
Mama Shela berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Namun bukannya menuju kantin, Mama Shela malah menuju ke ruangan dokter Andrew.
Setibanya di depan ruangan dokter Andrew, mama Shela langsung mengetuk pintu ruangan tersebut. Dokter Andrew yang baru saja masuk ke dalam ruangannya langsung membuka kembali pintu ruangannya.
"Tante?" Dokter Andrew sedikit terkejut saat melihat Mama Shela berdiri di depan pintu ruangannya dengan air mata yang bercucuran. Pasalnya setahu dokter Andrew, Radit sudah keluar dari rumah sakit ini dua bulan yang lalu.
"Boleh Tante masuk nak Andrew?"
"I-iya Tante, silahkan." Dokter Andrew segera membuka lebar pintunya dan mempersilahkan mama Shela untuk masuk, kemudian menutup kembali pintu ruangannya.
"Ada yang bisa saya bantu Tan?" Dokter Andrew mendudukkan tubuhnya di sofa depan mama Shela. "Apa sedang mengantar Radit kemoterapi?" Mama Shela menggeleng masih dengan air mata yang berlinang.
"Semalam Radit pingsan!" Ucap mama Shela berusaha menahan tangisannya, namun sialnya air matanya tak mau berhenti mengalir.
"Pingsan?" Beo dokter Andrew.
"Iya, semalam langsung Tante bawa ke rumah sakit yang ada di Bandung. Namun setelah mendapatkan pertolongan pertama, Radit langsung dirujuk ke sini."
"Bagaimana kondisi Radit sekarang Tan? Apa sudah sadar?"
__ADS_1
"Ya, Radit sudah sadar tadi pagi."
"Syukurlah......" Helaan nafas lega terdengar dari bibir dokter Andrew.
"Apa Tante bisa minta tolong kepada nak Andrew? Sekali Ini saja?" Mohon mama Shela.
"Minta tolong apa Tan? Kalau Andrew bisa Andrew pasti akan menolong tante."
"Tolong nak Andrew bujuk Shasa agar Shasa mengizinkan Radit bertemu dengan kedua anaknya. Nak Andrew kan suaminya, mungkin Shasa mau mendengarkan kata-kata nak Andrew."
"Anggap saja sebagai permintaan terakhir Radit." Lanjut mama Shela kembali sesenggukan hingga membuat dokter Andrew merasa tidak tega.
"Saya akan usahakan Tante. Tante yang sabar ya, semoga Radit cepat sembuh." Mama Shela mengurai pelukan dokter Andrew kemudian menggeleng.
"Sudah tidak ada harapan lagi, firasat tante mengatakan bahwa Radit akan pergi meninggalkan tante sendirian. Tante sudah kehilangan suami tante, dan sekarang tante harus siap kehilangan anak tante." Mama Shela semakin tergugu. Dokter Andrew segera merengkuh kembali Mama Shela ke dalam pelukannya.
Mama Shela kembali ke ruang perawatan anaknya bersama dengan dokter Andrew. Dokter Andrew yang melihat kondisi Radit saat ini mulai percaya dengan perkataan Mama Shela tadi.
"Dokter Andrew!" Lirih Radit saat melihat mamanya masuk ke dalam ruangannya bersama dokter Andrew.
__ADS_1
"Iya!" Dokter Andrew mendekat ke samping bed perawatan Radit.
"Tolong izinkan saya bertemu dengan kedua anak saya. Saya ingin memeluk mereka untuk yang pertama dan yang terakhir kalinya."
"Iya, saya tidak janji namun akan saya usahakan." Ucap dokter Andrew yang tak berani menjanjikan sesuatu yang sulit untuk ditepatinya. Sudah beberapa kali dokter Andrew berbicara dengan istrinya mengenai hal ini, namun istrinya itu tetap kekeh dengan pendiriannya yang tak mau berjumpa dengan Radit dan juga tidak mengizinkan kedua anaknya untuk menemui ayah kandungnya.
Dokter Andrew segera pamit undur diri karena jam praktek sudah dimulai. Dan tadi juga sudah banyak antrian yang menunggu di depan ruang praktek dokter Andrew yang tak lain adalah para ibu-ibu berperut buncit.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ââðđðđ