Luka Hati Luka Diri

Luka Hati Luka Diri
Episode 84


__ADS_3

"Dokter Andrew!" Sapa mama Shela saat membuka pintu ruang ICU melihat dokter Andrew yang melintas di depannya. Dokter Andrew pun langsung menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke belakang dan mendapati Mama Shela yang baru saja keluar dari ruang ICU.


"Tante Shela," Dokter Andrew melangkah menghampiri Mama Shela yang masih berdiri di depan pintu. Dokter Andrew langsung meraih tangan Mama Shela dan menciumnya. "Kok ada disini Tan, sedang apa?" Air mata mama Shela perlahan membasahi pipinya, membuat dokter Andrew bingung.


"Eh, ayo duduk sini dulu tant." Dokter Andrew menuntun Mama Shela ke kursi tunggu yang ada di depan ruang ICU. Dokter Andrew pun ikut duduk di samping mama Shela.


"Radit ada di dalam." Ucap mama Shela lirih. Meskipun dokter Andrew sudah tahu tentang penyakit yang diderita oleh Radit, namun ia tetap saja terkejut. Pasalnya selama ini setahunya Radit berada di Surabaya. "Sudah sebulan ini Radit koma di rumah sakit yang ada di Surabaya, dan baru kemarin di rujuk ke rumah sakit ini." Lanjut mama Shela. "Bagaimana kabar kedua cucu ku dok?"


"Ba-baik Tan, mereka sudah bersekolah."


"Terimakasih sudah menganggapnya seperti anak sendiri." Dokter Andrew hanya bisa menganggukkan kepalanya.


"Saya permisi dulu Tan, jam istirahat sudah selesai. Saya harus kembali praktek lagi."


"Iya, Maaf sudah mengganggu waktu dokter Andrew."

__ADS_1


"Tidak Tan, sama sekali tidak. Ya sudah saya pamit." Dokter Andrew langsung meninggalkan Mama Shela yang duduk seorang diri di depan ruang ICU. Erik tadi pamit untuk makan siang di kantin Rumah Sakit bersama Pak Yanto dan belum kembali lagi.


*****


Malam harinya.....


"Honey?" Dokter Andrew mengelus lembut perut sang istri. Saat ini mereka berdua sudah merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur bersiap untuk tidur. Setiap malam setiap akan tidur Shasa selalu meminta kepada suaminya untuk mengusap perutnya, baru setelah itu ia bisa terlelap.


"Heeemm!" Shasa yang tadi sudah memejamkan matanya kembali membuka matanya. "Ada apa?"


"Apa penyakitnya sudah separah itu?" Tanya Shasa datar.


"Aku gak tau, tadi siang aku hanya sempat ngobrol sedikit sama tante Shela karena jam istirahat ku sudah berakhir." Dokter Andrew mengamati raut wajah istrinya yang hanya nampak datar, tak sekhawatir dulu saat Radit pingsan di depan pagar kediaman Pratama. "Apa kamu ingin menjenguknya?" Shasa menggeleng membuat dokter Andrew sedikit lega. Entahlah, sebenarnya ia juga kasihan sama Radit, namun ia juga cemburu kalau sampai istrinya itu berhubungan lagi dengan Radit. Bolehkah ia egois karena ingin memiliki wanita yang dicintainya itu seorang diri? "Ya sudah kalau begitu, sekarang kita tidur ya?" Dokter Andrew mengecup sekilas kening sang istri kemudian merengkuh tubuh istrinya itu ke dalam dekapannya.


Beberapa menit berlalu terdengar hembusan nafas teratur dari mulut dan hidung sang suami. Shasa yang tadi hanya pura-pura terlelap kembali membuka matanya, namun ia hanya diam saja dalam dekapan suaminya.

__ADS_1


"Tuhan, apa aku salah jika menghalangi laki-laki br3n9$3k itu untuk bertemu dengan kedua anak ku? Bukankah dulu dia yang tidak menginginkan anak ku? Apa aku ibu yang jahat karena tidak memberitahukan kebenaran kepada kedua anak ku tentang siapa ayah kandungnya? Aku hanya tidak ingin nantinya mereka terluka kalau mereka tahu bahwa ayah kandungnya dulu tidak menginginkan kehadirannya." Batin Shasa pilu.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕☕ðŸŒđðŸŒđ

__ADS_1


__ADS_2