Luka Hati Luka Diri

Luka Hati Luka Diri
Episode 96


__ADS_3

"Aaaahh, ssssstt!" Shasa meringis seraya mencengkram perut bagian bawahnya, membuat dokter Andrew yang ingin menolong Mama Shela menjadi urung.


"Honey, apanya yang sakit?" Semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut menjadi panik berkali-kali lipat. Dokter Andrew segera menggendong tubuh istrinya kemudian membawanya keluar dari ruang ICCU lalu berlari menuju ke ruang UGD diikuti oleh Mama Dona dan juga Papa Dika dengan menggendong kedua cucunya masing-masing. Sedangkan Mama Shela yang terkulai di pelukan Erik juga langsung dibopong oleh Erik menuju ke ruang UGD juga atas perintah dokter Marchel. Dokter Marchel dan para perawat segera melepas alat-alat medis yang menempel di tubuh Radit.


*****


"Sus, siapkan alat USG!" Teriak dokter Andrew setelah merebahkan sang istri ke atas brankar yang ada di dalam UGD. "Panggilkan dokter Lusi, cepat!" Teriak dokter Andrew lagi. Meskipun ia yang selama ini menangani kehamilan istrinya, namun dalam keadaan seperti ini rasanya dokter Andrew tak mampu untuk berpikir jernih. Ditambah sejak tadi tangannya digenggam erat oleh sang istri membuatnya tidak bisa melakukan apapun.


Mama Dona terlihat mondar-mandir di depan ruang UGD, sedangkan Papa Dika dan si kembar duduk anteng di kursi tunggu.


Tak berselang lama dokter Lusi masuk ke dalam ruang UGD bersama seorang perawat yang tadi memanggilnya.


"Ada apa dok?" Tanya dokter Lusi. Meskipun tadi sudah dijelaskan oleh perawat yang memanggilnya, tetap saja ia tidak bisa langsung menangani Shasa tanpa perintah dokter Andrew terlebih dahulu. Karena sebelumnya bukan dia yang menangani Shasa, melainkan dokter Andrew yang tak lain adalah suami dari Shasa sendiri.


"Tolong periksa istri saya dok, perutnya sakit!" Ucap dokter Andrew dengan suara sedikit bergetar karena rasa takut yang memenuhi pikirannya saat ini, melihat istrinya yang sejak tadi meringis kesakitan.


"Baik dok!" Doker Lusi langsung memeriksa kandungan Shasa menggunakan alat USG yang sudah disediakan oleh perawat. "Usia kandungan Bu Shasa saat ini sudah memasuki tiga puluh Minggu ya Dok? Kita harus segera melakukan operasi karena janin yang ada di dalam kandungan bu Shasa sungsang!" Jelas dokter Lusi.

__ADS_1


Deg!


"A-ayo dok kita lakukan sekarang!" Ucap dokter Andrew tergagap. Ia semakin menguatkan genggaman tangannya pada tangan sang istri, seolah memberikan kekuatan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Brankar yang membawa Shasa di dorong perlahan keluar dari ruang UGD menuju ke ruang operasi.


"Ndre!" Mama Dona langsung menghampiri menantunya saat melihat pintu ruangan UGD terbuka. "Bagaimana keadaan Shasa? Itu Shasa mau dipindahkan ke mana?"


"Shasa harus segera dioperasi ma, karena bayi yang ada di dalam kandungan Shasa sungsang." Jelas dokter Andrew kepada mertuanya.


"Mungkin karena tadi Shasa terkejut dan syok ma. Bantu doanya ma, pa, semoga operasinya berhasil. Istri dan anak ku selamat."


"Iya pasti! Mama dan Papa pasti akan bantu dengan doa." Dokter Andrew segera menyusul ke ruang operasi untuk menemani sang istri menjalani operasi caesar.


*****


Mama Shela rupanya sudah sadar dari pingsannya, dan menangis tergugu di dalam pelukan Erik.

__ADS_1


"Sudah ya Tan, Radit sudah tidak kesakitan lagi. Radit pasti bahagia karena sudah sempat bertemu dengan kedua anaknya." Mama Shela mengangguk dalam pelukan Erik membenarkan ucapan Erik. "Tante istirahat saja dulu di sini, biar aku yang mengurus kepulangan Radit. Nanti kalau sudah selesai aku kembali lagi ke sini. Apa perlu aku suruh Pak Yanto masuk untuk menemani Tante?" Ya, Pak Yanto saat ini duduk di depan ruang UGD.


"Gak usah Rik, cepat urus semuanya. Kita bawa Radit pulang ke Bandung, kita makamkan di samping makam papanya." Erik mengangguk, kemudian segera keluar dari ruang UGD untuk mengurus kepulangan jenazah Radit.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕☕ðŸŒđðŸŒđ

__ADS_1


__ADS_2