Luka Hati Luka Diri

Luka Hati Luka Diri
Episode 43


__ADS_3

"Bu Shasa!" Sapa dokter Andrew saat lewat di depan poli KIA melihat Shasa duduk di salah satu kursi tunggu yang ada di depan ruangan dokter anak. Merasa ada yang memanggilnya Shasa pun menoleh dan mendapati dokter Andrew berdiri di dekatnya. Seketika wajahnya bersemu merah mengingat dokter Andrew lah yang membantu persalinannya waktu itu.


"Selamat pagi dok!" Balas Shasa mengulas senyum tipis kemudian menunduk karena merasa malu. Dokter Andrew yang menyadarinya kembali bertanya untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka.


"Lagi apa Bu? Apa baby twins sakit?" Dokter Andrew berjongkok di depan dua stroller bayi yang di dalamnya terdapat baby Gerry dan baby Jerry yang sedang tertidur lelap. Dokter Andrew meletakkan punggung tangannya ke dahi baby twins bergantian.


"Sejak semalam panas dok, rewel nangis terus." Ucap Shasa. Dokter Andrew manggut-manggut karena ia juga merasakan tubuh baby twins yang anget.


"Udah tiga bulan ya Bu umurnya?" Tanya dokter Andrew. Shasa mengernyit keheranan. Kok dokter Andrew bisa tau usia anaknya saat ini? Apakah dokter Andrew terbiasa menghafal pasien-pasien yang persalinannya ditangani olehnya? Apa iya ia bisa menghafal satu persatu pasiennya? Berapa kira-kira jumlah persalinan yang ditanganinya dalam sebulan hingga ia bisa menghafalnya? Pikir Shasa.


"Iya dok!" Shasa mengangguk.


Tak lama terdengar nomor antriannya di panggil oleh seorang perawat. Shasa dan suster Elsa yang sejak tadi duduk diam di samping Shasa pun segera masuk ke dalam ruangan dokter anak tersebut. Meninggalkan dokter Andrew yang masih memandangi punggung Shasa yang menghilang di balik pintu.


"Kemana kira-kira suaminya? Sejak pertama periksa kandungan hingga sekarang kok ya gak pernah nganterin. Suami macam apa itu?" Gerutu dokter Andrew kesal. Entah itu kesal karena apa?

__ADS_1


"Wanita secantik itu kok dibiarin sendiri. Dasar suami edan! Diembat orang baru tau rasa!" Dokter Andrew segera kembali ke ruangannya.


*****


"Sayang, kamu kenapa nak? Wajah mu kok pucat begitu?" Tanya Bu Mayang khawatir saat melihat anaknya keluar dari kamar dengan wajah pucat.


Kemarin Laras meminta diantar ke rumah ibunya karena Radit harus pergi ke Bandung sore itu juga. Ada yang harus diurus di pabrik tekstil peninggalan papanya. Laras yang merasa kurang enak badan memutuskan untuk tidak ikut suaminya ke Bandung. Ia meminta diantarkan saja ke rumah ibunya. Sekalian ia ingin melihat proses pembangunan rumah makan ibunya Sudah sampai mana.


"Laras gak papa ma, cuma mual aja sama pusing?"


"Ayo duduk sini, mama buatkan teh hangat sebentar." Bu Mayang menuntun anaknya untuk duduk di meja makan.


"Pernah ma, kalau gak salah bulan lalu Laras masih mens."


"Sekarang sarapan dulu, nanti mama temenin periksa ke dokter."

__ADS_1


"Apa nggak sebaiknya di test dulu aja ma? Nanti kalau Laras nggak hamil gimana?"


"Ya gak papa, kan usia pernikahan kamu juga baru tiga bulan. Jangan khawatir, kalau udah rezeki gak akan kemana. Kalau nanti memang belum hamil berarti memang belum rezeki kamu sama Radit." Laras mengangguk kemudian segera menyendok nasi beserta lauknya lalu menuang ke dalam piringnya. Saat akan menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya tiba-tiba Laras membungkam mulutnya dengan tangan kirinya kemudian meletakkan sendok tersebut dan berlari ke arah kamar mandi yang ada di dekat dapur, membuat Bu Mayang semakin yakin kalau anaknya saat ini sedang mengandung.


"Aaaaaaaaarrrrgh!"


*****


*****


*****


*****


*****

__ADS_1


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂


__ADS_2