Luka Hati Luka Diri

Luka Hati Luka Diri
Episode 93


__ADS_3

"Honey, tadi aku ketemu dengan tante Shela di rumah sakit." Ucap dokter Andrew setelah mereka berdua duduk di sofa yang ada di dalam kamar mereka.


"Di rumah sakit?" Beo Shasa.


"Iya, Tante Shela tadi menemui ku." Dokter Andrew menarik kepala sang istri untuk bersandar di dadanya.


"Untuk apa?" Shasa mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah suaminya.


"Radit dirawat di rumah sakit lagi, kali ini kondisinya benar-benar memburuk."


"Separah itu kah?" Dokter Andrew mengangguk menjawab pertanyaan sang istri.


"Tante Shela memohon agar aku membujuk kamu untuk mengizinkan Radit bertemu dengan si kembar." Perlahan air mata Shasa menetes membasahi kedua pipinya. Dokter Andrew mengurai pelukannya saat merasakan tubuh istrinya bergetar. "Dengerin aku kali ini saja!" Dokter Andrew menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya. "Waktu Radit tidak banyak, izinkan anak-anak untuk menemuinya. Lepaskan masa lalu yang hanya akan menyakiti mu. Kamu percaya kan sama aku?" Dokter Andrew langsung merengkuh istrinya ke dalam pelukannya setelah mendapat anggukan dari sang istri.


"Berikan aku waktu untuk menata hati ku sebelum aku menemuinya." Cicit Shasa dalam pelukan sang suami.


"Iya honey pasti, tapi jangan terlalu lama. Takutnya Radit tidak bisa menunggu selama itu." Lagi-lagi Shasa mengangguk dalam pelukan suaminya. "Ya sudah, sekarang kamu istirahat saja. Aku akan kembali ke rumah sakit. Cup!" Kecupan dalam mendarat di kening Shasa.


Dokter Andrew segera kembali ke rumah sakit setelah memastikan istrinya tenang terlebih dahulu.

__ADS_1


*****


"Ma, apa sudah ada kabar dari dokter Andrew tentang Shasa?" Lirih Radit dengan suara lemahnya.


"Kita tunggu sampe besok ya, dokter Andrew akan mencoba untuk membujuk Shasa."


"Anterin gue ke rumah Shasa Rik, gue mau ketemu anak-anak gue." Radit beralih menatap Erik yang duduk di sofa.


"Kondisi loe nggak memungkinkan buat ninggalin Rumah Sakit bro. Jadi sabar dulu, tunggu sampe besok. Kalau Shasa masih tetap keras kepala tidak mengizinkan loe bertemu si kembar, maka gue yang akan menculik si kembar dengan tangan gue sendiri." Geram Erik.


"Tapi waktu gue gak banyak!" Air mata mengalir dari kedua sudut mata Radit yang nampak cekung. Mama Shela yang sejak tadi berusaha kuat menahan tangisannya, sekarang sudah tidak bisa lagi menahannya. Tangisan mama Shela pun pecah di dalam ruangan tersebut.


"Dokter Andrew!" Teriak Mama Shela memanggil dokter Andrew. Merasa ada yang memanggilnya, dokter Andrew pun menoleh dan mendapati Mama Shela berjalan ke arahnya.


"Sore Tan?" Sapa dokter Andrew ramah.


"Sudah mau pulang?" Bukannya menjawab sapaan dokter Andrew, Mama Shela malah balik bertanya.


"Iya Tan, jam kerja saya sudah usai." Dokter Andrew melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul lima sore.

__ADS_1


"Owh!"


Dokter Andrew yang mengerti maksud Mama Shela segera memberitahu tentang pembicaraannya tadi siang dengan sang istri.


"Tante, tadi siang saya sudah berbicara dengan istri saya. Dan dia sudah memberikan keputusan bahwa, dia akan datang menemui Radit bersama kedua anak kami. Tapi-" Dokter Andrew sengaja menjeda ucapannya. "Shasa meminta waktu untuk menguatkan hatinya terlebih dahulu sebelum menemui Radit."


Mama Shela mengangguk dengan air mata yang sudah berlinang. Bukan air mata kesedihan, tapi ia merasa bahagia karena merasa mendapat angin segar.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕☕ðŸŒđðŸŒđ


__ADS_2