Luka Hati Luka Diri

Luka Hati Luka Diri
Episode 61


__ADS_3

"Titip Laras ma, aku mau ke kafe dulu." Setibanya di Surabaya, mereka langsung pulang ke rumah Bu Mayang. Laras benar-benar tidak mau pulang ke apartemen lagi bersama suaminya. Laras langsung masuk ke kamar dan mengunci pintunya saat tiba di rumah. Radit hanya bisa menghela nafas pelan. Ia akan memberikan istrinya itu waktu agar bisa menenangkan diri terlebih dahulu. Ia tidak akan memaksa jika nantinya hanya berujung pertengkaran lagi. Setelah mendapat anggukan dari mertuanya, Radit pun segera meluncur meninggalkan kediaman Bu Mayang menggunakan mobilnya yang dulu ditinggal di rumah mertuanya. Karena dulu ketika mereka berangkat ke bandara, mereka memilih menggunakan taksi online.


Bukannya ke kafe, Radit malah menuju ke apartemennya. Radit pikir dengan mandi terlebih dahulu mungkin akan membuat otaknya serta tubuhnya menjadi lebih segar. Di parkirkannya mobilnya kemudian ia segera naik menuju ke lantai apartemennya.


Ceklek!


Mendengar pintu di buka, seseorang yang duduk di sofa depan TV langsung menoleh. Radit pun terlonjak kaget, pasalnya mamanya itu tidak menghubunginya kalau akan datang ke Surabaya.


"Ma, kok ada disini? Sejak kapan?" Radit melangkahkan kakinya menghampiri sang mama, kemudian mendudukkan dirinya di sofa yang berbeda dengan sang mama.


"Kenapa baru pulang?" Bukannya menjawab pertanyaan sang anak, mama Shela malah kembali bertanya. "Kenapa sampe seminggu?" Sebenarnya mama Shela sudah tiba di Surabaya sejak kemarin. Saat tiba di apartemen, Mama Shela yang tak menemukan anaknya dan juga menantunya memutuskan untuk pergi ke cafe anaknya. Disana ia bertemu dengan Erik dan kata Erik, Radit belum pulang dari Jakarta. Akhirnya Mama Shela memutuskan untuk kembali ke apartemen lagi menunggu kedatangan anak dan menantunya.


Radit menunduk, sebenarnya ia tidak ingin membebani mamanya itu dengan masalahnya. Namun sepertinya ia juga butuh orang untuk berbagi, siapa lagi kalau bukan dengan mamanya. Karena hanya mamanya lah satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini.


"Laras sakit ma, dan harus dirawat di rumah sakit. Tadi pagi baru boleh pulang dan siang ini kami langsung terbang ke Surabaya."


"Sakit?" Mama Shela terlihat mengernyitkan alisnya. "Sakit apa? Kok bisa sampe seminggu?"


"Laras keguguran lagi ma, dan semua itu gara-gara Radit." Radit menundukkan kepalanya. Jika mengingat dirinyalah penyebab keguguran istrinya, rasanya ia ingin marah pada dirinya sendiri.


"Keguguran lagi?" Beo mama Shela. Radit mengangguk. "Apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa kamu tidak bisa menjaga istri kamu dengan baik?" Mama Shela terlihat marah dengan anaknya itu.


"Maaf ma, Radit tak sengaja mendorong Laras."

__ADS_1


"Mendorong? Mendorong bagaimana maksud kamu?" Teriak mama Shela murka. Radit pun mulai menjelaskan awal mula kejadian hingga Laras sampai keguguran.


"Malam itu tepat acara resepsi pernikahan Anja dan Nara, tiba-tiba Shasa datang."


"Shasa?"


"Iya, Shasa!"


"Terus apa hubungannya dengan Shasa? Shasa marah kamu menikah dengan Laras? Bukannya dia yang memilih pergi tanpa kabar?"


"Ma, dengerin Radit dulu."


"Oke, lanjutkan!" Mama Shela melipat tangannya di dada.


"Mama sudah tahu kalau Shasa punya anak kembar laki-laki. Kan lahirannya pas kamu nikahan sama Laras. Terus apa masalahnya?"


"Masalahnya, wajah kedua anak kembar Shasa mirip dengan Radit." Radit semakin menundukkan kepalanya.


"Ap-apa! Kok bisa? Mirip kamu?" Radit mengangguk. "Apa mungkin cuma kebetulan?" Radit menggeleng. "Terus maksudnya bagaimana?"


"Itu anak Radit ma!" Setitik air mata jatuh membasahi celananya.


"APA!" Teriak mama Shela syok. "Ba-bagaimana bisa?"

__ADS_1


"Waktu itu Radit mabuk dan tanpa sadar ngelakuin itu ke Shasa. Tapi Radit bersumpah kalau Radit gak tau pas ngelakuin itu. Dan Shasa langsung menghilang. Satu bulan kemudian Shasa datang, dan ia mengatakan kalau sedang mengandung anak ku. Aku yang waktu itu tidak percaya kalau itu anak ku pun menolak untuk tanggung jawab. Karena aku merasa tidak pernah melakukan dengannya. dan lagi usia kandungan Shasa saat itu sudah enam minggu. Jika memang benar Shasa mengandung anak ku, harusnya usia kandungannya baru sekitar satu bulan atau sekitar empat mingguan."


"Bodoh kamu Radit!" Teriak mama Shela lagi. "Usia kehamilan bukan dihitung dari kapan kamu melakukannya, tapi dihitung dari hari terakhir Sasha mendapatkan tamu bulanan." Mama Shela tak kuasa menahan tangisnya. Ia tergugu meratapi kesalahan fatal anaknya.


"Terus bagaimana Laras bisa sampe keguguran?" Tanya mama Shela di sela Isak tangisnya.


"Kami bertengkar, dan aku tanpa sadar mendorongnya hingga menabrak nakas. Dan lampu tidur yang ada di atas nakas tiba-tiba jatuh tepat mengenai perut Laras."


"Astaghfirullah RADITYA!" Teriak mama Shela semakin murka.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂

__ADS_1


__ADS_2