Luka Hati Luka Diri

Luka Hati Luka Diri
Episode 88


__ADS_3

"Ada apa pak?" Shasa celingukan keluar dari rumah menghampiri Pak Har yang sedang duduk di teras, bertepatan dengan mobil yang dikendarai oleh pak Yanto yang baru saja meninggalkan gerbang kediaman Pratama. Ya, tadi Shasa memang sempat mendengar suara orang berteriak, makanya ia keluar dari rumah karena penasaran dengan apa yang terjadi di luar.


"Tadi ada orang gila yang teriak-teriak di depan pagar non."


"Orang gila?" Beo Shasa seraya mengelus perutnya yang sudah terlihat sedikit membuncit karena usia kandungannya saat ini sudah menginjak empat bulan. "Amit-amit jabang bayi!" Batin Shasa.


"Iya non, pake pakaian rumah sakit, dan kepalanya botak." Jelas pak Har. "Tapi anehnya, ia teriak-teriak memanggil nama non Shasa dan juga Den Gerry dan Jerry non."


Deg!


Shasa terhenyak dan hampir saja limbung, beruntung pak Har langsung meraih tangan Shasa hingga membuatnya bisa tetap berdiri.


"Hati-hati non, sini duduk dulu." Pak Har menarik kursi yang tadi didudukinya agar Shasa segera duduk. Namun Shasa menggeleng.


"Ak-aku ke dalam dulu pak." Shasa langsung kembali masuk ke dalam rumah.


"Hati-hati non!" Ucap pak Har memperingatkan namun tak dihiraukan oleh Shasa karena sudah terlanjur masuk ke dalam rumah.


"Sayang, ada apa?" Tanya mama Dona menghampiri anaknya yang nampak sedikit pucat. "Kamu sakit Sha?"


"Sedikit pusing ma, Shasa ke atas dulu." Pamit Shasa langsung menaiki tangga satu persatu menuju kamarnya.


"Hati-hati Sha!" Teriak Mama Dona memperingatkan.

__ADS_1


"Oma-oma!" Gerry dan Jerry yang baru saja menyelesaikan makan siangnya langsung menghampiri Omanya. Kali ini mereka hanya makan siang berempat karena dokter Andrew sibuk dan tidak bisa pulang untuk makan siang di rumah. Sejak istrinya dinyatakan hamil, dokter Andrew melarang sang istri untuk datang ke rumah sakit mengantarkan makan siang untuknya. Ia akan menyempatkan diri pulang untuk makan siang di rumah jika memang tidak sibuk. Sedangkan papa Dika jarang sekali makan siang di rumah.


"Iya sayang, sudah selesai makannya?" Gerry dan Jerry mengangguk-angguk bersamaan.


"Mommy mana Oma?" Gerry nampak celingukan mencari mommynya.


"Mommy istirahat di kamar sayang." Gerry dan Jerry langsung berlarian menaiki tangga menuju kamar orang tuanya.


"Astaga! Hey, hati-hati!" Seru mama Dona yang tidak dihiraukan oleh kedua cucunya. "Huh, ampun punya cucu dua bikin spot jantung." Keluh mama Dona kembali ke ruang makan.


"Mommy-mommy!" Teriak si kembar saat memasuki kamar mommynya. Shasa yang saat itu sedang berbaring miring membelakangi pintu segera mengusap air matanya agar tidak terlihat oleh kedua anaknya kalau dia sedang menangis.


Gerry dan Jerry langsung melompat ke atas tempat tidur orang tuanya dan langsung memeluk mommynya.


"Tidak sayang!" Shasa perlahan mendudukkan tubuhnya. "Mommy hanya pusing, mungkin mau pilek. Lihat ini hidung mommy rasanya tersumbat." Si kembar memperhatikan hidung mommynya yang memang terlihat memerah.


"Abang telpon Daddy cepat!" Teriak Jerry memerintah sang kakak. Gerry pun segera meraih ponsel mommynya yang tergeletak di atas meja samping tempat tidur.


"Hey, mau ngapain sayang?"


"Daddy kan dokter mom, biar mom di periksa sama Daddy." Ujar Jerry polos.


"Hey, dengerin mommy ya." Shasa meraih ponselnya yang ada di dalam genggaman anaknya. "Daddy lagi sibuk sayang, buktinya tadi Daddy nggak sempet pulang untuk makan siang bersama di rumah. Dan lagi, nanti sepulang dari rumah sakit kan bisa. Mommy gak papa, jangan khawatir. Oke!" Nampak si kembar mengangguk.

__ADS_1


"Apa dedek nakal mom?" Tangan kecil Gerry terulur mengelus perut mommynya diikuti oleh Jerry.


"Tidak sayang, dedek kan pintar. Sama kayak Abang Gerry dan kakak Jerry." Shasa mengusap kepala kedua anaknya kemudian menciumnya bergantian. "Sekarang Gerry dan Jerry kembali ke kamar ya, waktunya bobok siang. Mommy juga mau istirahat." Si kembar mengangguk kemudian segera turun dari ranjang.


"Love you mom, muuach!" Gerry mencium pipi sang mommy kemudian melesat keluar dari kamar.


"Love you mom, muuach!" Jerry pun tak mau ketinggalan, ia segera mencium pipi sang mommy kemudian melesat keluar dari kamar orang tuanya. Tak lupa ia menutup pintu kamar orang tuanya. Setelah itu menyusul abangnya yang sudah masuk ke dalam kamar mereka.


Beribu-ribu syukur Shasa ucapkan dalam hati karena memiliki si kembar yang menjadi penguatnya.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕☕ðŸŒđðŸŒđ

__ADS_1


__ADS_2