
Seminggu sudah Laras di rawat di rumah sakit yang ada di ibu kota Jakarta ini. Karena yang dialaminya bukanlah keguguran biasa, melainkan keguguran fatal sebab berimbas pada rahimnya.
"Bagaimana dok, apa saya sudah boleh pulang?"
"Huuuft!" Dokter yang bername-tag Lusi tersebut menghela nafas pelan. Saat ini Laras, Bu Mayang serta Radit sedang berada di ruang dokter kandungan untuk menjalani pemeriksaan terakhirnya. "Secara keseluruhan kondisi bu Laras sudah cukup baik. Namun karena sudah dua kali mengalami keguguran, dan keguguran yang kemarin cukup fatal, dengan berat hati saya katakan kalau kemungkinan kesempatan Bu Laras bisa hamil lagi itu sangat kecil. Benturan keras pada perut ibu mengakibatkan cedera pada rahim."
Jedeeeeeeeeerrr!
Ucapan dokter Lusi barusan layaknya sebuah sambaran petir bagi Laras. Luruh sudah air matanya, Bu Mayang yang sejak tadi berdiri di samping Laras pun juga tak kuasa melihat kondisi anaknya saat ini yang pasti berat buat Laras. Wanita mana yang tak ingin memiliki keturunan? Karena sejatinya setiap wanita akan merasa dirinya sempurna jika bisa memberikan seorang keturunan dalam rumah tangganya. Bu Mayang semakin menguatkan genggamannya pada tangan anaknya tersebut. Sedangkan Radit yang berdiri agak jauh dari brankar istrinya hanya bisa menunduk menyesali segala perbuatannya.
Setelah keluar dari ruangan dokter Lusi, mereka bertiga kembali ke ruang perawatan Laras untuk membereskan barang-barang mereka. Karena dokter Lusi sudah mengizinkan Laras untuk pulang hari ini.
Laras, Bu Mayang serta Radit memilih kembali lagi ke hotel. Mereka nantinya akan pamit kepada Nara dan Anja serta Mama Rosi terlebih dahulu sebelum kembali terbang ke Surabaya.
Setibanya di hotel, Laras langsung ikut masuk ke dalam kamar ibunya. Laras benar-benar sudah tidak ingin lagi bertegur sapa dengan suaminya itu. Alhasil Radit lah yang membereskan barang-barang istrinya yang ada di kamar hotel mereka.
__ADS_1
Rencananya mereka akan terbang ke Surabaya siang nanti selepas dzuhur. Setelah membereskan barang-barang mereka, Radit, Laras dan Bu Mayang langsung cek out dari hotel milik keluarga Wijaya tersebut. Dengan mengendarai taksi mereka bertiga menuju ke kediaman Wijaya untuk berpamitan kepada Anja, Nara serta Mama Rosi.
Selama perjalanan tidak ada tutur kata dan tegur sapa sama sekali. Bahkan Laras dan Bu Mayang yang duduk di belakang pun seolah mengunci mulutnya rapat-rapat. Sebenarnya Bu Mayang juga marah dengan Radit atas perlakuannya terhadap anaknya. Namun ia tidak mau terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangga anaknya. Mungkin sesekali saja Bu Mayang menanggapi ucapan Radit jika dirasa perlu.
Taksi yang di tumpangi oleh Radit, Laras dan bu Mayang pun akhirnya tiba di depan gerbang kediaman Wijaya. Melihat siapa yang datang, pak Mun yang saat itu berada di dekat mobil segera membuka pintu gerbang. Mereka bertiga segera masuk setelah pintu gerbang di buka. Mbak Tini yang saat itu sedang menemani Radha bermain di halaman pun langsung mempersilahkan mereka bertiga masuk.
"Hey sayang, mama mana?" Laras berjongkok menyapa baby Radha yang sedang menata mainannya.
"Di lumah onty." Radha menjawab tanpa menoleh sedikit pun. Laras yang merasa gemas langsung mengacak rambut Radha.
"Iya baby, Daddy coming." Nara tiba-tiba muncul dari dalam rumah. "Loh Bu," Nara terlebih dahulu meraih tangan Bu Mayang untuk di ciumnya. "Kok nggak bilang mau ke sini, tahu gitu tadi bisa dijemput Pak Mun."
"Gak papa Ra, kami cuma mau pamit sebentar. Kami akan langsung balik ke Surabaya."
"Sekarang Bu?"
__ADS_1
"Pesawat kami jam satu nanti." Radit menyahut pertanyaan Nara. Nara melihat sekilas jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Baru jam sebelas, ayo masuk dulu. Kita makan siang sama-sama baru setelah itu nanti pak Mun akan mengantar kalian ke bandara." Mereka akhirnya masuk ke dalam untuk sekedar berpamitan.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ââðð