
Keesokan harinya Shasa memilih ikut suaminya ke rumah sakit. Dokter Andrew pun tidak merasa keberatan. Saat tiba di rumah sakit, ternyata Radit sudah dipindahkan ke ruang perawatan.
"Apa mau menjenguk Radit?" Tanya dokter Andrew yang langsung mendapat gelengan kepala dari istrinya. Dokter Andrew mengelus kepala istrinya. "Nanti aku temani." Namun Shasa tetap menggeleng.
"Apa sebaiknya aku telepon Mama Shela saja? Atau Erik?" Sejak kecil Shasa sudah terbiasa memanggil Mama Shela dengan sebutan mama, jadi ia merasa aneh jika harus memanggilnya dengan sebutan tante. Dan nanti takutnya Mama Shela tersinggung kalau ia memanggilnya dengan sebutan tante.
"Erik?" Dokter Andrew mengernyitkan alisnya.
"Temannya Radit."
"Owh, terserah kamu saja honey. Cup!" Satu kecupan mendarat di kening Shasa. "Aku kerja dulu, mau disini saja?" Shasa mengangguk. Dokter Andrew kembali mendaratkan ciumannya namun bukan di dahi melainkan di bibir sang istri sebelum akhirnya keluar dari ruangannya.
Sepeninggal dokter Andrew, Shasa segera merogoh ponselnya yang ada di dalam tas. Setelah menimbang-nimbangnya, Shasa memutuskan untuk menghubungi Mama Shela saja.
"Hallo!" Sapa mama Shela di seberang sana saat sambungan telepon terhubung.
"Hallo ma!" Balas Shasa.
"Shasa? Ini kamu nak?" Mama Shela sudah berkaca-kaca di seberang sana. Pasalnya tidak ada orang lain yang memanggilnya dengan sebutan mama selain Radit anaknya dan juga Shasa yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.
"Iya ma, ini Shasa."
"Apa kabar sayang?"
"Baik ma!"
__ADS_1
"Bagaimana kabar cucu-cucu mama?"
"Mereka juga baik ma. Eeeemmm......"
"Ada apa sayang? Ada yang ingin kamu katakan?"
"Begini ma, Shasa mau kasih tahu Mama, tapi Mama jangan kaget ya?"
"Apa sayang? Bicaralah."
"Radit ada di sini mah dan sekarang sedang ada di rumah sakit."
"Ap-apa! Ngapain anak nakal itu ada disana?" Sepertinya Mama Shela sedikit kaget. Entah itu kaget karena anaknya ada di Jakarta atau kaget karena anaknya ada di rumah sakit.
"Sebaiknya mama cepet datang ke sini, aku shareloc lokasinya."
Shasa segera mengirim lokasi rumah sakit di mana Radit dirawat saat ini kepada Mama Shela setelah sambungan telepon mereka terputus.
"Honey, gimana?" Tanya dokter Andre kepada istrinya saat memasuki ruangannya.
"Aku tadi habis telepon mama Shela dan memberitahunya kalau saat ini Radit sedang dirawat di rumah sakit. Mama Shela akan datang ke sini, aku sudah mengirim lokasinya." Dokter Andrew mengangguk kemudian mencium puncak kepala sang istri.
"Ayo kita menjenguknya." Dokter Andrew menggenggam tangan istrinya, namun lagi-lagi Shasa menggeleng. "Kenapa?"
"Jangan memaksa ku, aku mohon hargai keputusan ku."
__ADS_1
"Baiklah, Aku tidak akan memaksa honey." Dokter Andrew memeluk erat istrinya. "Mau pulang apa disini saja? Tapi Maaf aku tidak bisa menemani mu kalau kamu memilih untuk tetap di sini, karena aku harus bekerja."
"Aku pulang saja!" Putus Shasa.
"Tapi aku tidak bisa mengantarkan mu honey."
"It's ok, tadi aku sudah menghubungi pak Har untuk menjemput ku. Dan sekarang sudah sampai di depan." Shasa beranjak dari duduknya.
"Baiklah, aku antar sampai ke depan." Shasa mengangguk, kemudian mereka jalan beriringan seraya bergandengan tangan menuju ke depan.
"Jangan lupa kabari aku kalau mama Shela sudah sampai." Dokter Andrew mengangguk. "Selamat bekerja suami dokter ku." Shasa mendaratkan kecupan singkat di pipi kanan dokter Andrew yang membuat dokter Andrew terbelalak karena kaget. Pasalnya tak biasanya istrinya itu berani menciumnya di tempat umum.
Shasa segera masuk ke dalam mobil, dan Pak Har pun segera melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah sakit.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ââðđðđ