
Pukul lima sore, Radit kembali ke rumah Bu Mayang dengan mama Shela bersamanya. Dan disinilah mereka berada, di ruang tamu rumah Bu Mayang.
"Sayang, kenapa gak bilang kalau lagi hamil? Kalau Mama tahu saat itu kamu lagi hamil, Mama nggak akan izinin kamu ikut pergi ke Jakarta." Mama Shela pindah duduk di samping Laras kemudian menggenggam tangan menantunya itu.
"Laras juga belum tau mah, karena waktu itu Laras juga belum memeriksakannya."
"Maafin mama ya sayang, maaf karena tidak bisa menjaga kamu. Harusnya mama ada disini biar bisa menjaga kamu."
"Bukan salah mama. Aku saja yang kurang hati-hati."
"Bukan salah kamu, ini semua salah ku. Maaf!" Ucap Radit sendu, namun Laras sama sekali tak meresponnya.
"Apa mau ikut mama ke Bandung saja? Barang kali kamu butuh suasana baru?"
"Terimakasih ma, Laras di sini saja sama mama."
"Apa kamu tidak ingin pulang bersama suami mu?" Bujuk mama Shela lagi. Namun Laras tetap kekeh dengan pendiriannya.
"Maaf ma, Laras mau menenangkan diri dulu. Semua ini berat buat Laras, hiks.. hiks.." Luruh sudah air mata Laras yang coba ditahannya sejak tadi. Mama Shela langsung memeluk menantunya tersebut. Hati Mama Shela rasanya juga ikut tersayat.
"Oke, mama ngerti sayang, mama tidak akan memaksa."
"Mungkin sebaiknya Laras memang tinggal di sini saja Bu Shela, biar saya bisa menjaganya." Bu Mayang angkat bicara setelah sejak tadi hanya diam saja.
"Iya Bu, saya titip menantu saya."
__ADS_1
"Bu Shela tenang saja, tidak ada yang jauh lebih nyaman kecuali rumahnya sendiri." Sindir Bu Mayang telak. Radit pun merasa tertampar dengan ucapan mertuanya itu.
Pukul tujuh malam, Mama Shela pamit dari rumah Bu Mayang. Dengan diantar oleh Radit, Mama Shela kembali ke apartemen. Radit langsung pergi ke cafenya setelah mengantar mama Shela terlebih dahulu.
"Boss!" Erik menyembulkan kepalanya di pintu ruangan Radit.
"Heem!" Radit mengangkat kepalanya yang sejak tadi ia sandarkan di atas meja. Erik merangsek masuk menghampiri bossnya tersebut.
"Boss gak pulang? Ini udah jam sepuluh. Nanti boss nyonya nyariin."
"Laras gak mau pulang lagi ke apartemen bareng gue Rik." Ucap Radit sendu.
"Kenapa? Laras gak kerasan tinggal di sana?"
"Laras nggak mau lagi sama gue?"
"Laras minta cerai dari gue Rik."
"Hah! Kok bisa?" Radit pun langsung menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ja-jadi anaknya Shasa beneran anaknya si boss?"
"Entahlah, gue juga bingung Rik. Gue mau nyangkal juga gak bisa, soalnya wajah mereka persis mirip wajah gue."
"Berarti itu beneran anak loe lah bos, masa iya anak orang miripnya sama loe."
__ADS_1
"Entahlah, gue gak tau apa yang harus gue lakukan saat ini." Radit memijat pelipisnya pelan. Erik tahu apa yang dirasakan Radit saat ini. Ia sendiri pasti juga akan bingung jika berada di posisi Radit.
"Apa loe udah coba temuin Shasa boss?"
"Gue udah datang ke rumahnya yang ada di Jakarta, tapi om Dika tidak mengizinkan gue bertemu Shasa."
"Apakah boss mau bertanggung jawab terhadap Shasa?"
"Entahlah, Shasa belum tentu juga mau nerima gue yang br3n9$3k ini."
"Pikirkan mateng-mateng dulu sebelum mengambil keputusan boss. Kalau si boss memilih salah satu diantara mereka berdua, maka si boss juga harus siap kehilangan salah satu dari mereka. Bukan hanya salah satu, jika boss memilih Laras, maka boss harus siap kehilangan ketiganya. Shasa dan kedua anaknya yang tak lain adalah anak loe sendiri boss." Nasehat Erik bijak. Radit terus memijit kepalanya yang semakin berdenyut.
"Tapi juga jangan lupakan kalau Laras juga pernah mengandung anak loe dua kali boss!" Lanjut Erik yang malah semakin membuat kepala Radit serasa ingin meledak.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ââðð