
Pukul sepuluh malam Radit dan Laras tiba di depan rumah makan Bu Mayang setelah tadi mereka mampir makan malam terlebih dahulu. Perjalanan yang membutuhkan waktu sekitar enam jam itu benar-benar membuat mereka lelah. Apalagi Radit yang pulang pergi menyetir mobil sendiri kurang lebih selama sepuluh jam. Pagi tadi saat ia berangkat, Radit hanya membutuhkan waktu empat jam saja karena jalanan masih sepi.
"Gak mampir dulu?" Tawar Laras.
"Udah malam, lain kali saja." Tolak Radit.
"Ya udah aku turun, makasih ya."
"Ras!" Radit meraih tangan Laras dan menggenggamnya erat. Laras yang tangannya di genggam langsung menoleh dan mata mereka langsung bertemu dan saling mengunci.
Deg!
Jantung Laras bergemuruh hebat, perlahan ia menurunkan pandangannya. Ia tidak kuat menatap lama-lama mata yang bisa membuatnya tenggelam itu. Pandangan Laras beralih ke tangannya yang di genggam oleh Radit. Laras menatap nanar tangan yang saling bertaut itu.
"Ayo kita menikah!"
Deg!
Jantung Laras seraya mau loncat dari rongga dadanya mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari bibir pria pujaannya itu. Ada rasa bahagia yang membuncah, tapi juga rasa sesak yang menghimpit dadanya.
__ADS_1
"Me-menikah?"
"Iya!"
"Jangan bercanda! Aku turun dulu." Laras menarik tangannya yang ada dalam genggaman Radit. Namun Radit tak mau melepasnya malah ia menggenggamnya semakin erat.
"Aku serius! Ayo kita menikah!"
"Kamu kayaknya ngantuk Dit, Pulang sana istirahat."
"Aku serius Ras, tatap mataku. Bukannya kamu mencintai ku?"
Deg!
"Darimana Radit tau tentang perasaan ku padanya? Bukankah selama ini aku tak pernah mengatakannya pada siapapun?"
"Aku akan belajar mencintai mu, bantu aku." Mohon Radit memelas, namun Laras masih diam mematung. Sepertinya Laras masih terkejut atau mungkin syok.
"Ras?"
__ADS_1
"Eh, ya, apa?"
"Will you marry me?" Radit mengeluarkan kotak beludru kecil warna biru tua dari saku celananya kemudian membukanya lalu menyodorkannya ke hadapan Laras. Seketika itu air mata Laras meluruh. Inilah yang ia tunggu-tunggu selama ini. Inilah impiannya selama ini. Bolehkah ia egois dengan mengikat Radit meskipun ia tau cinta Radit bukan untuknya? Ingin rasanya ia meraih benda kecil itu dan langsung memasukkannya ke jari manisnya. Namun sudut hatinya masih di penuhi keraguan. Ia takut, takut tak bisa membuat Radit mencintainya dan nantinya akan berakhir saling menyakiti. Tapi disisi lain, ia juga takut akan kehilangan kesempatan ini jika ia menolaknya. Bukannya pepatah bilang kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya?
"Ras, ini yang terakhir. Setelah ini aku tidak akan bertanya lagi." Ucap Radit menyadarkan Laras dari lamunannya. "Will you marry me Larasati Prasetya?" Laras mengangguk dengan tangis bahagianya karena di lamar oleh laki-laki pujaan hatinya. Radit langsung menyematkan cincin tersebut di jari manis Laras kemudian ia mengusap air mata di pipi Laras dengan ibu jarinya lalu di rengkuhnya tubuh Laras kedalam pelukannya. Laras membenamkan kepalanya di dada bidang Radit dengan tangan yang melingkar erat di punggung sang kekasih.
"Sekarang masuklah." Radit mengurai pelukannya. Laras langsung turun dari mobil. Tanpa menunggu mobil Radit pergi terlebih dahulu, Laras masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang entahlah. Seperti ada bunga-bunga yang bermekaran di dalam dadanya.
Setelah memastikan Laras masuk ke dalam rumah, Radit segera melajukan mobilnya menuju ke apartemennya. Radit memutuskan untuk beristirahat di apartemen malam ini.
*****
*****
*****
*****
*****
__ADS_1
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ââðð