Luka Hati Luka Diri

Luka Hati Luka Diri
Episode 12


__ADS_3

Ceklek!


Mendengar pintu ruangan di buka dari luar, Shasa dan Edward segera berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan Radit.


Nampak Radit berdiri mematung di ambang pintu. Perasaan yang sempat membuncah tadi tiba-tiba lenyap begitu saja saat melihat bukan hanya Shasa yang ada di dalam ruangannya, tetapi juga ada seorang cowok yang ada dalam postingan Shasa waktu itu. Seketika itu amarah mulai menguasai hatinya, namun ia berusaha meredamnya.


"Dit!" Sapaan Shasa menyadarkannya dari keterkejutannya.


"Heeemm!" Radit berjalan gontai menuju meja kerjanya kemudian meletakkan tasnya ke atas meja.


"Apa kabar?" Radit mencoba meredam amarahnya dengan bertanya kabar terlebih dahulu.


"Baik, loe?" Tanya Shasa balik.


"Seperti yang loe lihat, gue juga baik tanpa kurang suatu apapun." Jawab Radit lugas yang membuat Shasa ketar-ketir. Sepertinya memang benar, Radit jauh lebih baik tanpa dirinya.


Apa sebaiknya aku urungkan saja niat ku untuk memberitahukan kehamilan ku ini? Tapi biar bagaimana pun juga Radit harus tau kalau saat ini aku sedang mengandung anaknya. Dia mau terima atau tidak itu urusan nanti.


"Baru pulang kuliah?" Lagi-lagi Shasa mengucapkan kalimat basa-basinya. Niat hati ingin langsung bicara to the point tapi lidahnya terasa kelu.


"Heeemm! Ada apa?" Tanya Radit memicingkan matanya menangkap sesuatu yang mencurigakan dari gerak-gerik dan omongan Shasa yang seperti orang ketakutan.


"Gu-gue.... gue....."


"Kenapa? Loe kenapa?"


"Gu-gue hamil!" Jawab Shasa akhirnya bisa mengucapkan kata keramat itu. Sontak saja ucapan Shasa itu membuat Radit dan juga Edward terkejut setengah mati.


"Ha-hamil?" Beo Radit.

__ADS_1


"I-iya gue hamil!" Ucap Shasa sekali lagi.


"Terus?"


"Ya gue hamil anak loe."


"Anak gue?" Shasa mengangguk.


"Hahaha...... loe pikir gue percaya? Loe pikir gue laki-laki bodoh yang bisa loe bodohi semau loe. Loe menghilang selama satu bulan ini dan sekarang tiba-tiba loe datang ngaku-ngaku hamil anak gue? hahaha...." Sekali lagi tawa Radit menggema di ruangan tersebut. Tepatnya Radit tertawa miris.


"Gue berani bersumpah ini anak loe Dit, malam itu loe mabuk berat dan loe gak sadar ngelakuin itu ke gue."


"Hahaha... kalau gue mabuk dan gak sadar, kenapa loe yang waras mau-mau saja ngelakuin itu sama gue. Apa loe sengaja mau ngejebak gue agar mau nikah sama loe?"


Plaakk!


"Meskipun gue sangat mencintai loe, tapi gue gak pernah berpikir sepicik itu!" Teriak Shasa menuding ke arah Radit dengan air mata yang sudah berlinang sejak tadi.


"Dan lagi, gue gak pernah melakukan itu sama orang lain selain sama loe. Itupun yang pertama kalinya buat gue!" Shasa merogoh tasnya guna mencari foto hasil USG kemarin.


"Usianya sekarang enam minggu." Shasa menyodorkan foto USG tersebut kepada Radit.


"Enam minggu? Hahaha.... Bulshyiiiiiiitt!" Radit bukannya menerima malah menepis tangan Shasa hingga foto USG tersebut terjatuh ke lantai.


"Kenapa harus gue? Kenapa loe gak minta pertanggungjawaban sama berondong loe aja? Bukannya jika benar kita melakukannya malam itu seharusnya baru sebulan ini? Pikir pakai otak!"


"Tap-tapi emang itu kenyataannya."


"Stop! Sampai kapan pun gue gak akan mau tanggung jawab! Belum tentu juga itu anak gue."

__ADS_1


"RADITYA!" Teriak Shasa murka.


"GUE BERSUMPAH! TIDAK AKAN ADA ANAK KETURUNAN LOE YANG TERLAHIR KECUALI DARI RAHIM GUE!" Teriak Shasa menggema di dalam ruangan Radit.


Jedeeeeerrrrrr!


Suara petir terdengar sangat keras menembus ruangan Radit. Meskipun ruangan tersebut kedap suara, namun masih bisa mendengar bunyi apapun dari luar ruangan.


Tanpa pamit Shasa langsung menyambar tangan Edward yang sejak tadi hanya diam saja menyaksikan pertengkaran mereka. Shasa dan Edward keluar dari ruangan Radit dengan membanting pintu keras.


Braakk!


Shasa berlari menuju parkiran kafe tanpa memperdulikan hujan lebat yang mengguyur kota Surabaya. Sedangkan Edward tertinggal di belakang.


"Kenapa dia?" Tanya Erik menghadang Edward di dekat pintu keluar. Edward hanya mengedikkan bahunya acuh. Lebih tepatnya malas menjawabnya. Edward kemudian berlalu menyusul kakak sepupunya menerobos hujan.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂

__ADS_1


__ADS_2