
Pagi menjelang, Laras terlihat mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mengurai kesadarannya.
"Sssssttttt!" Laras mendesis pelan merasakan perut dan daerah kewanitaannya yang terasa sedikit nyeri. Radit yang tertidur di samping Laras dengan posisi terduduk dan kepala yang direbahkan di samping istrinya pun perlahan membuka matanya, kemudian menegakkan kepalanya dan mendapati istrinya yang sudah tersadar.
"Sayang, kamu sudah sadar? Ma, Laras sudah sadar." Teriak Radit memanggil Bu Mayang yang masih terlelap di sofa. Bu Mayang yang mendengar suara teriakan pun langsung terbangun dan mendapati anaknya yang sudah tersadar. Bu Mayang segera menghampiri anaknya itu yang terlihat berlinang air mata namun tanpa suara. Radit perlahan mundur untuk memberi ruang kepada ibu dan anak tersebut.
"Sayang," Bu Mayang langsung memeluk erat anaknya. "Yang sabar ya, kamu kuat! Kamu hebat!"
"Apakah dia pergi lagi ma?" Tanya Laras yang mulai terisak dalam pelukan ibunya. Sebenarnya Laras sudah merasa kalau dirinya sedang mengandung. Namun ia belum memastikannya karena ia belum memeriksakannya atau sekedar mengetesnya.
"Kamu yang kuat ya nak, mungkin memang belum rezeki kalian." Bu Mayang ikut terisak. Laras kemudian mengurai pelukannya lalu perlahan beralih menatap Radit suaminya.
"Dasar pembunuh kamu, pergi kamu pembunuh, pergi!" Teriak Laras murka seraya menuding ke arah Radit suaminya. Radit hanya menunduk pasrah karena memang ia merasa bersalah.
"Sayang," Bu Mayang kembali memeluk Laras mencoba menenangkan anaknya.
"Ada apa ini?" Suara lantang Seno tiba-tiba menyapa gendang telinga mereka dan menggema memenuhi ruang perawatan Laras. Terlihat Seno dengan menggendong baby Camelia memasuki ruang perawatan Laras di ikuti Anja, mama Rosi, Nara dan ketiga karyawan Bu Mayang.
"Pergi kamu pembunuh, pergi! Ceraikan aku, pergi!" Teriak Laras sekali lagi sebelum hilang kesadarannya. Laras terkulai lemas dalam pelukan ibunya.
__ADS_1
"Laras!" Teriak orang-orang yang ada di sana saat melihat Laras yang tak sadarkan diri.
"Sayang hey, bangun nak." Bu Mayang merebahkan tubuh anaknya ke atas bed kemudian menepuk-nepuk pipinya.
"Radit, panggil dokter!" Teriak Bu Mayang. Radit pun langsung berlari keluar dari ruangan untuk memanggil dokter.
Tak berselang lama, Radit sudah kembali dengan seorang dokter dan juga perawat.
"Mohon maaf semua, silahkan keluar terlebih dahulu agar kami bisa memeriksa pasien." Ucap perawat tersebut. Mereka pun langsung keluar dari ruangan tersebut.
"Sebenarnya ada apa, kenapa Laras menyebutmu sebagai pembunuh?" Tanya Seno dengan muka yang sudah memerah. Orang-orang disana pun sepertinya juga menunggu penjelasan Radit, termasuk Bu Mayang yang memang belum tahu kronologi kejadiannya hingga anaknya mengalami keguguran. Perlahan Radit mulai menjelaskan kejadian semalam.
"Br3n9$3k!"
Buuugh!
Satu pukulan keras dari Seno mendarat tepat di rahang Radit hingga membuat sang empunya tersungkur ke atas lantai. Seno kembali meraih kerah kemeja Radit dan ingin kembali menghadiahi Radit dengan pukulan keduanya, namun Nara dengan sigap menahan tangan Seno setelah terlebih dahulu memberikan anaknya kepada istrinya.
"Sudah Sen, tenang dulu, ini di rumah sakit. Nanti kalian bisa di seret keluar oleh scurity." Seno pun akhirnya bangkit dari atas tubuh Radit kemudian duduk di samping Bu Mayang.
__ADS_1
"Yah!" Baby Camelia terlihat ketakutan, matanya sudah berkaca-kaca seperti hendak menangis. Seno pun segera meraih anaknya.
"Iya sayang, ini ayah. Maaf ya?" Seno menciumi pucuk kepala anaknya seraya memeluknya erat.
Pintu ruang perawatan Laras dibuka kemudian disusul dengan keluarnya seorang dokter dan juga perawat.
"Permisi, pasien sudah kembali tenang. Kami tadi memberikannya suntikan penenang. Harap jangan membuat kegaduhan di sini, usahakan tenang biar pasien bisa istirahat." Ucap dokter tersebut yang langsung diangguki oleh semua orang yang ada di sana. "Kalau begitu kami permisi dulu, mari semua."
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ââðð