
Sebulan berlalu akhirnya Radit bangun dari komanya. Hanya ada mama Shela di dalam ruangan itu. Pak Yanto mungkin menunggu di depan ruangan, sedangkan Erik sudah kembali ke Surabaya seminggu setelah Radit dirujuk ke rumah sakit yang ada di Jakarta ini.
"Aku dimana ma?" Tanya Radit yang masih nampak linglung setelah kepergian dokter dan perawat. Matanya mengedar menyusuri ruang perawatannya saat ini. Ya, dua hari yang lalu kondisi Radit sudah stabil dan langsung dipindahkan ke ruang perawatan. Dan hari ini ia sudah mulai tersadar dari komanya.
"Kamu ada di rumah sakit nak, tepatnya di rumah sakit yang ada di Jakarta."
"Jakarta?" Beo Radit.
"Iya, sebulan yang lalu kamu dirujuk ke rumah sakit ini. Dan sebelum itu kamu juga sudah koma di rumah sakit yang ada di Surabaya selama satu bulan." Jelas mama Shela.
"Aku mau ketemu anak ku ma!" Radit mencoba turun dari ranjang dan berusaha melepas jarum infus yang melekat di tangannya.
"Sayang, jangan sekarang nak, kamu baru saja siuman." Mama Shela berusaha mencegah anaknya dengan memegangi tangan Radit yang tertancap selang infus.
"Tapi aku ingin bertemu mereka ma, Gerry, Jerry, ini papa nak, papa sangat merindukan kalian." Radit berusaha menepis tangan mamanya yang menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Hey, dengerin mama dulu. Nanti kita akan kesana bersama saat kondisi mu sudah membaik. Mama akan menemani kamu untuk menemui kedua anak mu." Akhirnya Radit menghentikan aksinya saat melihat air mata mamanya mengalir di pipinya.
"Mama jangan menangis, Radit tidak papa, Radit pasti sembuh." Radit mengusap air mata mamanya menggunakan tangannya.
"Ya, kamu harus sembuh. Cuma kamu yang Mama miliki satu-satunya." Anak dan ibu itu langsung berpelukan dalam tangis.
Erik yang mendapat kabar dari mama Shela bahwa Radit sudah siuman segera terbang ke Jakarta siang itu juga.
"Cepat sembuh boss, kami semua kangen sama si bos." Ucap Erik meringis sambil garuk-garuk kepala saat melihat mata bosnya itu sudah melotot tajam ke arahnya.
"Pulang sana!" Usir Radit kesal.
"Anterin gue ketemu si kembar Rik. Gue kangen sama mereka berdua." Celetuk Radit tiba-tiba membuat Erik tersentak. Radit berharap Erik mau menuruti permintaannya karena ia tak mungkin meminta kepada mamanya lagi yang jelas-jelas akan menolaknya.
"Tap-tapi boss, kondisi boss masih lemah. Tunggu sampe boss sehat dulu. Lagian dokter pasti tidak akan mengizinkannya." Nampak Radit mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
"Aku hanya ingin bertemu mereka, memeluknya dan mengatakan bahwa akulah ayah kandungnya sebelum waktu ku tiba." Ucap Radit sendu.
"Boss ngomong apa!" Sekarang gantian Erik yang mendelik ke arah Radit. "Boss pasti sembuh, jangan pesimis begitu." Tanpa mereka sadari sedari tadi Mama Shela sudah berdiri di depan pintu. Mama Shela tak kuasa menahan air matanya mendengar ucapan anaknya. Sesak! Sesak sekali dadanya, begitulah yang dirasakan Mama Shela. Mama Shela tak jadi masuk ke dalam ruang perawatan anaknya, ia memilih duduk di kursi yang ada di depan ruangan.
"Tuhan, apa aku sanggup jika harus kehilangan lagi? Dulu kau sudah ambil suami ku, dan sekarang nyawa anak ku sudah berada di ujung tanduk. Kenapa bukan aku saja Tuhan?" Ratap mama Shela dalam hati. Ya, barusan Mama Shela dari ruangan dokter Marchel, dokter yang menangani anaknya. Dan dokter Marchel memprediksi bahwa umur Radit hanya tinggal satu tahun ini. Namun, semua kembali kepada Tuhan. Dokter hanyalah manusia biasa yang hanya bisa berusaha semaksimal mungkin dan tetap Tuhan lah yang menentukan.
*****
*****
*****
*****
*****
__ADS_1
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ââðđðđ