
Suara riuh tamu undangan yang menghadiri pesta resepsi pernikahan Radit dan Laras yang di gelar di "RADITYA CAFE & RESTO" siang itu tidak mampu menyadarkan Radit dari lamunannya. Radit seolah berada dalam dunianya sendiri. Hingga Laras menyenggolnya saat ada beberapa teman dan kolega Radit yang ingin mengucapkan selamat.
Pesta berakhir pukul empat sore. Riani, Seno dan Bu Mayang serta para pekerja rumah makan Bu Mayang langsung kembali ke tempat Bu Mayang. Sedangkan Radit, Laras dan mama Shela pulang ke apartemen Radit. Tertinggal Erik dan Kristian yang bertugas mengawasi petugas WO yang sedang mengemasi peralatannya. Dan juga para karyawan Cafe & Resto yang membantu membersihkan tempat tersebut.
"Mau mandi dulu mas?" Tawar Laras saat melihat Radit duduk melamun bersandar pada kepala ranjang. Laras bukannya tak tau kalau saat ini hati dan pikiran Radit sedang tidak bersamanya. Laras memaklumi itu, karena ia tau saat ini Radit belum mencintainya. Tapi, apakah ia tidak boleh sakit hati? Di hari yang seharusnya menjadi hari bahagia mereka berdua harus berakhir menjadi hari yang menyakitkan saat Radit yang baru saja sah menjadi suaminya itu seperti direnggut darinya dan hanya menyisakan raganya saja. Ya, memang sekarang Radit sudah sah menjadi miliknya, namun itu hanya raganya, tidak untuk jiwanya.
Radit yang tersadar segera beralih menatap Laras dan mencoba tersenyum. Sakit! Laras tau kalau itu hanya senyum palsu, namun ia berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
Radit beranjak dari ranjang kemudian berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Setitik air mata jatuh di pipi Laras, namun ia segera mengusapnya. Ia tidak mau terlihat lemah, ia harus kuat. Misinya baru saja di mulai, yaitu misi membuat Radit mencintainya. Bukankah pepatah Jawa mengatakan....
"*W*iting Tresno Jalaran Soko Kulino!" (Awal cinta berasal dari terbiasa)
Dan Laras akan membuktikan kebenaran pepatah tersebut. Ia hanya perlu berusaha lebih keras untuk mendapatkan hati suaminya itu.
Semangat!
__ADS_1
Pukul tujuh malam Laras, Radit dan mama Shela sudah berkumpul di meja makan. Dan Laras sendirilah yang menyiapkan makan malam tersebut.
"Mantu mama pinter masak ternyata." Puji mama Shela tulus yang membuat Laras terharu karena mendapatkan mertua sebaik mama Shela.
"Ah mama bisa aja. Kan mama punya rumah makan ma, jadi sedikit banyak Laras bisalah masak, walaupun cuma masakan alakadarnya."
"Beneran ini enak Lo Ras, iya kan Dit." Radit tersentak dari lamunannya kemudian mengangguk. Tak di pungkiri rasa masakan istrinya itu memang enak.
"Habis ini aku mau ke kafe sebentar, mau ikut?" Tawar Radit pada istrinya namun Laras menggeleng.
"Aku cape, mau istirahat saja."
"Sebentar saja ma." Radit beranjak dari duduknya kemudian mencium kening Laras yang membuat Laras terharu. Meskipun saat ini Radit belum mencintainya, tapi Radit memperlakukannya dengan lembut. Tak lupa Radit juga mencium tangan mamanya.
"Pergi dulu ma!"
__ADS_1
"Hati-hati! Pulangnya jangan kemaleman." Teriak mama Shela yang entah di dengar Radit atau tidak karena Radit sudah melenggang pergi.
"Mama masuk kamar dulu mau istirahat. Kamu juga harus segera istirahat, gak usah nungguin anak bandel itu pulang."
"Iya ma, habis ini Laras langsung istirahat. Laras mau cuci piring dulu." Laras segera membereskan meja makan kemudian mencuci piring kotor bekas makan malam mereka bertiga. Setelah itu Laras langsung masuk ke dalam kamar Radit yang sekarang menjadi kamar mereka berdua dan bersiap menjemput mimpi.
*****
*****
*****
*****
*****
__ADS_1
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ââðð