
Sebulan berlalu, dokter Andrew sudah seminggu ini bekerja di rumah sakit ternama yang ada di kota Jakarta, lebih tepatnya sebagai partner kerja dokter Lusi.
"Sayang?" Shasa memainkan jemari lentiknya di dada sang suami.
"Heem!" Dokter Andrew menoleh. Setelah menyelesaikan aktivitas paginya tadi, mereka berdua masih belum beranjak dari ranjang. Dokter Andrew masih berusaha mengatur nafasnya yang masih memburu begitupun Shasa.
"Pil ku habis, jangan lupa nanti kalau pulang bawakan." Ya, sejak malam pertama Shasa memang langsung mengkonsumsi pil KB. Bukannya ia tak menginginkan anak dari suaminya, melainkan ia ingin memberikan kasih sayang seorang Daddy terlebih dulu kepada kedua anaknya. Takutnya, jika ia langsung hamil dan kedua anak kembarnya memiliki adik, mereka akan merasa diduakan. Padahal dokter Andrew sudah menegaskan bahwa ia akan memberikan kasih sayangnya tanpa membeda-bedakannya. Namun Shasa meminta waktu sekitar satu atau dua tahun, baru setelah itu ia siap untuk hamil lagi. Dokter Andrew pun terpaksa menyetujui keinginan istrinya itu karena ia juga tak ingin memaksa istrinya. Mungkin karena istrinya itu pernah menjalani kehamilan tanpa didampingi seorang suami, makanya ia masih takut untuk hamil kembali.
"Siap honey!" Dokter Andrew mencubit gemas hidung istrinya. "Sekarang kita mandi sebelum para kurcaci menggedor pintu kamar kita." Shasa terbahak mendengar ucapan sang suami. Begitulah kebiasaan si kembar di pagi hari. Dokter Andrew bangkit kemudian langsung menggendong istrinya menuju ke kamar mandi.
*****
Radit sudah kembali lagi ke Surabaya dua hari yang lalu, lebih tepatnya saat Erik mengabarkan kalau ruang kerjanya sudah selesai direnovasi.
"Pagi boss." Sapa Erik yang baru saja keluar dari kamarnya dan melihat Radit sedang menuang kopi ke dalam cangkir.
"Heemm!" Radit hanya berdehem menanggapi sapaan Erik.
"Lama amat di Bandung, ngapain aja?" Radit memang tidak memberitahu kalau dirinya sempat dilarikan ke rumah sakit saat berada di Bandung.
"Ngurusin pabrik!" Jawab Radit singkat.
"Owh, apa di pabrik ada masalah?"
__ADS_1
"Buka sana pintunya, udah hampir jam tujuh, anak-anak juga udah pada datang." Radit langsung melenggang masuk ke dalam ruangannya kembali setelah memerintahkan Erik untuk membuka pintu cafe tanpa menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Erik pun tak ambil pusing, ia langsung membuka, lebih tepatnya membalik tulisan di pintu masuk dari close menjadi open.
*****
Doorr.. Doorr.. Doorr..
"Daddy! Mommy!" Teriak si kembar di balik pintu kamar yang masih tertutup rapat.
"Nah, benar kan aku bilang." Dokter Andrew mengecup sekilas bibir istrinya setelah sang istri berhasil memakaikan dasi di lehernya. Sekali lagi Shasa terbahak dengan ucapan suaminya.
"Mereka cemburu karena daddy-nya hanya milik mommynya." Shasa berbisik lirih di telinga suaminya setelah itu ia memberi gigitan kecil pada daun telinga sang suami yang membuat bulu kuduk dokter Andrew seketika berdiri karena ulah istrinya tersebut. Shasa langsung berlari untuk membukakan pintu. Namun sebelum ia sampai ke pintu, tubuhnya sudah dipeluk dari belakang oleh suaminya.
"Aaaaaaaahh!"
"Kamu nakal ya." Dokter Andrew menciumi wajah istrinya dari samping.
"Baiklah honey, ayo kita sambut kedua jagoan kita."
Ceklek!
"Daddy! Mommy! Telalu tada beditu!" Gerry dan Jerry mencebikkan bibirnya seraya melipat kedua tangannya di dada.
"Pagi jagoannya Daddy. Kenapa wajahnya begitu?" Dokter Andrew berjongkok di hadapan kedua anaknya.
__ADS_1
"Geli kesel tama Daddy dan mommy. Telalu tada minta di pandil dulu. Dak mau tulun tendili."
"Ahaha... uluh-uluh anak mommy yang ganteng merajuk." Shasa pergantian mencubit gemas pipi kedua anaknya. "Maaf ya, udah buat kalian menunggu. Ayo kita turun bersama, Oma, opa sama eyang udah nungguin."
"Let's go!" Dokter Andrew merentangkan kedua tangannya, si kembar pun langsung nemplok di kanan kiri tangan daddy-nya.
Shasa dan dokter Andrew menuruni tangga satu persatu menuju ke ruang makan dengan Gerry dan Jerry yang berada di gendongan daddy-nya.
"Pagi?" Sapa Shasa dan dokter Andrew saat tiba di ruang makan dan semua penghuni rumah sudah berkumpul di sana.
"Pagi!" Balas mama Dona seraya tersenyum ramah menyambut anak dan menantu serta kedua cucunya tersebut. "Turun sayang, sini, ayo kita makan." Dokter Andrew segera mendudukkan kedua anaknya di kursi masing-masing. Setelah itu ia segera menarik kursi untuk istri tercintanya.
Pagi itu, ruang makan kediaman Pratama dihiasi dengan gelak tawa dan keceriaan dari balita kembar yang selalu nampak menggemaskan.
*****
*****
*****
*****
*****
__ADS_1
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ââðđðđ