
Satu bulan lamanya Radit dirawat di rumah sakit yang ada di Surabaya, namun belum ada tanda-tanda kalau dia akan segera siuman. Ya, setibanya di rumah sakit sebulan yang lalu, dokter menyatakan bahwa Radit koma. Selama itu Erik yang bolak-balik antara rumah sakit dan cafe. Ia sengaja tak memberitahu Mama Shela karena tak ingin membuat orang yang sudah dianggapnya seperti ibu sendiri itu syok. Namun setelah sebulan lamanya Radit tak kunjung membuka matanya, ia pun mau tak mau harus tetap menghubungi Mama Shela karena Radit akan segera dirujuk ke Jakarta agar mendapatkan perawatan yang jauh lebih baik. Bukannya di Surabaya tidak baik, namun dokter hanya menyarankan saja. Dan Erik langsung menyetujui saran yang diberikan oleh dokter tersebut karena tidak ingin terjadi sesuatu dengan bos sekaligus sahabatnya itu.
Sebelum berangkat ke Jakarta tadi Erik sudah menelpon mama Shela dan memberitahukan keadaan Radit saat ini. Ia juga meminta Mama Shela untuk langsung datang ke rumah sakit rujukan yang ada di Jakarta saja. Erik juga memasrahkan cafe dan resto kepada Sony dan Aldi serta Pak Imron.
Sesampainya di Jakarta, ternyata mama Shela sudah menunggu di lobby rumah sakit bersama pak Yanto sopir Mama Shela. Mama Shela dengan mata sebabnya langsung menghampiri brankar anaknya yang baru saja diturunkan dari ambulans.
"Radit, kamu kenapa lagi nak? Kamu harus bertahan nak, cuma kamu satu-satunya yang mama punya saat ini. Hiks.. hiks.." Erik ikut tersayat melihat mama Shela yang nampak rapuh.
Brankar Radit langsung di dorong menuju ruang ICU oleh para petugas kesehatan. Di dalam ruangan tersebut sudah ada beberapa dokter yang langsung sigap menangani Radit.
"Kenapa kamu baru memberitahukan keadaan Radit kepada Tante Rik?" Mama Shela nampak marah kepada Erik. Saat ini mereka bertiga duduk di kursi tunggu depan ruang ICU.
"Maaf Tan, maafkan Erik." Erik menundukkan kepalanya karena merasa bersalah. "Saya hanya takut membuat tante syok, dan saya juga tidak mengira kalau Radit bakalan koma selama itu."
"Mulai sekarang apapun yang terjadi dengan Radit segera hubungi tante."
__ADS_1
"Baik Tan, Erik janji."
"Ceritakan awal mula sampi Radit bisa koma." Meskipun Mama Shela sudah tahu tentang penyakit anaknya, tapi ia tetap ingin mendengar penjelasan dari Erik. Pasalnya selama ini anaknya itu sudah terlihat baik-baik saja. Erik pun segera menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
"Hiks.. hiks.. Apa yang dokter katakan?" Erik pun menjelaskan apa yang sudah dijelaskan oleh dokter Robert yang menangani Radit di Surabaya kepada mama Shela bahwa sekarang k@nk3r 0t@k yang di derita oleh Radit sudah masuk stadium empat.
"Kenapa secepat itu? Hiks.. hiks.." Isak mama Shela semakin terdengar pilu. Erik memberanikan diri untuk memeluk Mama Shela. Matanya memerah karena menahan tangis. Dadanya serasa bergemuruh hebat.
"Kita berdoa saja tante, agar Radit cepat sembuh. Semoga saja ada keajaiban buat Radit." Mama Shela mengangguk dalam pelukan Erik.
Tak berselang lama pintu ruang ICU terbuka, nampak dua orang dokter dan juga beberapa perawat keluar dari ruangan tersebut. Mama Shela dan Erik pun langsung beranjak dari duduknya dan segera menghampiri dokter tersebut.
"Pasien masih belum sadarkan diri Bu. Tapi ibu jangan khawatir, kondisi pak Radit sudah mulai stabil."
"Alhamdulillah!" Terdengar helaan nafas lega dari mama Shela dan juga Erik serta pak Yanto yang berdiri di dekat kursi tunggu.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi dulu Bu, usahakan kalau masuk satu orang saja bergantian."
"Iya dok!"
"Permisi!" Pamit dokter yang bername-tag Marchel itu yang umurnya sekitar tiga puluhan. Mama Shela segera masuk ke dalam ruang ICU untuk melihat kondisi anaknya.
*****
*****
*****
*****
*****
__ADS_1
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ââðđðđ