Luka Hati Luka Diri

Luka Hati Luka Diri
Episode 47


__ADS_3

Kedua Truk yang mengangkut meja dan kursi kiriman dari Seno sudah tiba di rumah makan tepat pukul satu siang. Laras dan Bu Mayang segera meminta sopir serta kenek truk tersebut memasukkan kursi-kursi dan meja-meja itu ke dalam rumah makan sekalian agar mereka tak perlu membayar orang lagi untuk memasukkannya.


Rencananya dua hari lagi rumah makan Bu Mayang akan di buka kembali. Mak Rat, Mbak Ti dan juga Mbak Sih, rencananya juga akan tiba esok hari, sehari sebelum Rumah makan di buka.


Sore harinya.......


Klotak!


Ponsel yang ada di genggaman Laras tiba-tiba meluncur menyentuh lantai. Beruntung ponsel tersebut tidak sampai pecah. Bu Mayang yang mendengar benda jatuh dari arah luar segera berlari keluar dari rumah. Pasalnya tadi Laras sedang menunggu jemputan suaminya di luar. Rasa trauma masih menghantui wanita paruh baya itu saat mendengar bunyi sesuatu terjatuh. Nampak Laras duduk di kursi teras dengan sudah berlinang air mata dan juga ponsel yang tergeletak di lantai teras.


"Ada apa nak? Kamu kenapa sayang?" Bu Mayang langsung merengkuh Laras ke dalam pelukannya.


"Riani ma, hiks.. hiks.."


"Iya, ada apa dengan Riani?"


"Riani meninggal, hiks.. hiks.."


"Innalillahi wainnailaihi rojiuun. Kamu tahu dari mana? Siapa tadi yang telepon?"


"Mas Seno yang barusan telpon, hiks.. hiks.." Ya, sore itu ketika Laras menunggu jemputan suaminya di teras rumah ibunya, tiba-tiba saja ponselnya berdering nyaring. Laras segera merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya. Tertera nama Seno di layar ponselnya tersebut. Laras pun segera mengangkatnya dan dalam telepon tersebut, Seno mengatakan kalau Riani telah meninggal setelah melahirkan tadi siang.

__ADS_1


Tin.. Tin..


Bunyi klakson yang dinyalakan dua kali pertanda Radit saat ini sudah tiba di halaman depan rumah makan.


Tin.. Tin..


Radit membunyikan klakson sekali lagi. Radit pikir mungkin istrinya masih berada di dalam kamar jadi tidak mendengar suara klaksonnya. Namun hingga sekitar lima menitan ia menunggu, istrinya tak juga muncul. Radit memutuskan untuk turun kemudian mencari istrinya ke belakang.


Nampak Laras dan Bu Mayang sedang berpelukan di teras rumah sambil menangis sesenggukan. Radit pun mengernyitkan alisnya melihat pemandangan yang ada di depannya.


"Ras, ma, ada apa ini? Kenapa pada nangis?" Laras segera mengurai pelukannya kemudian berpindah memeluk suaminya.


"Riani kenapa?"


"Riani meninggal."


"Innalillahi wainnailaihi rojiuun."


"Tadi siang setelah melahirkan, kata mas Seno Riani kejang-kejang terus meninggal. Hiks.. hiks.."


Terdengar bunyi ponsel Laras yang kembali berdering. Laras, Bu Mayang serta Radit saling celingukan mencari sumber suara. Radit segera mengambil ponsel istrinya yang ternyata tergeletak di bawah kursi yang diduduki oleh istrinya. Tertera nama Anja dalam ponsel tersebut. Radit segera menyerahkan ponsel itu kepada istrinya, Laras pun segera mengangkatnya.

__ADS_1


"Tunggu gue, gue akan berangkat sekarang juga!" TUT! Anja langsung mematikan sambungan teleponnya setelah mengatakan satu kalimat tersebut. Mereka bertiga saling pandang, meskipun tidak di loudspeaker, suara panik Anja masih terdengar jelas di telinga mereka. Sepertinya Anja juga sudah tahu tentang kematian Riani.


Akhirnya mereka bertiga memutuskan menunggu kedatangan Anja terlebih dahulu, setelah itu baru mereka sama-sama pergi ke rumah Riani.


Tepat pukul sepuluh malam, Anja, Nara, baby Radha, dan mama Rosi serta mbak Tini tiba di kediaman Bu Mayang. Namun mereka semua memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu malam ini di rumah Bu Mayang. Dan besok selepas subuh baru mereka akan berangkat ke tempat Riani sama-sama. Tentunya Nara meminta bantuan sopir kantor yang tadi menjemputnya di bandara untuk mengantarkan mereka ke rumah Riani besok.


*****


*****


*****


*****


*****


Ini nanti langsung nyambung di novel "Candamu Canduku" Bab Riani & Seno 17 ðŸĪ— Pemakaman Riani 😭😭


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂

__ADS_1


__ADS_2