
Menjelang pagi tiba-tiba kondisi Radit ngedrop. Radit pun langsung di larikan ke ruang ICCU. Berbagai selang dan kabel serta peralatan medis lainnya nampak menempel di tubuh Radit. Jerit tangis Mama Shela menggema di depan ruang ICCU. Erik langsung merengkuh tubuh ringkih Mama Shela ke dalam pelukannya.
Satu jam lamanya akhirnya dokter Marchel yang menangani Radit keluar dari ruang ICCU.
"Bagaimana kondisi anak saya dok?"
"Huuuuuft!" Terdengar helaan nafas panjang keluar dari hidung dan bibir dokter Marchel secara bersamaan. "Hampir saja, tapi alhamdulilah masih di beri kesempatan."
"Saya nitip anak saya sebentar dok. Ayo Rik!" Tanpa menunggu jawaban dari dokter Marchel, Mama Shela segera menarik tangan Erik.
"Eh!" Hampir saja Erik terhuyung. Beruntung ia bisa cepat menguasai tubuhnya. "Mau kemana Tan?"
"Rumah Shasa sekarang!" Tanpa bertanya lagi Erik langsung mengikuti langkah Mama Shela menuju parkiran.
Erik dan mama Shela langsung masuk ke dalam mobil. Erik segera melesatkan mobilnya meninggalkan parkiran Rumah Sakit menuju ke kediaman Pratama. Tertinggal Pak Yanto yang duduk di depan ruang ICCU.
Jalanan nampak ramai karena memang jamnya berangkat kerja. Hampir sekitar satu jam akhirnya mobil yang dikendarai oleh Erik tiba di kediaman Pratama. Erik langsung menerobos masuk karena saat itu pintu gerbang terbuka lebar.
Nampak semua penghuni kediaman Pratama sedang berada di teras rumah. Dokter Andrew dan papa Dika yang baru saja akan masuk ke dalam mobil mereka masing-masing terpaksa mengurungkan niatnya saat melihat Mama Shela keluar dari mobil yang baru saja masuk ke dalam halaman rumahnya.
Mama Shela keluar dari mobil dan langsung berlari menghampiri Shasa di teras rumah.
"Shasa," Lirih mama Shela, tubuh Mama Shela merosot tertunduk tepat di bawah kaki Shasa membuat semua orang terkejut. TaK terkecuali Erik yang tadi ikut mengejar Mama Shela. Sejenak waktu terasa berhenti berputar.
__ADS_1
"Shela, apa yang kamu lakukan?" Pekik mama Dona menghampiri Mama Shela. Shasa yang baru tersadar segera memundurkan tubuhnya.
"Mama mohon Sha, kali ini saja Sha. Ijinkan Radit bertemu si kembar, Mama mohon. Hiks.. hiks.." Mama Shela benar-benar bersimpuh dihadapan Shasa.
"Mama!" Air mata lolos begitu saja dari kedua mata Shasa. Shasa mencoba membangunkan Mama Shela namun mama Shela menolak.
"Mama tidak akan bangun sampai kamu mengizinkan Radit bertemu dengan si kembar! Mama mohon Sha? Jika memang sudah tiba waktunya Radit untuk pergi, maka Mama mohon kepada mu untuk mengizinkan Radit bertemu dengan kedua anaknya untuk yang pertama dan terakhir kalinya." Semua orang terdiam menyaksikan drama mengharukan yang ada di depan mata mereka. Dimana seorang ibu yang rela bersujud di kaki orang lain demi anaknya. Serempak mereka semua yang menyaksikan itu mengusap sudut matanya yang berair. Tak terkecuali para pembantu rumah tangga yang juga ikut menyaksikan kejadian tersebut. Si kembar yang sudah berada di dalam mobil sang Daddy ikut menyaksikan semua itu. Namun otak kecilnya belum mampu mencerna kejadian yang dilihatnya.
"Mama!" Dengan tubuh bergetar menahan isak tangisnya, Shasa mencoba sekali lagi membantu Mama Shela untuk berdiri.
Bunyi ponsel Mama Shela yang berada di dalam tasnya mengalihkan atensi semua orang. Mama Shela segera merogoh tasnya guna mencari ponselnya. Tertera nama Pak Yanto dalam ponsel tersebut. Mama Shela pun segera mengangkat panggilan dari Pak Yanto.
"Hallo pak!"
TUT!
Mama Shela segera mematikan sambungan teleponnya kemudian beranjak dan langsung berlari menuju ke mobil.
"Erik! Ayo cepat kita kembali ke rumah sakit. Radit ngedrop!" Teriak Mama Shela. Erik segera berlari masuk ke dalam mobil dan langsung melesatkan mobilnya meninggalkan kediaman Pratama menuju ke rumah sakit.
"Aaahh, sssssttt!" Shasa meringis memegangi perutnya membuat semua orang yang ada di sana seketika panik.
"Honey!" Pekik dokter Andrew segera berlari menghampiri istrinya. "Are you oke?"
__ADS_1
"Sayang!" Mama Dona dan papa Dika ikutan panik.
"Gak papa, cuma kram dikit." Shasa mencoba tersenyum agar suami dan kedua orang tuanya tidak terlalu panik. "Ayo kita ke rumah sakit sekarang!"
"Apa kamu yakin honey?"
"Ya!"
Akhirnya pagi itu juga mereka semua pergi ke rumah sakit tempat Radit dirawat saat ini.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ââðđðđ
__ADS_1