Luka Hati Luka Diri

Luka Hati Luka Diri
Episode 68


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak putusan pengadilan, Radit sama sekali tidak pernah keluar dari kafe. Bahkan pulang ke apartemen saja tidak. Rencananya ia akan merenovasi ruang kerjanya untuk di tambahkan kamar, agar ia tak harus tidur berdua terus dengan Erik. Apa kata dunia jika ia ketahuan tidur seranjang dengan sahabatnya itu? Nanti di kiranya ia gay, amit-amit jabang bayi kebo.


"Loe urus renovasi ruangan gue, sementara gue mau ke Bandung dulu nengokin nyokap." Erik mengangguk.


"Siap pak duren!" Canda Erik.


"Sialan loe!" Kotak tissu melayang membentur bahu Erik sebelah kiri yang membuat sang empunya sedikit meringis. Saat ini mereka sedang berada di ruangan Radit.


"Apa nyokap belum tau tentang perceraian loe dengan Laras boss?" Radit menggeleng.


"Nanti gue bakal cerita. Gue sengaja gak kasih tahu lewat telepon karena gue takut tiba-tiba nyokap pingsan karena syok. Kalau gue kasih tahu langsung kan, kalau nyokap pingsan bisa langsung gue tangkep."


"Sableng! Nyokap sendiri di doain pingsan." Gantian Erik yang melempar kotak tissu ke arah Radit, namun langsung ditangkap oleh Radit hingga tak mengenai dirinya.


Sore harinya Radit langsung terbang ke Bandung. Tepat pukul lima sore, pesawat yang ditumpanginya mendarat cantik di bandara internasional Husein Sastranegara Bandung. Dengan mengendarai taksi, ia menuju kediaman Erlangga, rumah masa kecil dan remajanya tumbuh dengan berjuta kenangannya bersama Shasa. Dan juga rumah keluarga Pratama yang ada di sebelah rumahnya adalah rumah kedua baginya. Namun sayangnya rumah itu kini sudah berpindah kepemilikan. Ya, papa Andika langsung menjual rumah tersebut setelah kedua orang tuanya meninggal.


"Radit?" Mama Shela yang sedang menyiram tanaman bunganya di halaman depan seketika menghentikan kegiatannya sejenak saat melihat sebuah taksi berhenti di depan gerbang rumahnya dan Radit lah yang turun dari dalam taksi tersebut.


"Ma!" Radit langsung menghampiri mamanya kemudian meraih tangan mamanya untuk dicium. Mama Shela langsung memeluk anaknya tersebut.


"Kok nggak ngabarin Mama kalau mau datang, Laras mana? Nggak ikut?" Mama Shela terlihat celingukan, namun Radit segera menggeleng.


"Ayo masuk ma, udah hampir Maghrib." Radit menggandeng tangan mamanya memasuki rumah.

__ADS_1


"Sana bersihkan diri dulu." Radit mengangguk kemudian naik ke kamarnya.


Malam harinya Radit dan mama Shela sudah duduk di ruang makan. Malam ini Mama Shela nampak bahagia, pasalnya yang biasanya ia makan sendirian sekarang ada Radit anaknya yang menemaninya makan. Sayangnya sang menantu tidak ada disana bersama mereka.


"Kita makan dulu ma, setelah ini Radit mau bicara." Mama Shela terlihat mengernyit.


"Apa terjadi sesuatu?"


"Nanti Radit cerita setelah makan." Akhirnya mereka berdua makan dalam diam. Entah kenapa dada mama Shela sudah berdebar-debar rasanya.


Saat ini mereka berdua sudah duduk di ruang keluarga. Hampir sekitar sepuluh menit berlalu tapi Radit masih diam saja seraya menyandarkan kepalanya di sandaran sofa hingga wajahnya mendongak keatas dengan mata terpejam.


"Radit mau bicara sesuatu sama mama, tapi mama janji jangan kaget."


"Radit dan Laras sudah resmi bercerai seminggu yang lalu ma."


Deg!


Meskipun mama Shela sudah menyiapkan hatinya, tetap saja ia terkejut dan syok. Air mata mengalir begitu saja dari kedua matanya.


"Kenapa harus bercerai? Apa sudah tidak bisa di perbaiki lagi hingga kalian memilih untuk berpisah?" Radit menggeleng.


"Laras yang mengajukan gugatan cerai ma, demi kebahagiaannya Radit pun menyetujuinya. Mungkin kebahagiaannya bukan bersama Radit. Radit sudah terlalu dalam melukainya ma. Mungkin ini hukuman buat Radit." Kedua ibu dan anak itupun larut dalam isak tangisnya.

__ADS_1


"Mama punya sesuatu, sebentar mama ambil dulu." Mama Shela mengusap air matanya kemudian bangkit.


Tak berselang lama mama Shela sudah kembali lagi. Mama Shela meletakkan sebuah undangan ke atas meja.


"Apa itu ma?"


"Lihat saja." Radit pun segera meraihnya.


Deg!


"Undangan resepsi pernikahan Shasa dan Dokter Andrew?"


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ

__ADS_1


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ☕☕😂😂


__ADS_2