Luka Hati Luka Diri

Luka Hati Luka Diri
Episode 71


__ADS_3

Deg!


"K@nk3r otak stadium dua dok?" Luruh sudah air mata mama Shela saat mendengar penjelasan dokter pagi ini. Ya, saat ini mama Shela sedang berada di ruangan dokter Afandi, dokter bedah syaraf yang menangani Radit.


"Iya, apa ibu belum tahu?" Mama Shela menggeleng. Badannya lemas tak bertenaga, tulang-tulangnya serasa dilolosi dari sendinya.


"Anak saya gak pernah cerita sebelumnya dok."


"Mungkin anak ibu tidak ingin membuat mamanya khawatir." Mama Shela mengangguk.


"Apa masih ada harapan untuk sembuh dok?"


"Harapan itu akan selalu ada Bu, yang penting jangan pernah putus berdoa. Kami juga akan membantu semampu kami."


*****


Setelah keluar dari ruangan dokter Afandi, Mama Shela menyeret kakinya menuju ke ruang perawatan anaknya. Namun ia tak lantas masuk ke dalam ruangan tersebut. Mama Shela mendudukkan dirinya di kursi tunggu depan ruang perawatan anaknya dan menangis tergugu disana.


"Bu!" Pak Yanto yang tadi pagi-pagi sekali pamit untuk pulang sudah kembali lagi ke rumah sakit. "Apa nggak sebaiknya ibu pulang dulu biar saya yang jaga di sini." Pak Yanto merasa kasihan melihat keadaan majikannya tersebut. Namun mama Shela menggeleng.


"Saya masuk ke dalam dulu pak." Pak Yanto mengangguk. Mama Shela terlebih dahulu mengusap air matanya sebelum masuk ke dalam ruang perawatan anaknya.


"Ma, mama dari mana saja?" Radit yang sudah sadarkan diri sejak tadi merasa khawatir saat melihat mamanya masuk ke dalam ruang perawatannya. Perlahan mama Shela mendekati anaknya.

__ADS_1


"Kenapa gak cerita kalau kamu sakit sayang." Mama Shela tak kuasa menahan air matanya. Akhirnya luruh lagi air matanya yang tadi sudah sempat mengering. Mama Shela mengelus kepala anaknya.


"Maaf ma, aku gak mau mama khawatir." Radit menggenggam tangan mamanya erat.


"Apa Laras tau?" Radit menggeleng.


"Sejak kapan?"


"Sebelum Laras melayangkan gugatan cerai ma."


"Berarti saat itu Laras masih menjadi istri kamu." Radit mengangguk. "Terus kenapa gak cerita sama dia?"


"Radit gak mau membuatnya khawatir ma."


"Ya sudah, semua sudah terjadi. Yang penting sekarang kamu harus semangat untuk sembuh, demi mama." Mama Shela mengusap air matanya seraya memberikan senyum terbaiknya kepada anaknya itu untuk menumbuhkan semangat Radit. Radit mengangguk membalas senyuman mamanya.


*****


Dok.. dok.. dok..


"DADDY, MOMMY!" Teriak Gerry dan Jerry menggedor pintu kamar hotel orang tuanya. Ya, semalam mereka semua menginap di hotel tempat Shasa dan dokter Andrew melangsungkan resepsi pernikahan.


Sudah pukul tujuh lebih namun mommy dan daddy-nya tak kunjung menyusul untuk sarapan. Akhirnya kedua balita kembar tersebut dengan di dampingi oleh suster Elsa pengasuhnya, kembali naik ke atas untuk mencari kedua orang tuanya. Suster Elsa yang dulu merawat Shasa di masa kehamilan sekarang berganti menjadi pengasuh si kembar. Karena Shasa sudah merasa nyaman dan percaya dengan suster Elsa, jadi ia tak ingin mencari baby sitter lainnya.

__ADS_1


Ceklek!


"Daddy!" Gerry dan Jerry langsung ingin menyerobot masuk saat melihat daddy-nya membukakan pintu. Namun dokter Andrew segera mencegahnya, karena saat ini istrinya masih tidur dan dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun. Hanya tertutup oleh selimut saja.


"Eits, mommy masih tidur. Jadi gak boleh di ganggu." Entah sampai jam berapa mereka semalam bertempur.


"Tapi mommy dan Daddy tudah di tundu di bawah untuk talapan." Gerry sang kakak menyampaikan apa yang tadi di sampaikan oleh Omanya. Usianya yang baru menginjak tiga tahun membuatnya belum terlalu lancar berbicara alias cadel.


"Iya, nanti kalau mommy sudah bangun Daddy dan mommy akan turun untuk sarapan. Sekarang kalian sarapan saja dulu." Gerry dan Jerry nampak cemberut.


"Sus El, bawa anak-anak ke bawah biar mereka sarapan dulu nanti saya akan nyusul kalau istri saya sudah bangun." Dokter Andrew beralih menatap suster Elsa. Suster Elsa mengangguk.


"Baik dok!" Suster Elsa tetap memanggil dokter Andre dengan sebutan dok, meskipun dokter Andrew sekarang sudah menjadi majikannya. Karena dulu suster Elsa adalah salah satu perawat yang bekerja di rumah sakit yang sama dengan dokter Andrew. Mau tak mau akhirnya Gerry dan Jerry kembali ke bawah bersama suster Elsa.


*****


*****


*****


*****


*****

__ADS_1


Lope-lope sekebun Pare 😘😘ðŸĪŠðŸĪŠ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕☕ðŸŒđðŸŒđ


__ADS_2