lain......
Ting!
Bunyi notif pemberitahuan sengaja Radit nyalakan agar saat ada unggahan dari teman-teman sosial medianya ia bisa tahu. Bukan itu sebenarnya tujuan utamanya. Ya, tujuan utama Radit sesungguhnya adalah ingin memantau seseorang yang selalu mengganggu hati dan pikirannya.
Deg!
Lagi-lagi foto yang diunggah Sasa berhasil membuat jantungnya bertalu-talu. Apalagi saat membaca caption yang disematkan oleh Shasa. Dadanya terasa nyeri bagai ditusuk-tusuk ribuan jarum beracun. Dan juga komentar dari seseorang pemilik akun @andrew_leo hatinya terasa panas seperti terbakar. Tanpa sadar Radit m3r3m@$ ponselnya dengan kuat hingga ponselnya tersebut retak.
"Br3ng$3k!"
"Aaaaaaarrrgh!"
__ADS_1
Braakk!
Pyaaaaaaarr.........
Ambyar sudah ponsel mahal tersebut saat menyentuh kerasnya dinding cafe.
*****
*****
*****
*****
*****
Gimana nanti kalau emak hadirkan Shasa dan baby twins di acara pernikahan Anja dan Nara? Ada yang setuju nggak?
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ââðð