Luka Hati Luka Diri

Luka Hati Luka Diri
Episode 20


__ADS_3

"Pusing lagi?" Tanya Erik saat memasuki ruangan bossnya itu melihat Radit sedang memijit pelipisnya.


"Heeemm! Ada apa?"


"Apa rencana loe kedepannya?"


"Kenapa?" Radit menegakkan tubuhnya.


"Tadi malam pak Umar pemilik resto di sebelah kafe ini datang nyariin loe."


"Tumben, ada perlu apa?"


"Loe masih cari tempat buat buka cabang baru gak sih?"


"Masihlah, tapi belum dapat yang strategis."


"Kebetulan kalau begitu."


"Kebetulan apa? Bisa gak kalau ngomong itu gak usah bertele-tele. To the point aja!" Sungut Radit kesal.


"Iya iya, sensian amat pak kayak ibu hamil. Oops!" Erik langsung membungkam mulutnya setelah menyadari ucapannya dan melihat tatapan horor Radit.


"Kalau gak penting keluar aja, jangan bikin gue tambah pusing."


"Iya, iya, jadi gini, semalam pak Umar datang dan nawarin restoran ke gue. Karena loenya gak ada jadi gue gak berani ambil keputusan sendiri. Pak Umar mau pindah ke luar negeri ikut anaknya dan ia mau ngejual Restorannya. Kalau bisa sebelum dia pergi restoran itu sudah ada yang membelinya. Gimana?"


"Ambil aja!"


"Serius bro?"


"Heeemm!"

__ADS_1


"Emang loe punya duit?" Tanya Erik menyelidik.


"Sialan loe!" Radit melempar pulpen ke arah Erik.


"Baiklah, nanti gue atur pertemuan loe sama pak Umar." Pungkas Erik kemudian keluar dari ruangan Radit.


Radit kembali memijat pelipisnya yang kembali berdenyut dan denyutannya semakin menjadi. Ia bangkit dari kursinya kemudian berpindah ke sofa lalu membaringkan tubuhnya disana dan memejamkan mata. Berharap rasa pusing itu akan mereda setelah dibuatnya tidur sejenak.


*****


"Apa rencana loe setelah lulus kuliah ras?" Tanya Riani. Saat ini mereka sedang duduk santai di warung depan televisi.


"Entahlah, untuk sementara gue mau fokus disini dulu."


"Gimana rencana pernikahan loe?" Tanya Laras balik.


"Udah lima puluh persen, udah di urus sama ibuk semuanya. Minggu depan gue udah harus pulang."


"Belum tau juga, terserah mas Seno saja. Kan kalau udah jadi istri harus manut sama suami. Kalau aku sih pengennya kerja dulu, nanti kalau udah punya anak baru jadi ibu rumah tangga tulen."


"Gue setuju sama loe." Sahut Laras.


"Loe sendiri kapan nikah?" Tanya Riani yang membuat Laras melotot sebal.


"Jodohnya saja belum kelihatan hilalnya."


"Wkwkwk!" Laras dan Riani tergelak bersamaan.


"Sayang!" Tiba-tiba Seno datang mendekat.


"Eh, kok ada di sini mas? Sendirian?" Riani terkejut begitu pula Laras.

__ADS_1


"Hem, tadi habis kirim barang sekalian mampir. Dekat kok, jadi gak bawa temen, lagian cuma kursi-kursi single dan meja, cincailah." Jawab Seno. "Kamu jadi pulang Minggu depan?" Seno menarik kursi mendekat lalu mendudukinya.


"Jadi donk, kenapa?"


"Aku kayaknya gak bisa bareng, kamu naik travel aja ya. gak papa kan? Soalnya jadwal pengiriman ku padat sampai hari Selasa. Mungkin aku hari rabunya baru bisa balik."


"Ya udah gak papa, aku bisa sendiri kok. Mau makan atau minum?"


"Minum aja, masih kenyang."


"Baiklah!" Riani segera beranjak membuatkan Seno minum.


"Habis lulus mau ngapain Ras?" Tanya Seno kepada Laras.


"Gak tau mas, mau ngurus warung aja. Kan habis ini di tinggal Riani, jadi gak ada yang jaga."


Obrolan mereka berlanjut hingga jam makan siang. Setelah makan siang sekalian di warung, Seno pamit untuk kembali ke mebel pak Raffi. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya karena dua Minggu lagi ia dan Riani akan melangsungkan pernikahan.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂

__ADS_1


__ADS_2