
Sudah hampir sebulan ini papa Angga berada di ruang ICCU. Dan selama itu pula Radit berada di Bandung. Laras sudah kembali ke Surabaya keesokan harinya dengan di antar Radit ke bandara. Laras terbang sendiri ke Surabaya tanpa Radit bersamanya.
Setiap hari Radit dan mama Shela bergantian menjaga papa Angga di rumah sakit. Tapi lebih banyakan Radit yang berjaga karena kondisi kesehatan mama Shela juga sedikit menurun karena kelelahan dan tentunya karena banyak pikiran.
Pagi ini, tepat dua puluh tujuh hari papa Angga di rawat di rumah sakit, papa Angga menghembuskan nafas terakhirnya. Jerit tangis mama Shela memenuhi ruang ICCU tersebut saat peralatan medis yang menempel di tubuh papa Angga di lepaskan satu persatu oleh dua orang perawat.
"Papa!" Jerit mama Shela di pelukan Radit sesaat sebelum akhirnya mama Shela tak sadarkan diri.
"Dok, tolong!" Seketika itu Radit panik. Dokter dan suster yang masih berada di dalam ruangan tersebut langsung sigap mengambil brankar. Radit langsung menggendong mama Shela kemudian merebahkannya ke atas brankar. Suster langsung mendorong brankar tersebut masuk ke dalam ruang UGD.
Rasanya Radit ingin berteriak sekeras mungkin untuk meluapkan segala rasa yang bergemuruh di dadanya. Ia duduk termenung menopang kepalanya di depan ruang UGD. Sesaat kemudian Radit meraup wajahnya dengan kasar lalu ia segera menghubungi pak Yanto untuk mempersiapkan pemakaman papa Angga.
Berita kematian papa Angga sudah tersebar di kalangan kolega bisnis papa Angga, termasuk papa Andika orang tua Shasa. Tak lupa Radit juga menghubungi Erik dan Laras.
*****
__ADS_1
Erik yang mendapat kabar dari Radit begitu syok. Pasalnya selama ini ia sering berkabar dengan papa Angga. Ya, tanpa sepengetahuan Radit, selama ini papa Angga sering menghubungi Erik guna menanyakan kabar anaknya itu. Erik pikir, penyakit papa Angga tak separah itu hingga merenggut nyawanya.
Laras yang mendengar kabar kematian papa Angga pun juga ikut syok. Ia merasa bersalah karena menjadi penyebab papa Angga anfal. Laras tidak cerita kepada Bu Mayang kalau ia mendapat penolakan dari papanya Radit. Ia hanya cerita jika papanya Radit saat ini sedang sakit. Laras langsung menemui Erik ke kafe. Tak lupa ia juga menghubungi Riani. Riani yang saat ini sedang hamil muda pun ikutan syok. Beruntung kandungannya sehat dan baik-baik saja.
Setelah terjadi perundingan antara Laras dan Erik, akhirnya di putuskan untuk pergi ke Bandung dengan perjalanan darat saja. Erik dan Seno nanti yang akan bergantian menyetir mobilnya.
*****
Di tempat lain, lebih tepatnya di Singapura.
"Maafin Shasa om, maaf kalau Shasa sudah menghancurkan mimpi om selama ini."
"Tante Shela, maaf kalau Shasa pergi tanpa pamit. hiks.. hiks.." Shasa merebahkan tubuhnya seraya mengenang kebaikan dan kasih sayang kedua orang tua Radit yang selama ini tercurah untuknya.
*****
__ADS_1
Siang itu juga Laras, Erik, dan Bu Mayang berangkat ke Bandung. Sedangkan Seno dan Riani akan menunggu di halte pinggir jalan raya yang biasanya digunakannya saat menunggu bus jurusan Surabaya Semarang. Memang rumah Riani berada di sebelah baratnya Surabaya, jadi ia tak perlu ke Surabaya dulu. Cukup menunggu di halte saja.
Riani yang saat itu sedang hamil muda, ngotot ingin ikut ke Bandung. Padahal Seno dan orang tuanya sudah melarangnya. Karena kekeras kepalaan Riani, akhirnya Seno terlebih dahulu bertanya ke bidan. Setelah mendapat izin dari bidan, Seno baru mengizinkan istrinya untuk ikut. Beruntung kondisi Riani dan kandungannya saat itu sehat dan beringas.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ââðð