
Dengan mengendarai taksi kembali, Radit meninggalkan kediaman Pratama mencari hotel terdekat untuk dirinya menginap. Sore nanti ia akan kembali lagi dan akan berusaha lagi untuk meluluhkan hati Shasa dan kedua orang tuanya agar mengizinkannya mendekati kedua anaknya.
*****
Sore harinya Radit sudah kembali lagi ke kediaman Pratama namun ia tidak diizinkan masuk oleh Pak Har.
"Pak! Tolong izinkan saya masuk, saya mau bertemu dengan kedua anak saya pak." Teriak Radit memohon.
"Shasa! Plis maafkan aku Sha. Izinkan aku bertemu dengan kedua anak ku Sha. Sekali ini saja Sha. Aku ingin memeluknya, aku mohon Sha."
"Gerry! Jerry! Ini papa nak, papa kandung kalian. Apa kalian tidak ingin bertemu papa?" Radit pun terus menggedor pagar kediaman Pratama memanggil-manggil nama Shasa dan kedua anaknya.
Sore berganti malam, terang menjadi gelap. Tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. Radit yang saat itu masih berada di depan pagar pun basah kuyup karena terguyur air hujan. Ia sama sekali tidak beranjak dari tempatnya saat ini. Bahkan ia tak lagi peduli dengan kesehatannya sendiri. Ia masih terus berharap agar Shasa mau memaafkannya dan memberikannya kesempatan untuk dekat dengan kedua anaknya.
Dokter Andrew yang saat itu baru pulang dari kerja melihat Radit yang berdiri di depan pagar kediaman Pratama dengan tubuh yang basah kuyup karena hujan yang semakin deras.
Suara klakson yang dibunyikan dua kali membuat Pak Har segera berlari menembus hujan dengan membawa payung untuk membukakan pintu gerbang majikannya. Setelah mobil majikannya itu masuk ke dalam, pak Har segera menutup kembali pintu gerbang tersebut dan menguncinya.
Dokter Andrew yang tidak tega melihat Radit yang kehujanan segera menemui istrinya yang sudah pasti berada di dalam kamar anaknya.
"Honey! Kamu di dalam?" Teriak Dokter Andrew dari luar pintu.
"Ya!" Dokter Andrew langsung membuka pintu kamar anaknya setelah mendengar sahutan dari istrinya.
"Daddy, Daddy, Daddy." Teriak kedua balita kembar kegirangan saat melihat daddy-nya sudah pulang.
"Hey jagoan Daddy." Dokter Andrew langsung berjongkok seraya merentangkan kedua tangannya. Si kembar pun langsung berhambur memeluk daddy-nya.
__ADS_1
"Sudah pulang?" Shasa mendekat. Dokter Andrew mengurai pelukannya kemudian berdiri dan langsung mendaratkan kecupan sayang di kening sang istri.
"Boleh bicara sebentar?" Shasa mengernyit, namun tak urung ia tetap mengangguk.
"Sayang, mom ke kamar dulu ya?" Shasa langsung menyusul suaminya setelah mendapat anggukan dari kedua anaknya.
"Ada apa?" Tanya Shasa setelah masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. "Sudah makan?" Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, dokter Andrew malah langsung merengkuh istrinya ke dalam pelukannya.
"Di depan ada Radit." Shasa sedikit tersentak. Ia pikir Radit sudah pulang karena hujan lebat, namun ternyata Radit masih di depan. "Apa tadi Radit menemui kalian?" Shasa mengangguk dalam pelukan suaminya. "Bisakah kamu melepaskan dan mengikhlaskan masa lalu yang masih membelenggu kamu?"
"Mak-maksudnya?" Shasa mengurai pelukannya.
"Maafkanlah dia, biarkan dia menemui anak kita."
"Semudah itu? Hiks.. hiks.." Dokter Andrew kembali merengkuh istrinya saat melihat istrinya terisak.
*****
Pak Har yang melihat Radit masih setia berdiri di depan pagar juga merasa kasihan, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan menggunakan payung, Pak Har melangkah menuju ke pintu gerbang.
"Mas Radit pulang saja nanti sakit. Hujannya makin deras Mas." Teriak pak Har di tengah hujan agar bisa didengar oleh Radit.
"Izinkan saya bertemu dengan kedua anak saya pak." Lirih Radit. Sedetik kemudian tubuh Radit limbung tepat di depan pagar.
"Mas Radit!" Pak Har segera membuka pintu gerbangnya dan melihat Radit yang sudah tergeletak tak sadarkan diri.
Pak Har berlari kembali ke rumah untuk meminta bantuan.
__ADS_1
"Tolong tuan!" Teriak pak Har meminta bantuan. Seluruh penghuni rumah pun seketika keluar dari kamarnya masing-masing saat mendengar teriakan Pak Har yang meminta tolong.
"Ada apa pak?" Mama Dona mendekati pak Har.
"Anu Bu, mas Radit pingsan di depan pagar." Mama Dona nampak terkejut.
"Ada apa ma?" Papa Dika ikut keluar dari kamar.
"Ada apa ma?" Tanya Shasa nampak berdiri di atas tangga bersama suaminya.
"Radit pingsan di depan pagar." Teriak mama Dona.
Dokter Andrew yang memiliki jiwa sosial tinggi langsung berlari menuruni tangga dan melesat keluar saat mendengar Radit pingsan. Sebagai seorang dokter, ia tidak bisa mengabaikan begitu saja jika ada orang yang membutuhkan pertolongannya meskipun itu adalah musuhnya sekalipun. Karena Ia pun sudah mengucapkan sumpahnya sebagai dokter.
*****
*****
*****
*****
*****
Weleh-weleh Dit, lemah! Kenek udan ae kok semapot ðĪðð
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ââðđðđ