
Sudah sebulan ini Radit bolak-balik antara apartemen, cafe dan rumah mertuanya. Namun lebih banyak di cafenya, Radit hanya akan pulang ke rumah Bu Mayang saat malam sepulangnya dari cafe. Paginya Radit sudah kembali lagi ke cafe atau ke apartemennya terlebih dahulu untuk sekedar mandi dan berganti pakaian. Setelah itu Radit baru akan kembali ke cafe hingga larut malam. Begitulah keseharian Radit selama sebulan ini. Ia tidak pernah bertegur sapa dengan istrinya sama sekali. Jangankan bertegur sapa, bertemu saja hampir tidak pernah. Setiap ia pulang dari cafe, Laras sudah mengunci dirinya di dalam kamar dan paginya Laras tidak akan keluar dari kamar sebelum Radit pergi. Setiap malam Radit akan tidur di sofa ruang televisi. Bu Mayang sebenarnya juga kasihan melihat Radit. Bu Mayang juga sudah meminta Radit untuk kembali ke apartemen, namun Radit menolaknya.
Radit terus memijat kepalanya yang semakin berdenyut. Akhir-akhir ini kepalanya sering merasa pusing cenderung sakit. Ia pikir itu hanya pusing biasa karena ia terus memikirkan permasalahan yang belum menemukan jalan keluarnya.
Tes!
Tiba-tiba saja cairan kental merah kehitaman menetes tepat di kemeja bagian dadanya hingga membuat kemejanya kotor. Radit segera meraih tissu yang ada di atas meja guna mengusap kemejanya. Namun bukannya hilang malah membuat kemejanya semakin kotor. Ia pun mengambil tisu lagi kemudian segera mengelap hidungnya agar darah yang keluar dari hidungnya tidak menetes lagi di kemejanya.
Setelah darah yang keluar dari hidungnya tersebut mampet, ia segera menghubungi Erik untuk mengantarkan air hangat ke dalam ruangannya.
Tak berselang lama, Erik pun masuk ke dalam ruangan Radit dan mendapati bossnya tersebut terus memijat kepalanya dengan wajah yang terlihat pucat.
"Boss! Astaga... Boss sakit? Kenap dengan kemeja boss?" Erik meletakkan segelas air putih hangat ke atas meja dengan panik yang luar biasa. Namun Radit seolah cuek dengan kepanikan Erik. Radit segera meraih gelas tersebut kemudian meneguknya hingga tandas tanpa menjawab pertanyaan Erik.
"Boss, apa perlu ke dokter?"
__ADS_1
"Keluarlah, gue hanya pusing! Gak usah lebay!"
"Lebay gimana, kalau hanya pusing kenapa sampai berdarah?"
"Berisik! Sudah sana keluar!" Tak ingin berdebat lagi, Erik pun memutuskan untuk keluar dari ruangan bosnya.
*****
"Apa rencana kamu setelah ini nak?" Bu Mayang dan Laras saat ini sedang berada di depan televisi. Sudah sebulan ini Laras tidak membantu di warung. Laras lebih suka mengurung dirinya di dalam kamar membuat Bu Mayang khawatir dengan kesehatan mental anaknya. Seno dan baby Camelia sudah kembali ke desa keesokan harinya saat mereka baru pulang dari Jakarta.
"Yang pasti aku ingin segera berpisah dari laki-laki pembunuh itu mah." Laras tidak sudi menyebut nama orang yang dianggapnya telah membunuh anaknya.
"Tapi memaksa untuk tetap bersama hanya akan membuatku sakit ma. Setiap melihatnya aku selalu teringat dengan kejadian malam itu, hiks.. hiks.." Laras terisak di pangkuan mamanya.
"Iya, Mama tidak akan memaksa. Apapun keputusan yang kamu ambil, Mama akan mendukungnya." Laras bangkit dari pangkuan mamanya kemudian berganti memeluk mamanya dengan erat.
__ADS_1
"Makasih ma!"
"Apapun untuk anak mama. Karena cuma kamu satu-satunya yang mama miliki." Bu Mayang mengelus punggung anaknya.
*****
*****
*****
*****
*****
Emak selesaikan dulu kisah Radit-Laras ya, baru setelah ini kita ke kisah Shasa ðĪ
__ADS_1
Lope-lope sekebun Pare ðððĪŠðĪŠ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ââðð