Luka Hati Luka Diri

Luka Hati Luka Diri
Episode 34


__ADS_3

Shasa semakin kepayahan di usia kandungannya yang menginjak tujuh bulan, bahkan dalam berjalan saja harus ada yang menuntunnya. Mom Yasmin dan Dad Erwin sepakat menyewa satu orang perawat untuk menemani Shasa serta bisa memantau perkembangan janin dan juga ibunya. Sekalian nanti bisa membantu merawat baby twins saat sudah terlahir.


"Sus El!" Panggil Shasa pada suster Elsa yang sedang mengupas buah apel di meja makan. Saat ini Shasa sedang duduk santai di depan TV menunggu suster Elsa mengupaskan buah untuknya. Merasa namanya di panggil, suster Elsa segera menghampiri Shasa.


"Iya mbak, ada apa?"


"Bantu aku ke toilet sebentar." Suster Elsa sigap membantu Shasa berdiri kemudian memapahnya ke kamar mandi yang ada di dekat dapur.


"Hati-hati mbak, apa perlu saya ikut masuk?"


"Eh, gak perlu sus. Sebentar aja kok, cuma mau pipis." Shasa langsung masuk dan menutup pintunya, sedangkan suster Elsa menunggu di depan pintu tanpa beranjak sedikit pun dari tempatnya. Sesuai dengan perintah mom Yasmin dan Dad Erwin, ia tak boleh meninggalkan Shasa sedikit pun kecuali saat ia mandi dan buang air.


*****


Radit dan mama Shela tiba di Surabaya sekitar pukul satu siang. Ya, hari ini mama Shela sengaja datang ke Surabaya untuk membicarakan hubungan anaknya dan Laras dengan Bu Mayang, calon besannya. Mama Shela sudah memberikan restunya kepada Radit. Karena ia ingin segera melihat anaknya menikah.


Setelah istirahat terlebih dahulu di apartemen Radit, pukul setengah empat sore dengan diantar Radit, mama Shela datang ke rumah Bu Mayang. Laras yang memang sudah di beri tahu oleh Radit tentang kedatangannya bersama sang mama pun langsung memberi tahu ibunya.


"Mari Tan silakan masuk." Laras mempersilahkan masuk mama Shela dan Radit. "Silahkan duduk, sebentar Laras panggil mama dulu." Laras langsung masuk ke dalam setelah mendapat anggukan dari mama Shela.


"Selamat sore Bu?" Sapa Bu Mayang saat tiba di ruang tamu.


"Sore Bu?" Balas mama Shela.

__ADS_1


"Mayang, panggil saja Mayang." Bu Mayang mengulurkan tangannya yang langsung di sambut baik oleh mama Shela.


"Saya Shela Bu Mayang."


"Mari silahkan duduk." Ucap Bu Mayang. Mama Shela pun kembali duduk di samping Radit. Tak lama Laras datang membawa minuman.


"Silahkan di minum dulu Tan." Ucap Laras seraya tersenyum sopan.


Setelah di lakukan perundingan antara dua keluarga yang sama-sama tak memiliki kepala keluarga itu, mereka sepakat akan melangsungkan pernikahan Radit dan Laras bulan depan yang akan di gelar di "RADITYA CAFE" secara sederhana. Waktu sebulan sudah cukup bagi kedua belah pihak untuk mempersiapkan pernikahan, tentunya dengan di bantu WO.


Setelah kepergian Radit dan mamanya, Laras langsung memeluk Bu Mayang erat. Kedua ibu dan anak itu sama-sama menangis, bukan karena sedih, tapi mereka berdua sedang meluapkan rasa bahagianya.


"Terima kasih ma." Laras semakin mengeratkan pelukannya.


"Sudah sepatutnya orang tua memberikan restu untuk anaknya." Bu Mayang membenamkan kecupan sayang di kepala anaknya.


"Hallo Ras!"


"Gue mau nikah Ri!" Teriak Laras kegirangan saking bahagianya.


"Apa? Nikah? Sama siapa?"


"Si Oneng lagi kumat, ya sama Radit lah, sama siapa lagi?"

__ADS_1


"Hehe, lupa!" Riani menggaruk kepalanya di seberang sana.


"Kapan?"


"Sebulan lagi, tadi Radit datang sama mamanya untuk membicarakan pernikahan kami."


"Selamat ya Ras, akhirnya kawin juga."


"Eh busyet, loe kira gue kambing pake kawin."


"Hahaha....." Tawa membahana terdengar di ujung telepon.


Sambungan telepon terputus saat mereka berdua sudah puas ngobrol ngalor-ngidul tak karuan. Hingga larut malam Laras tak kunjung bisa terlelap karena rasa bahagia yang membuncah di dalam hatinya. Membayangkan sebentar lagi ia akan menjadi nyonya Raditya Erlangga seperti mimpinya selama ini.


*****


*****


*****


*****


*****

__ADS_1


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂


__ADS_2